Home » Artikel » Mereka itu “Punk-ers” nya Indonesia

Mereka itu “Punk-ers” nya Indonesia

Anak Punk identik dengan tampilan urakan dengan rambut seperti Bulu Babi dilautan atau binatang landak, mereka selalu bertebaran dilokasi-lokasi yang strategis namun gelap minim penerangan lampu kota. Kehidupan siang hari mereka berada dijalan-jalan yang ramai akan para penduduk sedangkan pada malam hari mereka menyepi disudut kota untuk beristirahat sambil menikmati minuman kehidupan mereka. Saya sendiri merasakan kehadiran para anak punk sudah mulai marak beredar di wilayah Pekayon Jaya, setiap diatas jam 9 malam mereka berlalu lalang disekitaran Pekayon Jaya dengan berbagai macam tingkah laku.

Sebenarnya fenomena apa yang terjadi sehingga banyak anak-anak Punk remaja menetas dan bergerombol merayapi jalanan Bekasi?, saya sendiri juga heran, lebih herannya lagi ketika melihat tak sedikitnya kaum hawa yang berada di komunitas mereka. Tampilan nyentrik serba hitam, kemilau piercing ditelinga, tangan serta mulut mereka dan rambut berdiri yang melambangkan keteguhan hidup mereka dijalanan. Apakah mereka jahat?, bisa iya bisa tidak karena dalam situasi tertentu mereka bisa jadi jahat tapi ‘mungkin’ sekali-kali menjadi anak baik. Penghidupan mereka lebih banyak berasal dari mengamen, tidak bisa memainkan alat musik bukan sesuatu yang pantas disesalkan karena hanya bermodalkan telapak tangan, mereka bisa mengamen didalam angkutan umum dengan suara vokal nan Fales dan entah lagu apa yang mereka nyanyikan, pastinya bukan lagu punk.

Tak jarang sebuah kalimat pedas keluar dari mereka jika tidak seseorang pun yang memberikannya uang receh sebagai honor mereka menyanyi didalam angkot, biasanya yang keluar adalah isi kebun binatang atau sebuah kata kotor yang artinya sama dengan kawin. Di usia mereka yang muda-muda tersebut seharusnya melakukan hal yang produktif lebih dari sekedar bernyanyi pada tiap-tiap angkot dengan penghasilan tak lebih dari 50.000 Rupiah sehari. Selain mengamen, memalak juga merupakan kegiatan mereka, sasarannya adalah anak-anak sekolah lugu yang ditiap-tiap saku mereka terdapat uang dari orang tuanya untuk jajan gorengan. mereka juga jahil jika melihat cewek cakep sehabis pulang kuliah atau kerja lewat diantara mereka, siul-siul nakal berisikan kalimat menggoda dan colak colek ala cowok genit menjadikan fenomena yang lazim bagi mereka.

Apa yang ada dipikiran mereka hanyalah sebuah kebebasan hidup, padahal kalau saya lihat, kehidupan mereka seperti dikejar-kejar oleh kematian. Melakukan apapun untuk hidup dan menikmati kebaikan Tuhan yang masih memberikan mereka nafas. Sudah dipastikan jika mereka mencari uang dengan cara seperti itu hanya untuk membeli makanan dan minuman keras, anak Punk disini tidak bisa dipisahkan dari Minuman keras. Kalau bagi saya sendiri, kegiatan mereka lebih membosankan dari kehidupan yang saya jalanin, siang hari cari duit dengan ngamen, dikejar-kejar satpol PP, malak warung atau pelajar, malamnya menikmati hasil jerih payah sambil meneguk intisari. Begitu-begitu saja sampai mereka (mungkin) sadar atas apa yang mereka lakukan saat ini tidak berguna. Berbeda dengan manusia biasa lainnya, bekerja tiap senin-jumat, berwisata bersama keluarga dan menikmati jerih payah mereka dengan penuh suka cita dan halal.

Kemanakan orang tua para anak Punk ini?, sudah tiada kah atau memang ditiadakan karena merasa tidak peduli anak meraka akan menjadi apa nantinya. Apakah ini merupakan sebuah kegiatan yang biasa disebut “Gahoel” atau sebagai indetitas liar diri mereka terhadap dunia yang fana ini. Kita tidak bisa menghentikan diri mereka untuk berkeliaran, kita pun juga tidak bisa menghilangkan jejak mereka karena mereka juga sebagai manusia biasa juga yang butuh kehidupan. Kita hanya bisa selalu waspada atas apa yang akan terjadi nantinya, kita tidak akan tahu apa yang mereka akan perbuat nantinya. Sebenarnya lucu juga, mereka bergaya anak Punk tapi kesehariannya sendiri tidak mendengarkan musik Punk, hanya mendengarkan musik-musik layar kaca yang biasa manggung tiap pagi hari.

Mereka ingin menjadi Punkers di negara barat sana namun minim kreatifitas, anarkis nanggung, kenalakan yang kurang liar dan masih takut ketemu sama orang tua mereka. Ya kalau semuanya serba nanggung, kenapa jadi anak baik-baik saja, siapa tahu bisa jadi karyawan teladan nantinya dan menikmati kehidupan tercukupi daripada harus hidup dijalan dengan perasaan was-was, badan bau, mulut bau dan tidak jelas kedepannya bagaimana. Pukulan keras buat para orang tua yang selama ini cuek terhadap anaknya, tidak peduli akan kegiatan anak mereka seperti apa diluar sana, sing penting bocah’e masih urip.

Print Artikel Ini Print Artikel Ini
Posted by on Nov 20 2011. Filed under Artikel. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply


4 + 7 =

Login

Login Anggota
Lost Password?

Amprokan Blogger | Temu Blogger Nusantara

Banner Komunitas

Komunitas Blogger Bekasi

Copykan Kode dibawah ini ke Blog/Website Anda!

© 2014 Komunitas Blogger Bekasi. All Rights Reserved. Log in - Designed by Gabfire Themes