Home » Bekasi-Ku » Nostalgila di Bekasi tapi ga bikin gila

Nostalgila di Bekasi tapi ga bikin gila

Bekasi, kota yang telah (nyaris) 28 tahun saya diami. kenapa saya bilang nyaris 28? Well, saya kurang tau kapan tanggal pastinya saya datang dan menetap di kota ini, tapi yang saya yakin adalah ga lama berselang setelah adik saya, anak nomor 3 dikeluarga, lahir kedunia. Adik saya lahir pada oktober 1982, nah setelah dia menghirup udara dunia itulah, kami ber-migrasi ke Bekasi. Pada awalnya saya menetap di jakarta, daerah timurnya yang masih tetanggaan dengan pasar induk kramat jati. Berhubung ayah saya mendapat rumah dinas, jadilah kami pindah ke Bekasi.

Awal 80-an Bekasi masih merupakan kampung kecil, yang mana belum banyak orang tau mengenainya. jadi kalau ada yang bertanya ataupun kami mudik ke kampung halaman ibu di daerah jawa barat, ayah saya selalu menyebut cakung - jakarta timur, bukannya tidak mau mengaku sebagai orang Bekasi, cuma agak jengah *lebih tepatnya “cape”* aja melihat kerutan di kening orang yang bertanya balik, “bekasi? dimana tuh?” lain halnya jika kita menjawab “cakung” atau “jakarta” maka sang penanya pun akan manggut-manggut *entah mengerti atau sekadar manggut-manggut* hehehe..

Eniwei, di kota ini pula saya menghabiskan masa kanak-kanak, pertama mengenal sekolah, pertama mengenal cinta *halaaaah* oia dan pertama kali saya cabut gigi *ughhh.. benci saya mengingatnya, kurang sohib sama yang namanya dokter gigi - sigh* dulu jarak antar rumah masih sangat lenggang, jalan raya depan rumah saya dulu pun terasa lebar… sepi… blm banyak kendaraan, blm ada angkot, angkutan umum pertama yang saya ingat adalah metro mini, itupun ngga melintasi daerah saya tinggal, jadi kalau mau naik angkot kami harus ke jalan raya besar, yaitu jalan raya cakung (lebih dikenal dengan nama jalan raya bekasi). Metro mini bernomor T43 yang melayani trayek podok ungu- pulo gadung *cmiiw* saya kurang yakin, krn waktu itu saya masih terlalu kecil, ini berdasarkan cerita ibu saya aja. Oia, masih banyak sawah waktu itu, kebun-kebun.. bahkan kali (sungai) yang berada tepat dibelakang rumah pun masih suka digunakan utk ibu-ibu mencuci pakaian, riuh-rendah suara mereka yang kadang membangunkan saya yang masih terlelap. selain digunakan oleh ibu-ibu, masih suka ada beberpa penjala ikan yang mencoba keberuntungan mereka di kali itu. entah apa nama kalinya, yang pasti bermuara ke laut xxixixi *ditimpuk* konon, kata ibu saya, kali itu masih jernih, hingga kita bisa melihat dasarnya.

seiring berjalannya waktu, angkot pun mulai masuk desa.. tapi berhubung rumah saya dekat dengan sekolah, jadilah saya tidak menikmati fasilitas itu, beberapa teman yang rumahnya agak jauh, sempat merasakan angkot itu dengan tarif Rp 50,- murah kan…tapi buat kami yang masih SD nominal itu sangat besar pada jamannya. ya iyalah wong Rp 5,- aja masih dapet permen xixixixi kliatan banget saya anak jaman dulu *doh*
tapi akhirnya sempat juga saya merasakan naik angkot, klo ga salah waktu itu saya kelas 6 SD, rute paling jauh saat itu, ke arah pusat pertokoan bekasi, ke toko buku pertama terbesar yang ada di bekasi “Multi Media”, pada jamannya, klo udah masuk situ udah kayak orang paling beken deh… toko buku terbesar terlengkap, nyari apa aja ada *hehehe lebay, ga mungkin kan klo nyari cabe ada well, ada juga siy krn didepan toko buku itu mangkal tukang gorengan hehehehe- ngeles*. Pusat pertokoan bekasi, yang lebih dikenal sebagai “proyek bekasi”, pada waktu itu merupakan jantungnya perniagaan, selain toko-toko ada juga apotik *mungkin yang pertama ada dibekasi - cmiiw*, klinik dokter bersama, optik.. ya lengkap deh, mungkin karena letaknya yang ga jauh dari stasiun, makanya ramai. saya selalu tertarik utk pergi kesana, banyak hal menarik yang bisa saya liat. ya secara dulu blom ada mall atau plasa, jadi eskalator yang menghubungkan antar lantai di pertokoan masih merupakan barang mewah yang saya rasakan pada waktu itu.

