Sadisnya Indomie, sadisnya tulisan gugatannya
Sosial-Budaya Friday, February 22nd, 2013 380 views
Print Artikel Ini
Mengikuti polemik “sesuatu” yang terjadi antara blogger Hazmi Srondol dan Indomie memang cukup membuat hati bergetar. Apa yang dilakukan Indomie memang sungguh “Afgan”, alias ‘sadis’ kalau kata anak2 jaman sekarang. Bagaimana bisa dibilang tidak sadis jika sebuah tulisan/cerita yang dipergunakan untuk kepentingan iklan komersial di berbagai media cetak hanya dihargai 3 dus Indomie?
Bagi saya pribadi, Indomie bukan sekadar produk mi instan yang terkadang dikangeni, tapi Indomie juga pernah menjadi bagian dari sejarah hidup saya. Sempat sekitar setengah tahun saya menjadi penulis naskah iklan senior (senior copywriter) yang menangani Indomie ketika saya bekerja di Hotline advertising, sebuah biro iklan milik seorang pakar branding Subiakto.
Indomie adalah salah satu klien besar yang pernah saya pegang, dan sekaligus juga salah satu klien menyebalkan yang pernah saya tangani, hehe… Tapi apa memang ada klien yg tidak menyebalkan? Betul juga sih, tapi untuk klien yang satu ini, kalau pake indikator pedasnya Ma’ Icih, tingkat menyebalkannya mungkin ada di angka sepuluh! Kenapa bisa begitu? Tak akan saya ceritakan karena bisa memperkeruh suasana, dan mungkin juga jadi terlalu teknis, karena akan berhubungan dengan istilah-istilah di kalangan periklanan.
Memori akan tingkat menyebalkan yang tinggi itulah yang membuat saya tanpa berpikir panjang ikut-ikutan menyebar tautan tulisan Hazmi Srondol di Kompasiana itu ke sebuah grup Facebook yang berisi orang-orang yang bekerja dan ada hubungannya dengan periklanan. “Indomie memang harus diberi pelajaran!” begitu suara hati saya pada malam hari itu sebelum saya mengunggah tautannya di dinding grup FB tersebut.
Esok harinya, saya mendapat telepon tak terduga dari seorang kawan lama, kawan ketika kita pernah bersama dalam satu tim menghadapi deadline dan tekanan klien. Ternyata kawan itu adalah salah satu orang biro iklan atau agency yang menangani Indomie, yang ternyata saya tidak menyadari bahwa di bagian bawah tulisan, emailnya ikut pula dicantumkan oleh mas Hazmi. Tentu saja dia agak kaget ketika tahu bahwa yang menyebar tautan di grup itu adalah saya. Hari itu juga posting tautan itu saya hide, meski belakangan ada orang lain yang memposting ulang.
Melanjutkan cerita telepon yang saya terima, kawan itu tentunya tak hanya sekadar menanyakan kabar, tapi juga bercerita tentang kasus ini yang kembali menyeret namanya. Dia bilang bahwa itu kasus sudah agak lama dan masih sedang dalam tahap negosiasi. Bahkan dirinya pun saat ini sudah tidak lagi menangani Indomie, meski produk mi instan tersebut masih menjadi salah satu klien di kantornya. Di saat itu saya dilanda kebingungan plus rasa bersalah. Sebagai penulis saya tidak terima jika sebuah karya tulisan “diperlakukan” seperti itu, sebagai teman saya juga nggak tega ketika dia bercerita bahwa kini namanya menjadi ikutan tercoreng negatif akibat dibukanya kasus ini ke publik dunia maya.
Oke, di titik ini saya akan coba menjadi orang yang tidak memihak. Memang keterlaluan jika perusahaan sebesar Indomie menghargai sebuah karya kreatif yang dibuat iklan komersil di berbagai media hanya dengan tiga dus mi instan. Sudah selayaknya kasus ini dijadikan bahan pembelajaran bagi mereka dengan dibuat sebuah tulisan. Sayangnya, tulisan tersebut mengapa harus disertai pencantuman email dengan nama-nama yang tidak disamarkan dan terang-terangan, yang menurut saya memang kurang elok dan agak sadis juga. Bagi nama-nama yang ada di email tersebut tentunya akan merasa seperti “ditelanjangi” di depan umum.
Ini adalah pembelajaran yang sangat berharga bagi saya, bagi semua pihak. Pihak Indomie, pihak biro iklan/agency, dan juga tentu pihak penulisnya. Kasus ini tidak akan mencuat jika ketika itu pihak Indomie merespon dengan cepat, jika pihak agency terus menerus melakukan pendekatan personal terhadap penulisnya, dan jika sang penulis bisa sedikit bersabar dalam menanti kepastian untuk mendapat hak yang lebih layak. Ternyata, hidup ini memang tidak seindah rangkaian kata-kata yang kita tulis di blog…
Print Artikel Ini




Yap, sepakat dengan tulisan ini. Tapi bagaimana pun, sekelas Indomie harus bisa menuntaskan persoalan ini sebelum lebih banyak lagi para penulis atau blogger yang mengetahuinya. TFS mas Bene
[Reply]
saya banyak belajar dari kasus mas Hazmi Srondol ini
salam
Omjay
[Reply]
Saya sepakat mas, bagaimanapun kita tetap mesti bijak menyikapi soal ini. Sebagai blogger saya menyatakan simpati pada apa yg dialami oleh mas Hazmi, dilain pihak, saya juga agak menyesalkan bila nama2 yg terkait kasus ini tidak disamarkan. Sebuah pelajaran berharga untuk kita semua. Semoga masalahnya bisa dituntaskan.
