Jangan Ganggu Mbah Priok
Artikel, Polhukam Friday, April 16th, 2010 2,881 views
Print Artikel Ini
“Enak ya berkantor di seputaran Cawang”, kata mbakyu cantik yang duduk di sampingku dalam angkot A-59 jurusan Cikarang.
“Kenapa mbak?”
“Aku tadi dari Priok kena macet panjang dan baru nyampai Cawang saat udah hampir maghrib”
“Biasanya kan memang Priok macet kan mbak?”
“Kali ini luar biasa mas. Gara-gara peristiwa pagi tadi sih”
“Oooo….”, aku sebenarnya kurang dengar dan kurang paham apa yang disebutnya sebagai “peristiwa pagi tadi”, sehingga mbak cantik itu kembali menambahkan ceritanya.
“Yang ribut-ribut itu lho pak. Satpol sama masyarakat”
“Sampai macet ya mbak?”, kataku mencoba menyambungkan pembicaraan, karena aku memang tidak tahu apa yang terjadi.
“Iya macet banget tuh. Untung bisa nyampai ke sini dengan selamat”, mbak cantik itu mencoba bercerita sambil tersenyum dan akupun ikut tersenyum sebagai solidaritas senyum.
Memang senyum itu suka menular dan aku senang melihat orang yang tersenyum, karena bisa membuat aku tanpa sadar menarik bibirku dan ikut tersenyum bersama mereka yang tersenyum.
“Kalau aku mau pulang cepat nih mbak, Cikarang banjir besar dan air sudah naik ke jalan di Puspa”, kataku sambil menyodorkan hapeku yang memuat berita tentang kondisi jembatan dan muka air sungai di Cikarang.
“Lho memang Cikarang hujan pak?”
“Nggak sih, tapi muka air di sungai terus meninggi tuh”, kataku sambil menunjukkan berita tentang Cikarang yang tidak hujan tapi muka air sungai terus naik.
Saat mobil mulai bergerak, maka akupun sudah terlibat dengan kegiatan rutin di angkot. Mulai menarik ongkos sampai baca-baca pesan yang masuk ke hape.
Sampai di rumahpun aku langsung sholat dan melakukan kegiatan rutin di rumah sampai akhirnya tergeletak tak berdaya di ranjang. Capek banget rasanya hari itu, sehingga begitu kepala menyentuh bantal maka kesadaranku sudah sampai di awang-awang.
Pagi-pagi sehabis subuh baru aku terpaku di depan TiVi. Rupanya peristiwa yang diceritakan di angkot 59 kemarin sungguh mengerikan. Dimana para polisi saat kerusuhan begitu bebas berlangsung di Koja?
Apakah polisi ingin menunjukkan bahwa tanpa mereka maka kerusuhan seperti sesuatu yang tidak bisa dihentikan?
Aku benar-benar tidak habis pikir dengan tayangan audio visual yang muncul di layar kaca RCTI. Bagaimana kejadian separah itu tidak segera ditangani oleh polisi?
Sampai di kantor aku baru ngeh dengan kejadian rusuh yang ada di Koja. Akupun langsung search kronologis kejadian di Koja itu.
Benar-benar sesuatu hal yang seharusnya tidak perlu terjadi bila semua pihak mau menahan diri dan mau sedikit memakai akal bukan memakai otot. Akhirnya yang rugi adalah rakyat kecil juga. Satpol PP adalah rakyat kecil juga yang dibungkus dengan baju seragam. Mereka adalah pion-pion yang tidak bisa berpikir lagi selain mengikuti perintah “arogan” dari tuan-tuan mereka.
Dengan gaji yang serba terbatas, mampukah para Satpol PP itu bertindak berlawanan dengan perintah majikannya? Kayaknya suatu hal yang tidak mungkin.