Selang waktu berjalan, Bekasi pun mengalami pembangunan yang pesat.selain proyek bekasi, ada juga pusat perbelanjaan yang lengkap, yaitu Rama supermarket, letaknya tepat di seberang kantor walikota sekarang. Selain memiliki supermarket, rama ini memiliki gedung bioskop, pujasera dan pusat mainan yang lengkap pada jamannya. Masyarakat bekasi pun makin bertambah, makin dinamis, bila dulu orang selalu mengkerutkan kening bila mendengar kata “bekasi” sekarang sudah mulai “ngeh” dengan kata itu. Dampaknya semakin banyak pula yang berdatangan ke kota ini, bila dulu hanya dikenal sebagai kota kabupaten, sekarang sudah meningkat menjadi kotamadya. Bila dulu hanya punya satu pusat perbelanjaan, sekarang bukan hanya satu tapi banyak. Sudah mulai menyandang status sebagai “buffer” ibu kota, mulai akrab dengan istilah macet, mulai terdengar adanya kriminalitas. Kota yang *menurut saya* jumlah jalan bagusnya mudah dihitung dengan jari :D , angkotnya yang seenaknya, pengendara yang melimpah-ruah.
Tapiiiiii…………… saya cinta kota ini, dimana saya masih bisa mendengar kokok ayam di pagi hari *wlo itu punya tetangga*, masih bisa merasakan udara sejuk, masih bisa menjadi saksi melihat hamparan hijau menjadi hamparan abu-abu, kota - yang membuat saya harus berpikir keras akan menempuh jalur mana jika mau keluar rumah utk menghindari macet, masih bisa naik becak……dan yang saya suka dari kota ini sebenarnya amat sangat sederhana bahkan mungkin lucu.. yaitu adanya “counter” pada lampu merah yang membuat saya bisa mengira-ngira kapan harus ngebut utk mengejar lampu hijau, atau kapan harus santai karena sebentar lagi lampu merah menyala heheheh *piss pak polisi*

Print Artikel Ini Print Artikel Ini
Posted by on Feb 12 2010. Filed under Bekasi-Ku. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

4 Comments for “Nostalgila di Bekasi tapi ga bikin gila”

  1. Seru jadi warga Bekasi kan, girl.

  2. hmmm… jd flash back neh…. Multi Media jd satu2nya toko buku paling populer saat itu…. jgn2 satu angkatan neh ama gw hehehheh……

  3. [...] 4605979. Reply. Leave a Reply. Click here to cancel reply. Name (required) Mail (will not be …Nostalgila di Bekasi tapi ga bikin gila | Komunitas Blogger …Bekasi, kota yang telah (nyaris) 28 tahun saya diami. kenapa saya bilang nyaris 28? Well, saya [...]

  4. Terima kasih buat semua yang sudah mendukung SeBUAI sampai akhirnya Pembukaan Perpustakaan Anak Jalanan bisa terlaksana. Terima kasih sebesar-besarnya untuk Allah SWT atas berkah & rahmatNya,buat orang tua kami yang mendukung & mendoakan, buat Pa Harun yang ngga pernah bosen membimbing & selalu di repotkan oleh SeBUAi, buat media Radar Bekasi yang udah menjadi ‘teman dekat’ SeBUAI, Ibu Ajeng , Short Prom DressesMba Mila, Asyaroh, Bang Adit dan Maryadi Aris Munandar yang menyempatkan hadir di acara Pembukaan Perpustakaan Anak Jalanan ini.

Leave a Reply

Login

Login Anggota
Lost Password?

Amprokan Blogger | Temu Blogger Nusantara

Banner Komunitas

Komunitas Blogger Bekasi

Copykan Kode dibawah ini ke Blog/Website Anda!

© 2014 Komunitas Blogger Bekasi. All Rights Reserved. Log in - Designed by Gabfire Themes