[Reply]
Mari memboikot Indomie sampai Indomie membayar kewajibannya pada Mas Hazmi … sesama penulis saya juga ngak suka diperlakukan segitunya…
[Reply]
Mas Benwal,
Terima kasih atas postingan yang sangat informatif ini yaa…
Sebelumnya saya ingin memberitahukan bahwa tulisan saya tidak sedang mengajukan gugatan loh ya, saya awalnya hanya curhat saja untuk awareness kepada sesama penulis dan blogger agar lebih berhati-hati dengan asset tulisannya yang berharga.
Berat mas menggugat perusahaan sekelas Lowe dan Indomie yang skalanya multinasional. Modal saya dan rekan-rekan penulis dan blogger sama mas, ya cumin tulisan kita itulah…
Perihal perasaan temen mas sekarang yang merasa di kaitkan dengan tulisan saya, saya mengerti dan paham banget kok. Paham banget…
Cuman bagaimana lagi mas, saya sudah mencoba menahan perasaan saya jauh lebih lama daripada beredarnya tulisan saya ini. Saya sudah kehabisan cara dan jalan untuk bertemu pihak Lowe dan Indomie. Saya serasa menghadapi tembok raksasa dari besi baja. Padahal saya sudah beberapa kali mengirim email kepada mereka dan saya loop apa adanya. Saya berharap. Ada setidaknya email japri dari salah satu nama yang masuk dalam loop email tersebut.
Namun apa yang saya harapkan tidak terjadi mas. Tak ada satu pun japri dari nama-nama tersebut muncul hingga tulisan curhat saya terposting. Nama yang pastinya tahu betul bagaimana kisah ini terjadi. Lebih menyesakkan mas, saya mendapatkan kabar dari beberapa sahabat saya yang merupakan pemilik agency dan PH bahwa banyak nama yang di email tersebut sudah keluar dari LOWE.
Dan tambahan info mas, munculnya 3 dus Indomie itu pun setelah berbulan-bulan istri saya yang bergerilya dan mengais-kais informasi dari milis ke milis hingga menemukan salah satu member milis yang di ikutinya terdapat domain email korporat LOWE.
Nah, jika temen mas merasa keberatan… saya siap bertemu kok buat sharingnya. Untuk alamat rumah boleh ajak temen-temen Blogger Bekasi ini yang sering mampir ke rumah saya. Toh walau bukan anggota aktif setidaknya saya pernah ikut berpartisipasi kecil-kecilan dalam acara Blogger Bekasi.
Nanti akan saya masukan temen mas secara positif tentang kisah ini untuk closing masalah ini jika sudah tuntas.
Mumpung Alhamdulillah, pihak Lowe dan Indofood—siang tadi sudah bertemu dengan saya untuk meminta maaf di kantor Kompasiana. Maaf yang tentu saya terima, walau pasti tidak mungkin saya lupakan kisahnya. (soal konpensasi belum dibahas yaa… jangan mintak traktir dulu). hehehhe
Insya Alloh saya masih konsisten dengan apa yang saya tuliskan dalam novel saya bahwa “dalam hidup, seribu kawan itu kurang—namun satu musuh sudah sangat kebanyakan”. Saya tidak suka mencari musuh kok mas. saya nggak suka nyubit kecuali nyubit duluan. tapi kalau yg nyubit cakep kayak Asmirandah, saya bales pakai sun aja lah.. gak papa kok.. hehhehe
Gitu aja mas, salam buat temennya. Pintu rumah terbuka lebar untuk sharing dan ngobrol-ngobrolnya.
Salam,
Hazmi Srondol
Twitter : @hazmiSRONDOL
[Reply]
benwal Reply:
February 28th, 2013 at 10:48 PM
@Hazmi SRONDOL, syukurlah mas jika sudah “beres” permasalahannya… untuk kawan saya tersebut sy sedang coba hubungi dan sepertinya dia sedang ada di luar kota (atau di luar negri.. entahlah), tapi undangan mas Hazmi tetap akan sy sampaikan meskipun namanya sudah mas mention di tulisan “Indomie meminta maaf”… hikmahnya kita jd bisa saling kenal & bersilaturahim
mungkin obrolannya bisa kita lanjutkan lewat DM twitter, silakan folbek sy @bne_w
sukses mas.
[Reply]
kok bisa kayak gitu yah
wah , mkasih buat infonya
[Reply]