Pacit dan si Kinyis
Intermezzo Saturday, January 7th, 2012 162 views
Kali ini Si Pacit lari tergopoh-gopoh sambil memasang wajah kebingungan.. “hosh, hosh,hoss….” suara nafasnya nyaring terdengar sampai ujung jalan di pertigaan lampu merah Cilembu. (Cilembu, semacam nama Ubi saja) ))) Bajunya sudah mulai membasah dengan keringat yang terus dialirkan melaui pori-porinya yang setiap detik semakin membesar, memberi kesempatan kepada tiupan angin agar bisa masuk ke dalam saluran darahnya.
“Ah Sialan, gue ga bisa ngejar tu Cewek “ Sambil mengusap keringatnya yang terlihat seperti butiran jagung di kepalanya, Pacit merogoh saku celananya, lalu mengambil sebuah bungkusan Rokok. Seperti kebanyakan pria, rokok adalah salah satu jalan buat mengusir galau, resah, gelisah, bahkan kalau perlu mengusir istrinya, #eh, JLEB.
Suasana saat itu sudah dipastikan (atau dalam praduga) Si Pacit akan mengeluarkan rokok, menyalakan korek, lalu mengisapnya dengan penuh penghayatan. Secara, berlari 2 KM mengejar cewek yang jelas-jelas ga kenal, bukanlah hal yang mudah, apalagi mengingat berat badan si Pacit melebihi standar bentuk tubuhnya. Glek….
Tapi, apa yang terjadi… Bungkusan rokok yang dikeluarkan dalam saku celananya ternyata bukan berisi rokok. Trus apa donk? Si Pacit mengeluarkan gulungan tissue yang diselipkan di dalam bungkusan rokok tersebut. dan tissue tersebut ada tulisan berisikan “Hey Kamu…ayooo, lari terus, bayangkan di depanmu ada seorang cewek cantik, tinggi semampai dengan kulit putih, memberikan senyum kinyis yang manis dari bibir tipisnya, seolah mengajakmu untuk hanyut dalam basuhannya“. lalu si Pacit berkata dalam dirinya….
“Rokok ini ga akan bisa mengalahkan gue, gue harus lari terus ngejar tu cewek biar gue ga meringis terus karena kecapean setiap kali bawa-bawa tubuh yang sangat besar ini. Yah, gue pasti bisa dapetin tu si Kinyis”. dan gue bakalan laporin kalian semua sama Presiden, terutama yang baca tulisan ini. .. karena kalian telah mendukung gue untuk terhindar dari bahaya merokok dan membiasakan hidup sehat” #Eeaaaa…. apa sih Pacit? ga nyambung bener dah ah. Yah, namanya juga si Pacit. kadang waras, kadang ga waras, kadang ga tau juga tu si Pacit emang ada apa gak ada? weks?
Pesan moral yang disampaikan : Rokok tidak baik untuk kesehatan jantung Anda, berbahaya bagi Ibu menyusui dan berbahasa bagi kantong Anda. selamatkanlah sebelum kantong Anda lude )))

cerpen yg menarik, tapi ada ketidakkonsistenan tokoh Pacit. Di cerita lain dikatakan pacit perempuan, tapi disini laki2.
[Reply]
@yankmira Reply:
January 7th, 2012 at 7:23 PM
@Aris Heru Utomo, Pacit masih mencari identitas diri pak
eniwey, makasih
[Reply]
Aris Heru Utomo Reply:
January 8th, 2012 at 6:44 AM
@@yankmira, maksudnya Pacit sekarang ini bencong? #tothepoint
[Reply]
@yankmira Reply:
January 9th, 2012 at 9:40 AM
@Aris Heru Utomo, qiqiqiqq, bisa jadi pak. tergantung mood
[Reply]
hahaha lumayan menarik cerpen nya…
ngmng-nmgng si pacit ni kisah nyata atau fiksi?
[Reply]
@yankmira Reply:
January 9th, 2012 at 9:40 AM
@berita-terbarumu, si pacit lagi menggali dunia fiksi nya nih mas
[Reply]
Si Pacit? Hmmmh, Pacitnya member Beblog. Si Kinyis? Kayaknya bukan member Beblog
Adakalanya kiasan bisa menutup maksud sebenarnya dan melindungi dari kemungkinan upaya verifikasi, namun dalam case lain, to the point juga bisa memberikan hasil yang lebih baik dari sekedar kiasan, soalnya setiap orang bisa juga lho menulis kiasan.
Bisa juga yang tadinya diam jadi ikut menulis kiasan.
#Melanjutkan Hidup & Mencari Nafkah, Biarlah kekecewaan disapu hujan yang turun dari pagi hari.
[Reply]
@yankmira Reply:
January 9th, 2012 at 9:41 AM
@Masim Vavai Sugianto, wah, ini sih kejauahn komennya Mas.. cerita di atas pure fiksi ko. eniwey, makasih tanggapannya.
[Reply]
kisah nyata niy…pengalaman pribadi
[Reply]
@yankmira Reply:
January 9th, 2012 at 12:05 PM
@jasa kontraktor, pengalaman pribadi siapa? jelas bukan saya lho… itu kan hanya coretan fiksi mas. *lagi belajar nulis nih
[Reply]