PERTAMINA, BERKAH ATAU BENCANA?
Artikel Tuesday, October 20th, 2009 480 views
Print Artikel Ini
Sabtu malam, 26/09. Dhuuaar……! Ledakan terdengar. Dari proyek pengeboran Pertamina di Desa Jaya bakti, Cabang Bungin. Warga blingsatan. Di pikiran mereka nongol macam-macam cerita dan ketakutan. Takut meledak seperti ketiban bom. Takut meleduk seperti di Lapindo. Pokoknya macam-macam…
Ujungnya warga memblokir jalan. Digali dan dikasih halang rintang. Ini sebagai wujud protes mereka. Mobil proyek pun tidak bisa masuk. Sebagai kompensasi akhirnya Pertamina pun mengucurrkan “uang kaget” 20 juta (radar bekasi, 28/9/09).
Biasanya kalau uang sudah ngucur, aksi protes pun meredup. Sampai gak kedengaran lagi. Begitulah seterusnya. Tunggu ada yang meledak. Emosi dan protes terbakar. Lalu, siram dengan kucuran uang. Beres…..!
Sementara, persoalan fundamental tidak terselesaikan. Yakni, apakah kehadiran Pertamina di wilayah BEkasi Utara itu berkah atau Bencana?
Berkah dalam artian memberikan kemanfaatan kepada masyarakat. Bencana itu berarti sebaliknya.
Saya belum sampai pada kesimpulan final. Saya belum punya data lengkap dan detil.
Hanya, kalau melihat kesiapan Pemerintah Daerah dalam menyambut masuknya eksploitasi dan eksplorasi, saya koq khawatir semua akan menjadi bencana.
Misalnya begini. Dilihat dari kesiapan masyarakat. Kan, info tentang cadangan minyak itu sejak tahun 80-an. Tapi, lihat mana ada kebijakan buat bikin SMK Perminyakan. Atau, akademi perminyakan. Baru akhir 2009 ini dibuka jurusan Metalurgi di ITSB> Institur Teknologi Sains Bekasi. Itu juga adanya di Cikarang. Pengurus yayasannya semua orang partai tertentu.
Persiapan pendidikan dan mind set masyarakat ini lebih memberikan solusi permanen. Bukannya, kalau terjadi ledakan. Guyur aza dengan uang dua puluh juta. Persoalan kelar…
Seandainya, sejak dulu ada akademi perminyakan atau Smk. terus yang kerja di pengeboran situ anak Cabang Bungin. Pasti warga juga empati. Pasti babenya ngomong gini, “Emang napa itu tong, cerobong api bisa meleduk…..”
Gak bakalan ada yang blokir. Lha wong itu tempat kerja anaknya sendiri.
Tapi, sekarang….?
Saya masih berpikir kehadiran Pertamina sampai detik ini masih jadi bencana……entah esok!
[jawarabekasi]
Print Artikel Ini




