Manunggaling Kawula lan Gusti

Manunggaling Kawula lan Gusti

Dalam literature dan khasanah jawa cukup dikenal seorang tokoh Islam yaitu Syekh Siti Djenar, yang sangat kontroversi dengan pahamnya Wihdatul Wujud atau Manunggaling Kawula lan Gusti.

Suatu pemahaman yang saat itu telah melampaui batas pemahaman yang berlaku, wujud dari pemahaman yang perlu dikaji hingga saat ini.

Banyak pihak yang mengkaitkan pemahaman ini dengan pemahaman sebelumnya yang dinyatakan oleh Al-Halaj jauh sebelumnya

Sangat menarik untuk ditelusuri kembali sehingga tercapai suatu pemahaman yang sesungguhnya/holistik/konfrehensif.

Manunggaling kawula lan Gusti adalah bentuk pemahaman dimanusia bersatu dengan TUHAN-nya.

Kembali kita ingat bahwasannya manusia adalah “Herritage/Turunan” dari Allah Aja Wajalla.

Salah satu dasarnya adalah ayat yang mengatakan bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan mengikuti fitrah-NYA. Seperti apa fitrah Allah maka seperti itu pulalah fitrah manusia yang melekat semenjak dia diciptakan /dilahir di dunia ini.

Qs Ar-Ruum (30) ayat 30:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama, fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Paham yang sungguh-sungguh sulit untuk dimengerti saat itu dan mungkin juga saat ini.

Kebersatuan antara manusia dengan TUHAN-nya, suatu paham yang memang benar-benar gila atau paham yang memang benar-benar apa adanya.

Kita semua tahu bahwa Allah adalah pencipta sedang manusia adalah manusia ciptaannya yang karena telah ditiupkan RUH-NYA sehingga manusia itu HIDUP..

Dalam Al-Quran dijelaskan secara gamblang bahwa TUHAN:

- Berbeda dari seluruh makhluk yang ada di semesta alam

- Tidak melahirkan dan dilahirkan

- Tidak makan dan tidak tidur

- Mengetahui segala sesuatu baik dihati, digunung, laut dan sebagainya

Dari dasar keterangan diatas cukup jelas bahwa TUHAN berbeda dengan ciptaan, sehingga paham manunggaling kawula lan gusti cukup membuat banyak persepsi yang terbentuk.

Kita coba belajar untuk bisa sampai pada kajian yang mendekati pemahaman yang sesungguhnya tanpa menimbulkan perdebatan yang berkelanjutan.

Untuk bisa memahaminya mungkin penjelasan yang bisa mendekati dengan perumpamaan yang bisa diterima akal/pikiran kita

Semisal kita ambil satu cangkir air hangat dengan satu sendok gula pasir.

Kita meng-andaikan air putih itu Allah sedangkan gula adalah manusia, dalam satu sendok gula terdapat unsur air yang terkandung didalamnya.

Jika satu sendok gula dicampurkan dengan satu cangkir air, kemudian kita aduk sehingga gula benar-benar terlarut dalam satu cangkir air, dapatkah kita memisahkan gula itu dari air.

Mungkin itulah gambaran dari paham Manunggaling Kawula lan gusti.

Jika perumpamaan ini masih juga sulit untuk dimengerti, mungkin gambaran berikut bisa lebih menggambarkan secara terperinci.

Pernahkan anda sedih yang sesedih-sedihnya, pernahkah anda gembira segembira-gembiranya, pernahkah anda marah semarah-marahnya adakah suatu kalimat yang yang tepat/sesuai/pas yang bisa anda ungkapkan dalam bahasa yang anda gunakan …??

Mungkin tiada satupun kalimat yang mampu untuk menggambarkan perasaan anda tersebut.

Toh… ujung-ujung-nya badan anda yang merasakan dan berinteraksi dengan mengeluarkan air mata.

Apakah orang lain tahu disaat anda menitikkan air mata…. karena bahagia..??, sedih..??, atau marah….??

Itulah kedekatan yang coba dilukiskan oleh seorang Syekh Siti Djenar tentang rasa dan apa yang dialami tentang bagaimana perasaan dekat dengan TUHAN-nya.

Karena TUHAN itu dekat sehingga tak salah dalam Al-Quran di sebutkan bagaimana dekatnya TUHAN dengan Manusia:

Qs. Al-Baqarah (2) 186:

Dan apabila hamba-hambaKU bertanya kepadamu tentang AKU, maka (jawablah) bahwasannya AKU dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang do’a apabila ia memohon kepadaKU, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) KU dan hendaklah mereka beriman kepadaKU agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Makna dekat adalah makna kedekatan seorang Manusia kepada TUHAN-nya dalam kadar kedekatan secara kualitas…. Bukan dzat.

Ada 5 jenis kedekatan yang dituliskan dalam Al-Quran, sehingga kita dapat memahaminya.

1. Meliputi

Dalam banyak ayat Allah mengatakan bahwa Dzat, Ilmu, Rahmat dan Kekuasaannyameliputi segala sesuatu dan menunjuk kepada eksistensi Tunggal.

Ketika Allah mengatakan salah satu sifatNya meliputi makhlukNya, maka sebenarnya seluruh sifat-sifat yang lain juga meliputi makhlukNya.

Jadi makna meliputi memberikan persepsi sebagai kedekatan makhluk Tuhannya atau sebaliknya, tetapi kedekatan yang bersifat UNIVERSAL

2. Bersama

Page 1 of 2 | Next page