- Komunitas Blogger Bekasi - http://bloggerbekasi.com -

MEREVOLUSI PENDIDIKAN DI INDONESIA – Bagian 2

Posted By purwalodra On October 23, 2009 @ 9:20 AM In Pendidikan | No Comments

Oleh. Dr. M. Eko Purwanto, SE, MM / (Purwalodra) [1]

(Staf Bidang Pendidikan YW Al Muhajirien Jakapermai - Bekasi)

“Education is for improving the lives of others and for leaving your community and world better than you found it”, Martin Wright Edelman.

Masukan Dalam Rangka Mengatasi Masalah

Paling tidak solusi itu lahir dari Sekolah-sekolah Perguruan, Fakultas Keguruan atau Jurusan Keguruan. Mahasiswa Keguruan seharusnya menjalani pelatihan secara rutin dan intensif, sebelum menyelesaikan pendidikannya. Selama proses perkuliahan, mahasiswa calon Guru ini dituntut secara teoritis maupun praktis agar mampu memperbarui dan meningkatkan keterampilannya berkomunikasi dengan baik kepada audiens/public, serta terus-menerus mengasah kemampuan mentalnya sebagai seorang pendidik, ini dilakukan sejak masih semester pertama.

Pemerintah dan masyarakat, perlu terus-menerus mendorong secara berkala untuk melakukan lokakarya-lokakarya dan kursus-kursus yang bertujuan mengevaluasi dan memperbaiki sistem pendidikan yang diterapkan sekarang. Kita masih harus banyak melakukan perbaikan dalam metodologi pengajaran yang dapat meningkatkan dan mempertajam ketrampilan para Guru itu sendiri. Sayangnya tujuan dan niat yang tertanam pada Guru-guru kita saat ini dalam mengikuti lokakarya, kursus, dan seminar-seminar, hanya untuk mendapatkan kredit poin dalam rangka sertifikasi.

Persoalan pelik yang sejak awal menjadi polemik, adalah Konten dan kurikulum dalam sistem pendidikan kita. Konten dan kurikulum masih perlu evaluasi dan monitoring untuk lebih dapat diterapkan oleh para Guru di sekolah. Konten dan kurikulum kita belum bisa secara mudah dimaknai oleh para Guru. Sehingga perlu diupayakan restrukturisasi dan kebijakan ditingkat kabupaten/kotamadya.

Dengan perampingan birokrasi dan kebijakan pendidikan hanya sampai di tingkat Kabupaten/Kotamadya saja, memungkinkan penyelesaian masalah-masalah pendidikan akan mudah dan cepat tertangani secara efektif. Masyarakat kita perlu dididik kembali untuk menghargai birokrasi, tidak dengan biaya (cost), sehingga kuncuran dana-dana pendidikan tidak banyak terserap pada lubang-lubang yang tidak semestinya. Menghilangkan pungutan sekecil apapun, selain operasional kegiatan belajar-mengajar (KBM), sangat dibenarkan. Karena pungutan sekecil apapun yang tidak bertujuan untuk proses kegiatan belajar mengajar, tidak akan pernah efektif dalam menjalin komunikasi pendidikan di dalam masyarakat.

Selanjutnya, pemerintah dalam beberapa tahun terakhir ini secara terus-menerus mengkampanyekan pendidikan kejuruan. Namun, nampaknya masyarakat belum sepenuhnya menyadari akan pentingnya pendidikan kejuruan ini. Masyarakat pengelola pendidikan pun belum bersemangat mendirikan sekolah-sekolah kejuruan, mungkin disebabkan karena biaya, sehingga sekolah kejuruan masih belum banyak diminati masyarakat. Hal ini akan memberi dampak kesenjangan yang lebih besar antara dunia industri dan akademisi.

Masyarakat industri juga dituntut untuk lebih menyadari pentingnya pendidikan kejuruan. Masyarakat industi tidak bisa fokus untuk dirinya sendiri, mereka harus ikut serta mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri saat ini, sehingga kesenjangan antara dunia pendidikan dan industri bisa lebih teratasi. Keuntungan dari dunia industri tidak serta-merta dijadikan investasi usaha, mereka harus memberikan support kepada sekolah-sekolah kejuruan untuk lebih memperkuat aspek usahanya.