Mereka sudah jadi robot patuh yang kadang jadi bertindak tak terkontrol karena mereka sehari-hari sudah berada di dalam tekanan yang mendapatkan jalan keluar ketika berhadapan dengan sesama rakyat kecil yang seharusnya menjadi teman-teman mereka.
Lalu, apakah masyarakat awam yang ikut melakukan aksi bakar-bakar tanpa tanggung jawab itu yang salah?
Tidak juga, mereka juga dalam kehidupan sehari-hari selalu berada dalam tekanan ekonomi yang selalu menantang adrenalin mereka dan saat ada sepercik api yang membakar, maka merekapun akan dengan mudah berbuat lebih tak terkontrol lagi.
Malamnya aku terkesan dengan ucapan seseorang di TiVi, “mohon semuanya dapat menahan diri, jangan sebarkan berita ini kemana-mana, malu kita….. mari kita sebarkan berita yang menenteramkan, jangan biarkan kasus ini memanas lagi…..”
Ucapan yang penuh dengan keprihatinan, sehingga membuatku sedikit tercenung. “Apakah besok tidak akan muncul berita yang heboh ya?”
“Kelihatannya masyarakat lebih suka dengan berita yang bombastis daripada berita yang sejuk-sejuk”, begitu kataku dalam hati.
Kenyataan di masyarakat memang kadang-kadang sulit dipahami. Mereka tidak ingin ada kerusuhan lagi di Koja, tetapi mereka mengejar semua berita tentang Koja dan bener yang kuduga.
Besok paginya banyak media yang menyiarkan berita kekisruhan Koja dengan gaya yang berbeda-beda, tetapi kebanyakan memperlihatkan betapa kisruhnya kondisi Koja saat kerusuhan itu berlangsung. Hanya sedikit yang memuat berita positip tentang kasus ini.
Alhamdulillah, meskipun cuma sedikit dan fotonya terlihat agak serem, Kompas memuat berita yang meyejukkan hati. Kesepakatan Koja tercapai, begitu tulis Kompas.
Semoga ini adalah kasus berdarah yang tidak disusul oleh kasus-kasus lain. Sudah terlalu banyak kisah sinetron di TiVi maupun di dunia nyata, jangan sampai menjadi sinetron berdarah-darah. Cukup Sinetron SD saja yang terlanjur terbongkar, jangan tambahi lagi dengan sinetron yang lain.
Yuk kita jaga saja makam Mbah Priok dengan Damai.
Print Artikel Ini



[...] This post was mentioned on Twitter by bloggerbekasi. bloggerbekasi said: [Bloggerbekasi.Com] Jangan Ganggu Mbah Priok: “Enak ya berkantor di seputaran Cawang”, kata mbakyu cantik yang dud… http://bit.ly/acMnQd [...]
Damai negeriku… jangan biarkan amarah dan murka menghilangkan akal sehat. Kita adalah anak negri yang sama-sama berjuang mencari rizki dan hidup merdeka di bumi Pertiwi…
@David Usman,
semoga doa kita didengar Allah swt
Amin
Salam
sejak terjadinya kasus Tanjung Priok yang terkait pula dengan Makam Mbah Priok, maka kini umat berduyun-duyun memeriahkan, memakmurkan Makam Mbah Prok tersebut, kemudian yang menjadi pertanyaan bagi hati saya, apakah ada sepotong ayat dalam al Quran yang ‘memerintah’ kita untuk mendirikan, membangun atau memelihara atau meramaikan atau memakmurkan atau memuliakan sebuah ‘kuburan’ apalagi jika kuburan tersebut dianggap keramat?
