Home » Pendidikan » Jangan Selingkuhi Pikiran !

Jangan Selingkuhi Pikiran !

Oleh.  M. Eko Purwanto

(Staff Bidang Pendidikan YW Al Muhajirien Jakapermai)

mindsetBeberapa hari ini pikiran saya tumbuh, mengembangkan banyak cabang dan ranting kecil. Satu pikiran besar yang kemudian berubah menjadi pikiran-pikiran kecil ini berdesakan mencari perhatiannya sendiri-sendiri, untuk berlama-lama diperhatikan. Akhirnya, tidak ada satupun pikiran-pikiran kecil ini mewujudkan diri menjadi realitas yang saya inginkan. Kondisi ini kemudian menjadi rumit dan membingungkan, ketika keinginan yang sebenarnya sederhana diganggu oleh pikiran-pikiran yang sebenarnya tidak berguna.

Prolog diatas menggambarkan kondisi yang dialami oleh banyak orang termasuk saya. Kita menjadi tidak fokus dengan apa yang sebenarnya kita inginkan. Banyak pikiran yang tidak berguna nyelonong masuk, tanpa permisi, mencerai-beraikan pikiran pokok yang semula kita tanam. Contoh kongkritnya begini, pada saat saya mau menulis, ada saja pikiran yang tiba-tiba nyelonong masuk, mengganggu pikiran awal saya, yaitu langsung menulis. Pikiran pengganggu itu biasanya memunculkan gambaran-gambaran yang lebih besar, lebih indah, lebih keren atau ngetrend, dan lain-lain. Ketika saya diliputi hasrat menulis, pikiran saya mengembara mencari bentuk-bentuk baru, seperti misalnya, ah … saya mau nulis tentang pendidikan, hmm … saya mau menulis tentang politik yang lagi rame-ramenya nih, atau hei … saya mau menulis tentang ekonomi, ya … saya perlu bikin kopi dulu, oh … saya perlu siapkan kliping, atau apa saja. Pikiran-piran ini kemudian menjadi virus, yang pada akhirnya saya akan melupakan keputusan saya untuk menulis. Saya menjadi terlalu sibuk memilih tema, topik atau bahkan teori yang hanya berfungsi melegitimasi bahwa tulisan saya, bener-bener tulisan.

Kitapun lupa bahwa sebenarnya ketika kita berkeinginan menulis, dibenak kita sudah ada tulisan yang siap untuk kita tuangkan ke komputer. Namun kita justru tidak mencari sesuatu yang ada di dalam benak kita, eh malah mencari bahan-bahan yang ada di luar batok kepala kita. Wal hasil tulisan hanya bisa bertahan sampai satu paragraph saja, itupun sudah untung. Saya biasanya cuma diwarisi judul aja. Sementara pikiran kita habis terbuang untuk mencari bahan atau materi tulisan yang pas sebagai bahan referensi.

Sebagai penulis pemula, awalnya saya sering mengalami kondisi seperti itu. Namun lama-kelamaan, sedikit demi sedikit saya mampu merubah kebingungan dalam melakoni proses menulis ini. Saya menjadi yakin bahwa ketika saya berkehendak menulis, saya tidak mau terjebak kepada topik atau tema, bahkan struktur tulisan, yang konon menurut para praktisi menulis sebagai aliran sesat yang terlanjur diajarkan disekolah-sekolah formal. Saya lebih fokus untuk bertanya kepada diri saya sendiri, ada apa di dalam batok kepala saya ?. Keluarlah segera, jari jemariku siap melayanimu ?. Dengan begitu, tiba-tiba jari-jari ini begitu lincahnya menari-nari diatas keyboard dan dengan bebasnya pikiran saya mengelana kesana-kemari, menangkap gagasan-gagasan yang sebenarnya sudah ada di dalam pikiran kita sendiri.

Dalam menuangkan pikiran saya ke dalam tulisan, aturan pokok yang saya berlakukan adalah saya tidak pernah menduakan pikiran saya sendiri. Maksud saya begini, ketika saya berhasrat menulis saya hanya fokus kepada apa yang ada di dalam fikiran saya aja dulu. Saya akan tuangkan sampai habis, pikiran-pikiran yang ada di dalam batok kepala saya. Lalu setelah semuanya selesai, baru saya melakukan finishing, yang kemungkinan bisa saya tambahkan referensi dari orang lain, atau tidak saya tambah atau kurangi sama sekali, apa yang memang sudah saya tumpahkan tersebut.

Pernah sekali-sekali saya selingkuhi pikiran saya, pada saat hasrat menulis tumbuh dan siap menuangkannya ke komputer, kemudian saya diam-diam menduakan pikiran saya dengan pikiran lain yang tidak relevan, alias tidak fokus pada apa yang ada di dalam kepala saya sendiri. Saya mencoba mencari-cari topik yang lagi ngetren atau paling tidak tulisan yang lagi banyak di baca orang. Wal hasil, pikiran saya memutuskan hubungan secara sepihak. Akhirnya saya hanya diwarisi halaman MSWord yang bersih tanpa kalimat, hanya judul yang ditulis tebal-tebal, bergaris bawah dan identitas nama penulis. Cuma itu !. Capek deeech…

Bekasi, 02 Desember 2009.

Print Artikel Ini Print Artikel Ini
Posted by on Dec 2 2009. Filed under Pendidikan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

3 Comments for “Jangan Selingkuhi Pikiran !”

  1. menulis memang akan lebih mudah kalau dari hati ya om :-D

  2. Menurut saya bukan hanya menulis saja yang tidak boleh selingkuh, bisnis juga tidak boleh jika belum siap selingkuh, belajar, dan yang paling gak boleh selingkuh adalah berumah tangga, bisa di PHK (Putus Hubungan Kawin) ntar …hehehhee

  3. janga pernah selingkuh ya !!!

Leave a Reply


2 + = 10

Login

Login Anggota
Lost Password?

Amprokan Blogger | Temu Blogger Nusantara

Banner Komunitas

Komunitas Blogger Bekasi

Copykan Kode dibawah ini ke Blog/Website Anda!

© 2014 Komunitas Blogger Bekasi. All Rights Reserved. Log in - Designed by Gabfire Themes