Putih:
- Riri Riza bisa memenuhi ekspektasi penggemar buku Sang Pemimpi di mana hampir semua momen-momen penting di dalam buku tervisualisasikan dengan baik.
- Peran Arai dimainkan dengan baik oleh Rendi Ahmad. Pancaran matanya kuat, bandel, dan tangguh mengarungi hidup. Saia paling tersentuh dan terpengaruh dengan adegan ia mengingatkan Ikal untuk tak berhenti bermimpi di atas batu besar Pantai Belitong. (momen terbaik versi saia)
- Penambahan adegan bagaimana pertama kalinya Ikal, Arai, dan Jimbron bertemu menjadikan film ini memiliki benang merah yang baik dengan film Laskar Pelangi, tidak seperti bukunya.
- Pesona Belitong dengan lanskap dan pantai yang indah masih membuat penonton terperangah setiap kali ditampilkan sebagai latar film.
- Penggunaan idola lokal, Bang Aji, ditampilkan secara apik sehingga penonton kita tidak merasa malu dengan musik dangdut.
- Meski mendapat peran yang sedikit, Rieke Dyah Pitaloka sangat membantu film ini dalam peran Ibu Ikal.
- Penggambaran budaya Melayu, Tionghoa, dan Jawa yang bisa masuk tanpa gesekan di kehidupan masyarakat Belitong mengingatkan kita akan besarnya Bangsa Indonesia.
- Film yang sangat baik untuk menggambarkan perjuangan anak-anak daerah mengejar mimpi-mimpi mereka di pulau Jawa. Banyak teman-teman saia yang merasakan gambaran mereka dalam peran Arai dan Ikal.
Hitam:
- Menggambarkan semua isi buku tepat seperti apa yang diharapkan dalam film menjadikan film ini tidak memiliki nilai lebih dibanding bukunya. Berbeda dengan film sebelumnya, Laskar Pelangi.
- Adegan-adegan penuh haru terekam kurang nendang seperti ketika Nurmi memainkan biola untuk Arai dan Ikal, Pak Mastur yang menasihati Ikal tentang kebanggaan ayahnya kepadanya, dan yang paling saya harapkan ketika Ikal mengejar ayahnya. Saia yang banjir air mata ketika membaca bukunya, hanya geregetan karena mestinya Riri bisa lebih dramatis lagi membuatnya.
- Peran Ikal remaja yang dilakoni Vikri Setiawan kurang mampu mengeksplorasi kehidupan prihatin yang dialami Ikal di Manggar. Pun perawakannya yang tinggi besar terasa agak mengganggu jika dihubungkan dengan perawakan Zulfani (Ikal kecil), Lukman Sardi (Ikal dewasa), ataupun Andrea Hirata sendiri yang kesemuanya bertubuh kecil dan terlihat agak ringkih.
- Ekspektasi melihat seorang Nazril Irham membawakan Arai dewasa sayangnya masih overshadowed by his role as Ariel Peterpan. Saia masih melihat gaya panggung seorang Ariel ketika melihatnya membawakan peran Arai. Sangat disayangkan.
- Beberapa adegan di buku yang memerlukan perjuangan panjang untuk mencapai keberhasilan, seperti mereka yang akhirnya mampu nonton bioskop, Arai yang berkali-kali memetik gitar guna mendapatkan sang pujaan, dikemas secara datar. Sekali coba dan langsung berhasil!.. Oh no!
- Beberapa konflik yang tercipta (Pak Balia dengan Pak Mustar, Pak Balia yang kehilangan murid kesayangannya) dirasa tidak mencapai klimaks seperti yang diharapkan penonton yang ingin terbawa ke dalamnya.
- Lagu-lagu yang masuk secara manis dan pas di Laskar Pelangi (Sahabat Kecil-Ipang, Tak Perlu ke Ujung Dunia-Gita Gutawa, Laskar Pelangi-Nidji) tidak saia dapatkan di film ini. Padahal seharusnya lagu yang dibawakan Gigi atau Ungu lumayan dapat masuk ke scene film.
- Secara keseluruhan film Sang Pemimpi memang tidak menawarkan konflik yang lebih intens dibanding Laskar Pelangi, sehingga kesan datar saia rasakan setelah selesai menontonnya.
Biar bagaimana pun, film ini tetap film yang baik, melawan mainstream film horor konyol atau film seksi tidak jelas. Semoga sekuel berikutnya, Edensor, Riri bisa menjawab kekecewaan saia. Maju terus, Ri!
Selamat menonton!
Penulis bernama lengkap Dodi Mulyana. Seorang Engineer yang mencintai dunia blogging dengan segenap hiruk pikuknya. Baginya ngeblog adalah jiwanya. Blog pribadi penulis dapat diikuti di Dhodie Weblog
[1] dan project #365Shots-nya di Dhodie's Daily Photos
[2].