Menakar Calon Bupati Bekasi 2012-2017
Pemilu kepala daerah Kab. Bekasi, kira-kira 1,6 tahun lagi. Tahun 2012, DR. Sa’dudin, MM selesai masa bakti. Kasak-kusuk di bawah meja pun sudah terdengar. Satu dua orang diam-diam mulai menggalang kekuatan. Ada yang menggunakan jalur rresmi, partai. Ada yang menggunakan jalur pembentukan ormas. Ada juga yang menggunakan dua-duanya.
Ditinjai dari komunikasi politiknya. Ada yang sekadar bisik-bisik. Ada juga yang bicara sedikit terbuka.
Persoalannya kemudian, sikap tidak terang-terangan ini memunculkan sejumlah persoalan. Diantaranya, publik tidak unya waktu banyak untuk melakukan evaluasi. Uji publik. Sehingga yang muncul kemudian adalah sentimen emosional. Tidak rasional. maksudnya, bisa jadi milih karena memang sag calon ini berasal dari partainya. Milih karena sentimen ke daerahan dan lain sebagainya. Ujungnya, pemilukada yang didedikasikan sebagai proses kelahiran adanya hanya berdarah-darah doang. JUga ongkos yang mahal buat ‘bidannya’. Tapi, anak yang lahir cacat. Cacat politik, cacat sosial.
Padahal esensi dari Pemilukada itu lahir pemimpin-pemimpin yang punya kompetensi, profesional dan amanah. Uhhhh…, sejauh publik masih menyangsikan Pemilukada bisa menghasilkan pemimpin berkualitas.
Di Kab. Bekasi sendiri, beberapa nama disebut. Mulai dari incumbent baik Bupati Sa’dudin maupun wakil Bupati Darip Mulyana, Ketua DPRD, Anggota DPRD seperti Daeng Muhammad (Ketua DPD PAN) dan H. Ali bin H. Amin (Ketua DPC PKB) serta Jejen Sayuti (Ketua DPC PDIP). Bahkan, Eep Syaefullah Fatah, pengamat politik yang berasal dari Cibarusah, Bekasi juga disebut-sebut. Tapi, secara pribadi saya pernah bicara ke Kang Eef,kebetulan satu almamater, dia gak terlalu berminat. itu tiga tahun yang lalu. Entah sekarang. Saya pikir memang level kang Eep itu udah sekelas menteri. Bukan lagi Bupati. Dari jalur perseorangan belum nongol neh…
Bupati Bekasi pasti menggunakan instrumen PKS sebagai modal politik. Dan, kini Sa’dudin tengah membelai-belai ormas PASIBAN (Paguyuban Bekas Banten), diperkirakan akan dijadikan moda sosial untuk meraup elemen orang Bekasi dan Banten. Modal Financial, saya kira udah gak masalah. Cukuplah…..
Kans Sa’dudin mengulang kemenangan lumayan besar. Walau catatan-catatan merah masih menggelayut. Diantaranya secara signifikan kursi PKS di DPRD Kab. Bekasi tidak nambah. Tetap 8 kursi. Padahal yang periode sekarang jumlah anggota dewan 50 orang. Secara prosentase malah turun. Dari segi prestasi, publik sangat mengerti bahwa Bupati saat ini biasa-biasa saja. Sejumlah prestasi yang direbut, publik tahu bahwa itu lebih karena kinerja dari birokrat anak buahnya. Namun, soliditas PKS menjadi kelebihan yang tidak bisa disaingi partai lain. Konon, kalau calon lebih dari dua, PKS bisa kembali berkuasa…..
Wakil Bupati Darip Mulyana punya realitas yang khusus. DIa terpilih sebagai Ketua DPD Partai Golkar hasil Musda Tambun. Namun keputusan itu dianulir oleh DPW Jawa Barat yang kemudian mengeluarkan SK untuk Neneng Hasanah Yasin. Walhasil, Darip harus memenangkan pertarungan di internal. Baru keluar kandang untuk bertarung di Pemilukada. Nah, kalau Neneng Hasanah Yasin yang menang. Ada yang menyebut-nyebut, Neneng akan direkrut jadi B2 mendampingi Incumbent. Tapi, ini baru kabar angin lho….
Kans Darip masih fifty-fifty. Untuk maju saja mash fifty-fifty. Bergantung banyak hal. Diantara kondis internal tadi. Seandainya Darip lolos dari lubang jarum, ia akan menjadi kuda hitam yang patut diperhitungkan. Karakter berani melakukan terobosan secara praktis-pragmatis kerap membuatnya melaju. Darip pernah mencalonkan jadi wakil walikota Bekasi berpasangan dengan Toto Subekti. Tapi kalah. Terus, bermanuver ke PKS dan menang di Kabupaten. Prestasi ini setingkat kota dan kab. Bekas belum ada yang menandingi.
Daeng Muhammad. Walau namanya pake Daeng. Dia bukan orang Bugis. Daeng Muhammad asli Pebayuran. Mirip sama nama yang menggunakan nama Mas Aji Santosa atau Raden Pardede atau Franky Raden. Mas, Raden di sini bukan variabel budaya. DI pilkada yang lalu, Daeng pernah maju. Jadi B2 dari Pak Wikanda. Tapi, kalah oleh Pasangan SADAR (sebutan untuk Sa’dudin Darip).
Page 1 of 2 | Next page