Dalam hal ini, Pemimpin perusahaan memiliki peran penting dalam pendanaan sistem pendidikan kejuruan ini. Mereka banyak menghasilkan uang untuk diri mereka sendiri, tanpa membayar gaji karyawannya secara wajar, mereka tidak membayar dividen kepada pemegang saham mereka, yakni masyarakat pengguna produk-produk industrinya, kondisi ini terlihat pada Cost Social Responsibility (CSR) di masing-masing perusahaan. Masyarakat kita justru di ’iming-imingi’ dengan hadiah-hadiah milyaran rupiah dan barang-barang mewah lainnya, dengan harapan hasil penjualannya terus meningkat. Kemudian, apa yang mereka berikan kepada pendidikan dan masyarakat kita ? Ini adalah fakta, bahwa perusahaan-perusahaan kita, baik besar atau kecil, belum sepenuh hati untuk memajukan dunia pendidikan di Indonesia. Jika masayarakat industri kita sudah terpanggil untuk benar-benar memajukan konsumennya (masyarakat), maka hal ini akan sangat membantu terselenggaranya sistem pendidikan, yang dapat menyetarakan sistem pendidikan kita dengan standar global. Oleh karena itu, sangat penting kita melakukan reformasi dalam dunia pendidikan dari waktu ke waktu, sebagai alat untuk melakukan perubahan besar dengan cepat.

Selanjutnya, berkenaan dengan kualifikasi profesional seperti teknik, manajemen, kedokteran, komputer dan sebagainya, para Mahasiswa harus benar-benar terlibat dalam proses pendidikan dan proyek-proyek praktis pekerjaan. Kita perlu memperbaiki, pelaksanaan praktek kerja lapangan yang benar-benar nyata, yang mampu membekali ketermpilan dan mental siap bekerja, dari tahun pertama sampai tahun terakhir. Kegiatan tersebut akan membangun percaya diri mahasiswa sehingga mereka dapat memahami kebutuhan masyarakat industri.

Terakhir, pendidikan umum negeri yang bebas biaya untuk wajib belajar 9 tahun, agar bisa dilaksanakan merata sampai di seluruh Kabupaten/kota di Indonesia. Dan dalam rangka membantu mahasiswa yang tidak mampu, pemerintah sebaiknya selain menyediakan beasiswa bagi mahasiswa yang berprestasi, juga menyediakan anggaran pinjaman pendidikan tanpa bunga bagi mahasiswa yang kurang mampu.

Dengan demikian kita bisa memaknai pendidikan sesuai dengan pernyataan William Butler Yeats, bahwa “Pendidikan bukan mengisi ember, tapi menyalakan api”. Pendidikan harus mampu menyalakan pikiran para siswanya dan harus memindahkan siswa dari zona nyaman ke zona yang efektif. Para siswa di zona nyaman tidak akan bisa mencapai sesuatu yang diharapkan oleh dunia pendidikan, sebanyak siswa dalam zona efektif.

Kesimpulan

Ada kebutuhan yang kuat untuk merampingkan birokrasi sistem pendidikan sekarang. Masalah-masalah dalam sistem pendidikan kita perlu ditangani segera, melalui komunikasi pendidikan antara Komite Sekolah, Dewan Pendidikan dan Diknas setempat. Pendidikan seharusnya fokus kepada moral/etika, sosial, kejuruan dan aspek akademis. Sebuah bangsa yang kuat hanya dapat dibangun bila ada pendidikan karakter yang kuat. Seperti yang ditegaskan oleh Abraham Lincoln, “Karakter itu seperti pohon dan reputasi seperti bayangannya. Bayangan adalah apa yang kita pikirkan itu; pohon adalah hal yang nyata “.

Oleh karena itu, esensi dari setiap pendidikan adalah karakter yang kuat. Pendekatan perubahan yang revolusioner dalam sistem pendidikan sekarang adalah tuntutan waktu. Kita harus secepatnya membangun sebuah bangsa di mana anak-anak kita memiliki visi untuk berpikir di luar batas-batas geografis mereka. Harus ada ruang lingkup bagi para siswa untuk mengembangkan intelektualitas, memperkuat pikiran dan membuat mereka untuk berdiri di atas kaki sendiri. Sudah teraplikasikah kebutuhan ini dalam kelas-kelas di sekolah kita melalui penerapan KTSP ?

Bekasi, 12 Oktober 2009


Article printed from Komunitas Blogger Bekasi: http://bloggerbekasi.com

URL to article: http://bloggerbekasi.com/2009/10/23/merevolusi-pendidikan-di-indonesia-%e2%80%93-bagian-2.html

URLs in this post:

[1] Dr. M. Eko Purwanto, SE, MM / (Purwalodra): http://www.purwalodra.com/

Copyright © 2009 Komunitas Blogger Bekasi : http://www.bloggerbekasi.com. All rights reserved.