Jakarta-Bekasi Overland, Nikmati Wisata Belanja
Wisata Wednesday, December 16th, 2009 2,798 views
Print Artikel Ini
Oleh: Dewa Gde Satrya
(Dosen dan Peneliti Pariwisata, Universitas Widya Kartika Surabaya)
Kota metropolitan Bekasi merupakan surga bagi para pelancong yang gemar berbelanja. Dalam ranah ini, pengembangan turisme di kota Bekasi memiliki diversifikasi produk dengan kemasan wisata belanja. Wisatawan domestik, khususnya dari daerah Jakarta dan sekitarnya, merupakan captive market yang menggerakan turisme Bekasi dari aspek pembelanjaan.
Sejumlah mal yang berdiri di ini di antaranya, Mal Metropolitan, Mega Bekasi Hypermal, Bekasi Square, Plaza Pondok Gede, Grand Mal, Bekasi Cyber Park, dan Bekasi Trade Centre. Pusat belanja hypermarket seperti Carrefour, Giant, Makro, dan Hypermart juga hadir di kota ini. Membangun pariwisata kota Bekasi dengan mengandalkan produk wisata belanja memerlukan 2 langkah strategis, pertama, mengemas paket wisata Jakarta-Bekasi overland. Jika selama ini warga Jakarta menempuh perjalanan wisata ke daerah-daerah lain di Jawa dan Bali melalui udara, maka perlu dikembangkan konsep Jakarta-Bekasi overland. Sebagai misal, paket tur wisatawan domestik ke Jakarta, perlu dikemas dengan memasukkan rute Bekasi. Melalui overland, wisatawan justru diuntungkan karena mendapatkan pengalaman mengunjungi destinasi wisata lebih banyak.

Lantas, yang perlu disiapkan dalam paket Jakarta-Bekasi overland ini adalah diversifikasi produk yang melibatkan wisata belanja dengan wisata budaya. Bekasi memiliki aset cagar budaya seperti Monumen Sejarah Perjuangan Kali Bekasi di stasiun bus, Tugu Pahlawan Bekasi di Jalan Veteran, Gedong Papak di Jalan Juanda, Tugu di kawasan proyek dan Gongkaman di Mustika Jaya. Selain wisata belanja, diversifikasi produk kemasan wisata Bekasi didukung dengan wisata budaya.
Kedua, ‘menyatukan’ semua mal yang ada dalam bingkai ‘koopetisi’. Dalam konteks ini, perlulah kita belajar dari pengalaman yang menunjukkan kekuatan dan sisi baik kooperasi dalam kompetisi (koopetisi) antar pelaku usaha wisata belanja dalam even ”Jakarta Great Sale” dan ”Surabaya Shopping Festival”. Dua kota besar ini sejauh ini merupakan trend setter wisata belanja, tetapi bukan hal yang mustahil manakala Bekasi mengembangkan wisata belanja.
Perlulah dikemas suatu even bernuansa wisata belanja di Bekasi, yang dengan pendekatan koopetisi antar pelaku usaha wisata belanja mampu mendatangkan keuntungan bagi semua pihak. Pemda mendapat PAD, tenant-tenant mal yang terlibat meraih peningkatan penjualan, citra kota terdongkrak, masyarakat bisa berbelanja dengan harga murah, mendapatkan diskon dan hadiah. Semuanya ikut senang.
Secara luas sebenarnya semangat koopetisi pariwisata ini eksplisit dalam UU 10/2009 tentang kepariwisataan. Dua lembaga baru dengan nama Badan Promosi Pariwisata Indonesia / BPPI dan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia / GIPI merupakan bukti pentingnya semangat koopetisi dalam pengembangan pariwisata. Dua lembaga baru itu diisi oleh stakeholder pelaku pariwisata. Dilihat dari segi keanggotaannya, BPPI yang terdiri dari tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota terdiri dari unsur penentu kebijakan yang berjumlah 9 orang (4 orang wakil asosiasi kepariwisataan, 2 orang wakil asosiasi profesi, 1 orang wakil asosiasi penerbangan, dan 2 orang pakar atau akademisi). Sementara, GIPI terdiri atas pengusaha pariwisata, asosiasi usaha pariwisata, asosiasi profesi, dan asosiasi lain yang terkait langsung dengan pariwisata.
Dilihat dari tugasnya, beberapa tugas penting BPPI di antaranya, meningkatkan citra kepariwisataan Indonesia, meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara dan penerimaan devisa, meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara dan pembelanjaan. Sementara, beberapa kegiatan GIPI yang merupakan forum komunikasi dan konsultasi antar stakeholder kepariwisataan antara lain, menyalurkan aspirasi serta memelihara kerukunan dan kepentingan anggota dalam rangka keikutsertaannya dalam pembangunan bidang kepariwisataan, meningkatkan hubungan dan kerja sama antara pengusaha pariwisata Indonesia dan pengusaha pariwisata luar negeri, mencegah persaingan usaha yang tidak sehat di bidang pariwisata.
