Home » Resensi » Film N5M: Ampuhnya Mantra “man jadda wajada”

Film N5M: Ampuhnya Mantra “man jadda wajada”

Baso sedang berlari agar tidak terlambat karena jaros (lonceng) sudah berbunyi

Adegan shahibul menara saat menghadap Kyai Rais menyampaikan kritiknya

para pemeran shahibul menara di bawah menara masjid Pondok Madani

Beruntung sekali rasanya saya mendapatkan undangan untuk nobar Film Negeri 5 Menara (N5M) yang diangkat dari novel N5M karya Ahmad Fuadi di Platinum XXI Senayan fx, Selasa 21/02/2012. Bersama penulis novel N5M yang merupakan alumnus Pondok Modern Darussalam (Gontor) Ponorogo Jawa Timur, nobar N5M ini atas undangan dari kru film yaitu Milion Picture melalui Ikatan Guru Indonesia (IGI) Pusat untuk 50 guru se-Jabodetabek. Undangan nobar yang saya terima melalui group IGI ini juga dihadiri oleh beberapa guru dari sekolah di sekitar Jakarta. Hadir juga beberapa tokoh nasional, diantaranya: Taufiq Ismail, Kak Seto, Rhenald Kasali, Ph.D, dan juga ibu (isteri) Mendikbud. Selain itu juga hadir para pemain film N5M, diantaranya Lulu Tobing (pemeran amak/ibunda Alif), Ahmad Fuadi, dan para pemeran shahibul menara (6 orang tokoh pemeran Alif, Said, Dulmajid, Raja, Baso, Atang).

Film yang bergenre pendidikan ini sangat bagus dan cocok untuk kita tonton, karena banyak nilai, inspirasi serta motivasi yang bisa didapat dari film ini. Apalagi bagi yang pernah merasakan belajar di pondok (seperti saya) pasti sekaligus me-remind pengalaman waktu belajar di pondok. Cerita seputar Novel dan filmnya pun pastinya berlatar kehidupan dunia pesantren yang penuh dinamika. Dari mulai penanaman kedisiplinan, kemandirian belajar, kesungguhan dalam meraih cita-cita, hingga interaksi santri dan ustadz. Ada adegan menarik dimana Alif cs (shahibul menara) terkena hukuman kedisiplinan saat terlambat datang ke masjid, humor ala Baso (santri asal Gowa) yang selalu menjadi inspirator bagi kawan-kawannya dan selalu semangat untuk menghafal Al-Qur’an serta bercita-cita menjelajah dunia seperti Ibnu Batutah.

Baso sedang berlari agar tidak terlambat karena jaros (lonceng) sudah berbunyi

Kemandirian dan kesungguhan para shahibul menara (6 orang santri berkawan akrab yang selalu berkumpul di bawah menara masjid Pondok Madani) dalam meraih cita-cita yang terinspirasi dari ramuan mahfuzhot (pepatah bahasa Arab) “man jadda wajada”, (barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti dia dapat) sangat terasa di setiap adegannya. Bahkan film ini juga berisi beberapa kritik sosial. Kesederhanaan ustadz atau guru juga ditampilkan dalam adegan dimana Alif mewawancarai Kyai Rais (pimpinan Pondok Madani) dan ustadz-ustadz dengan pertanyaan “berapa gaji ustadz di Pondok Madani?”. Sang Kyai (diperankan oleh Ikang Fawzi) menjawabnya, “bahwa para ustadz di pondok madani tak mendapatkan gaji. Mereka sudah mewakafkan dirinya untuk berjuang di jalan Allah. Mereka adalah para guru yang ikhlas bekerja demi tegaknya agama Islam. Subhanallah…

Adegan shahibul menara saat menghadap Kyai Rais menyampaikan kritiknya

Kemudian ada juga kisah percintaan ala remaja, ketika Alif nampak terkesima dengan seorang gadis keponakan dari Kyai Rais dan berkat perjuangan dari lima kawannya akhirnya dapat tercapai juga perkenalan dengan gadis bernama Sarah itu sebelum kembali ke kota asalnya di Yogyakarta.

Kritik sosial disuguhkan juga seperti halnya film-film yang lain melalui dialog para pemain yang bermaterikan kritik sosial. Namun yang saya beri applause adalah ketika shahibul menara yang diinisiasi dan dikomandoi oleh Atang (santri asal Bandung) menghadap kyai Rais untuk mengajukan kritik tentang fasilitas di pondok, dan kyai Rais pun memberikan solusi yang bijak kepada shahibul menara untuk memperbaiki fasilitas tersebut dengan peralatan yang disediakan oleh kyai Rais. “Biasanya, orang yang mengkritik itu tau solusinya”, begitu kata kyai Rais yang menyadari bahwa dirinya tidak mengerti soal mesin genset yang sering mati sehingga diserahkan oleh shahibul menara untuk memperbaikinya dengan modal peralatan dari kyai Rais yang dibelinya dengan sistem gadai mobil pribadinya di toko peralatan mesin. Sosok pemimpin yang mementingkan rakyat/ummat di atas kepentingan pribadinya.

Dalam pidato sambutannya kyai Rais menyampaikan bahwa Pondok Madani bukanlah tempat untuk belajar saja, melainkan untuk mendidik para santri menjadi kader-kader pemimpin bangsa dan ummat. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pesantren bukan hanya mencetak para ahli agama saja, namun juga ahli teknologi dan lain-lainnya untuk kemajuan bangsa dan ummat Islam.

para pemeran shahibul menara di bawah menara masjid Pondok Madani

Begitulah sekelumit cuplikan adegan yang disutradarai Affandi Abdul Rachman dan sebagai penulis skenarionya mas Salma Aristo. Sebetulnya masih banyak yang ingin saya ceritakan (resensi), namun biar penasaran silahkan lengkapnya nonton aja film Negeri 5 Menara di bioskop-bioskop yang akan rilis mulai tanggal 1 Maret 2012. Salam “man jadda wajada”.

simak juga ceritanya di Fb Negeri 5 Menara

http://abuabbad.wordpress.com

 

Print Artikel Ini Print Artikel Ini
Posted by on Mar 5 2012. Filed under Resensi. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Reply

Login

Login Anggota
Lost Password?

Amprokan Blogger | Temu Blogger Nusantara

Banner Komunitas

Komunitas Blogger Bekasi

Copykan Kode dibawah ini ke Blog/Website Anda!

© 2014 Komunitas Blogger Bekasi. All Rights Reserved. Log in - Designed by Gabfire Themes