Kenangan KKN di Pulau Bangka (2): Negeri Timah ,Lada Putih dan Madu Hitam
Desa Ranggas terletak di daerah Bangka bagian Selatan, bagian dari Kecamatan Toboali. Di Bangka bagian selatan banyak ditemui kolam (penduduk menyebutnya kolong) bekas galian timah yang tidak terpakai lagi. Penduduk juga tidak berani menggunakan air dari kolong karena dikhawatirkan mengandung logam bekas galian timah. Ada rasa prihatin menyeruak menyaksikan tanah-tanah itu tak berguna lagi setelah isinya dikuras habis oleh penambang sejak jaman Belanda hingga masa PN Timah Bangkrut.
Bila kita membuka lembar sejarah, penambangan timah di Bangka sesungguhnya sudah dimulai sejak masa Hindia Belanda tahun 1709 di kecamatan Toboali. Belanda pun akhirnya menguasai penambangan timah di Bangka dengan membentuk perusahaan “Banka Tin Winning Bedrijf” (BTW).di Belitung, Gemeeenschappelijke Mijnbouw Maatschappij Biliton (GMB) dan di pulau Singkep , NV Singkep Tin Exploitatie Maatschappij (NV SITEM). Ketika masa kemerdekaan, pemerintah menasionalisasi ketiga perusahaan tersebut dan kemudian digabung menjadi PN Timah dan akhirnya menjadi PT tambang Timah.. Ketika kami melakukan KKN. PT Tambang Timah sudah menutup operasi di bumi Bangka. Tapi masih ada perusahaan yang mengelola timah di kota kecamatan Koba, yaitu PT Kobatin
Ketika kandungan Timah masih melimpah dan harganya masih bagus, Pulau Bangka mengalami kejayaan. Namun ketika cadangannya mulai menipis dan hargapun goyah, yang tersisa hanya hamparan kolong tak berguna. Mustahil rasanya untuk meminta pemerintah untuk menguruk kolong-kolong besar itu agar kembali dapat ditanami oleh penduduk setempat. Apa yang terjadi di Bangka, mungkin akan terulang kembali di Kalimantan dan Papua yang sekarang habis-habisan dikeruk oleh para pengelola tambang. Gunung-gunung di Papua yang tadinya tinggi menjulang, kini menjadi lembah dalam. Mungkin 20 tahun lagi, lembah-lembah itu akan menjadi danau-danau raksasa yang tak berfungsi karena bahaya kandungan logam di dalamnya.
Setelah masa keemasan timah surut, bumi Bangka masih memiliki kekayaan bumi yaitu lada putih (Muntok white pepper). Sama seperti timah, lada putih Bangka sudah jadi primadona sejak jaman VOC menguasai bumi pertiwi. Sebagian besar penduduk di desa Ranggas dan beberapa bagian Bangka selatan lainnya hidup sebagai petani lada. Mereka memiliki kebun yang lokasinya cukup jauh dari desa. Untuk mencapainya mereka menggunakan sepeda motor seperti motor trail yang handal digunakan menembus hutan belantara. Dengan hasil penjualan ladanya, tak heran hampir setiap rumah memiliki motor.
Lada yang telah dijemur biasanya dijual ke para pedagang (pengumpul) lada yang kemudian menjualnya lagi ke kota. Biasanya para pengumpul lada hidupnya lebih mewah dari para petani. Terkadang harga jual petani ke pedagang cukup tinggi, tapi terkadang harga lada juga bisa jatuh. Entahlah apakah para pedagang itu juga ikut mempermainkan harga dari petani atau memang sesuai harga lada di pasar dunia.
Namun harga lada putih yang tinggi juga membawa dampak buruk bagi masyarakat. Banyak anak-anak usia sekolah akhirnya berhenti sekolah dan pergi berladang. Sebagian besar hanya sampai tingkat SD dan sebagian kecil melanjut ke SMP yang berada di desa lain. Orangtua sepertinya juga tidak menuntut mereka untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Banyak anak-anak akhirnya, khususnya anak perempuan menikah pada usia dini setelah berhenti sekolah.
Page 1 of 2 | Next page