@elfan,
sebaiknya yang dimakmurkan memang masjid saja (rumah Allah), bukan tempat lain yang tidak jelas aturannya
Salam
betul, memang aneh masyarakat kita. masjid kok bisa kalah rame ama kuburan!? padahal yg diperintah untuk dimakmurkan adalah masjid bukan kuburan. lebih parah lagi waktu berdoa lebih khusyu’ di makam daripada di masjid…
@hafidz,
hahaha….
lebih takut pada hantu daripada Tuhan
dunia yang kebalik-balik ya….
berarti kini telah roboh pondasi keimanan kita, wajar jika kita slalu dirundung malang, sang pemimpin umatpun ikut roboh imannya, mereke lebih senang mengejar kepopuleran daripada memelihara umatnya. di kampung sudah terasa, untuk mencari seorang imam mushala atau masjid kini sudah sangat sulit
@elfan,
semoga kita semua mampu memperbaiki kehidupan masyarakat kita
amin
salam
YA MARI KITA BERSAMA BERUSAHA UNTUK ITU, TERIMA KASIH PAK
@elfan,
oke
sip !
@elfan,
makasih pencerahannya
salam
benarlah Al Quran, sama sekali tidak membicarakan bagaimana mengurus kuburan, tapi yang ada manusia kan bangkit dari kuburan untuk dimintai pertanggungjawabannya dihadapan Allah SWT
@elfan,
sip !
mari kita sering mbaca Quran biar rumah kita gak sepi kayak kuburan
gitu ya?
kl kita baca sejarah, maka terhadap Saidina Ali bin Abi Thalib jarang kita dengar ‘nasab’ keturunannya, misalnya tatkala kita menyebut Al Hasan dan Al Husein, maka ujungnya pasti yg disebut ‘cucu Nabi Muhammad SAW’ bukan bin Ali bin Abi Thalib. Jadi dimana dan kemana nasabnya Saidina Ali bin Abi Thalib?
@elfan,
kalau untuk pertanyaan ini, sebaiknya yang ahli saja yang menjawab
takut salah
salam
Tujuan ziarah adalah untuk mengingatkan akan datangnya kematian,dengan kita mengunjungi makam orang sholih apalagi kemudian diperdengarkan riwayat hidup beliau yang penuh dengan amal sholih berarti kita sedang belajar dan semoga hidup kita kemudian akan berakhir seperti mereka….khusnul khotimah………
dan dengan berziarah pula berarti kita menunjukkan rasa penghargaan kita kepada para pendahulu2 kita yang mewariskan agama yang indah ini yaitu agama islam…..kita tentunya tidak akan mau disebut keturunan yang tidak tahu berterima kasih….
Nabi SAW membolehhkan kita untuk berziarah….bahkan menganjurkan…
adapun para habib itu disebut keturunan Nabi,itu berkat Hadits Nabi “Setiap anak yang lahir dari seorang perempuan maka sabab dan nasabnya adalah kepada Bapaknya kecuali anak anak Fatimah maka sesungguhnya aku adalah sabab dan nasab mereka…..
Ini adalah anugrah dari Allah,bahwa walaupun anak laki2 beliau semuanya meninggal,namun anak keturunannya diteruskan oleh anak cucu putri tercintanya Fatimah…(Baca surat Al Kautsar)
Di situ Allah menerangkan bahwa Nabi tidak Abtar (putus keturunannya) sebagaimana anggapan orang2 kafir,
Ketika Sayyidah Fatimah menikah dengan Sayyidina Ali maka Rasulullah mendokan mereka dengan sabdanya Ya Allah keluarkanlah dari keduanya Keturunan yang banyak dan baik…..
Subhanallah doa tersebut diijabah oleh Allah….maka kini tidak kurang dari 2 juta habaib di dunia ini dan kebanyakan justru tinggal disekeliling kita di indonesia
@hameed assegaf,
terima kasih tambahan pencerahannya.
Salam Sehati
permisi…. maaf mau tanya, kalo saya boleh tahu, siapa ya yang menulis berita tersebut di KOMPAS? Maksud saya jika anda mengetahui nama wartawannya, saya mohon informasinya. Saya ingin mengetahui. terima kasih
@ilo, mohon maaf saya tidak tahu siapa penulisnya
mungkin bisa dilacak dari tanggal koran itu terbit
maaf dan salam sehati