Menonton film Emak Ingin Naik Haji (eminaji) seolah kita menonton potret kehidupan sekitar yang penuh dengan ironi-ironi. Kita seolah ditampar dan dipaksa untuk melihat sekeliling kemudian wajib mengamini bahwa ironi-ironi ini terjadi di masyarakat kita. Dan Aditnya Gumay berhasil meramunya dalam film ini.
Eminaji adalah film pertama Aditya setelah vakum selama 5 tahun. Meski demikian, tidak membuat Aditya kehilangan ciri khasnya. Meski ini film drama, namun Aditya bisa menyelipkan adegan-adegan yang membuat ujung-ujung bibir ini saling menjauh secara bersamaan ke arah yang berlawanan. Adegan-adegan kocak yang ada di film ini menurut saya sangat Aditya. Hidup dan segar!
Aditya tidak perlu menghadirkan sosok perempuan gendut yang selalu mengemil dan dijadikan bahan olok-olokan untuk membuat penonton tertawa. Tidak juga harus menyulap seorang laki-laki normal untuk berperan sebagai bencong guna memancing gelak tawa. Tidak! Aditya tidak menggunakan itu. Aditya cukup bermain pada kata-kata yang bisa membuat penonton tersenyum. Tidak mengherankan, karena jauh sebelum ini, Aditya pernah menggarap Lenong Bocah yang memang ber-genre komedi.
Tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa film ini lengkap! Film ini bisa membawa kita untuk tersenyum, lalu tak lama kemudian kita dipaksa untuk menitikkan airmata, setelah itu kita harus berkali-kali menahan nafas karena adegan yang disuguhkan membuat penonton tegang. Jarang ada film Indonesia yang bisa mengabungkan ketiga hal tersebut dengan baik.
Dibanding beberapa film bernafaskan agama yang pernah saya tonton, film ini memberi ‘oleh-oleh’ jauh jauh lebih banyak.
Dalam film ini, kita bisa melihat bagaimana kesetiakawanan sosial yang dicontohkan oleh Emak. Kita juga bisa melihat tentang hubungan Emak dan Zein, anaknya. Hubungan Ibu dan anak yang sangat akrab. Sungguh, keakraban ini mulai sulit kita jumpai di masyarakat dewasa ini.
Secara keseluruhan, saya mengatakan film ini sangat luar biasa! Meski demikian, tetap saja ada satu dua yang menurut saya kurang pas. Salah satunya adalah saat Zein minum. Disadari atau tidak, Zein meminum air itu dengan tangan kiri. Meski sebagian dari kita menganggap ini satu hal yang sepele, namun bagi saya, karena ini adalah film yang bernafas ke-Islam-an, maka sejatinya nilai-nilai Islam dipakai di sana. Tidak meminum dengan tangan kiri.
Selain itu, ada juga yang mengganjal bagi saya, yaitu saat dilantunkannya talbiyah. Talbiyah yang dilantunkan dengan iringan melody memang bukan hal yang baru di Indonesia ini. Masyarakat kita bahkan menciptakan irama-irama tersendiri saat melantunkan talbiyah. Hal ini sering saya temui saat walimatussafar. Masyarakat melantunkan talbiyah bersama-sama dengan irama tertentu.
Demikian juga dalam film ini.
Namun, telinga saya terusik saat mendengar talbiyah tersebut “dipotong” di tempat yang tidak pas. Saya berkhusnudzon bahwa ini adalah kesalahan editing. Wallahu a’lam.
Meskipun demikian, ini tidak mempengaruhi penilaian saya akan film Emak Ingin Naik Haji.
Untuk itu…. saya berani memberikan EMPAT BINTANG untuk film ini.
Akan tetapi, apabila saya mendapatkan informasi bahwa ada penonton yang tergerak hatinya untuk memberangkatkan ibu/bapaknya untuk menunaikan ibadah haji, maka saya akan memberikan SEPULUH BINTANG untuk film ini! Karena film ini sudah menginspirasi orang untuk berbuat kebaikan.
Saya ingin sekali memberikan 10 bintang itu. Anda kah orang yang tergerak untuk memberangkatkan orang tua untuk berhaji setelah menonton film ini? Saya berharap iya. Saya tunggu infonya.
——-
Foto dari sini : http://majalahmadina.wordpress.com/












Salam kenal untuk Bunda Elly… Review yang sangat menarik.. Jadi gak sabar pengen nontonnya…
[Reply]
Pertama kali meliat trialnya di youtube saya penasaran kepingin liat filmnya, rasa penasaran itu bertambah setelah membaca artikel ini. Mudah-mudahan seperti harapan Bundaelly, film ini akan banyak menginspirasi penontonnya untuk menhajikan orang tuanya. Semoga……………………
[Reply]
Sejak keluar infonya di tivi, udah kebelet pengen nonton, bener2 ga sabaran deh.
KEtambahan lagi ada resensi positif begini, semakin napsu dot com hehehe
Terima kasih ya bu
*be-blog adain NONBAR film ini dong, pasti seru deh hehehe*
[Reply]
belum menonton pilem ini….
rivew yg menarikkk…
[Reply]
review yabg menarik, gak sabar ingin menontonnya
[Reply]