Karena itu, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesori Indonesia (APGAI), Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Asosiasi Rekreasi Keluarga Indonesia (ARKI), Asosiai Indonesia Travel Agent (ASITA), Asosiasi Spa Indonesia (ASPI), PD Pasar Jaya dan instansi lain yang terkait perlu melakukan sinergi untuk mendongkrak wisata belanja Bekasi. Sekalipun masing-masing mal bersaing satu dengan yang lain, namun dalam konteks pengembangan wisata belanja Bekasi sepatutnya semua mal melakukan sinergi.
Terakhir, sebagai destinasi wisata berbasis perkotaan, Bekasi tidak hanya memenuhi sensasi dan memberikan pengalaman yang mengesan berwisata belanja dan budaya, tetapi juga sebagai tempat penyelenggaraan MICE (meeting, incentive, conference, exhibition) yang menguntungkan. Pada even MICE skala internasional misalnya, memadukan tiga aktivitas sekaligus: pre dan post meeting, serta ladies program. Wisata belanja ada pada setiap tahapan itu. Dan ini semakin terbuka lebar dengan konsep Jakarta-Bekasi overland.
Print Artikel Ini



hm.. baru nyadar juga, ternyata bekasi punya banyak mol ya? berarti warga bekasi termasuk konsumtip juga ya:D.
nice posting
[Reply]
keren nich usulannya, semoga pihak terkait membacanya dan diimplementasikan dalam progarm kegiatan nyata. keep posting
[Reply]
Terima kasih untuk comment-nya. Prinsipnya, wisata belanja yang ada di Bekasi perlu semakin disinergikan dengan kemasan turisme, lebih-lebih paket wisata grup dari Jakarta. Dalam konteks itu, seperti yang kita ketahui bersama, market-nya tidak hanya sebatas domestik (Jababeka), tetapi juga market wisatawan asing, kita mulai dari negara-negara ASEAN khususnya.
[Reply]
salam kenal mas dewa, kalau melihat postingannya kayaknya mas lama juga tinggal di bekasi ya. Kalau pas kesini, kabar-kabari kita mas karena kita juga mau ngadakan wisata dengan tema Bekasi.
Saya asli surabaya yang baru 13 tahun meninggalkan surabaya. Kalau pas saya pulkam, pengin juga kita kopdar….hehehehe
[Reply]
Mas Rawi Yth, saya tidak pernah tinggal lama di Bekasi kok, tapi pernah ke Mal yang ada di Bekasi. Saya join di blogger bekasi karena syaratnya pernah melakukan sesuatu hal di Kota Bekasi dan sekitarnya, baik langsung ataupun tidak langsung. Juga memiliki kekertarikan dengan kota Bekasi. Terima kasih sudah membaca artikel saya.
[Reply]
mantaf mas Dewa, untuk shopping emang gak kalah. Mau apa aza ada. Branded tinggal ke metmall. Cari yang mumer ke giant. Kalau mau meeting atai eksibis mungkin Bekasi square dan BCP jadi alternatif. Teman dari malaysia ngakuin hal ini…..
Cuma buat wisata budaya dan wisata kuliner, Kota Bekasi masih ‘oon kayaknya ya. Lihat kalau malam Monumen perjuangan di pinggir kali bekasi jadi tempat mangkalnya wts kelas teri lho….
Sport hall dan pinggiran Pemkot jadi sarang bencong.
Semua ini terjadi karena Pemda-nya gak punya blue print pembangunan budaya Bekasi. Ikon aza Bekasi gak punya. Yah…….
Anyway, thanks atas tulisannya……
[Reply]
Mas Dewa salam kenal yah
Kalau bisa di buat tulisan berseri tentang rancangan dan tata letak Bekasi mas hehehe kali kali bisa buat referensi pembenahan diri kota Bekasi
[Reply]
Memang banyak aset, potensi dan ‘warisan’ leluhur yang tidak terurus di berbagai daerah di Tanah Air. Tidak bisa ditimpakan seluruhnya pada beban dan tanggung jawab government. Yang lebih bijaksana dan terpenting dilakukan sekarang adalah menanamkan dan menerapkan nilai-nilai Sapta Pesona Wisata pada setiap elemen bangsa di seluruh penjuru Nusantara. Bekasi bisa menjadi tase case-nya.
[Reply]
asal aksesnya mudah aja nih.. ^^ jangan mpe macet ato jalannya kurang nyaman.. hehe..
[Reply]
Betul, akses dan infrastruktur merupakan kendala besar bagi percepatan kemajuan pariwisata kita, khususnya wisata belanja di Bekasi. Tetapi perlulah kita meyakini tekad, komitmen dan kebijakan pemerintah selalu serius memperbaiki hal ini. Apalagi, UU 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mengatur soal itu.
[Reply]