Home » Cerita Pendek » Rudi Dan Sari

Rudi Dan Sari

Di sini, sebagaimana mereka bertemu; di sebuah toko buku di hari minggu di bulan Juni.

Rudi sedang melihat-lihat novel-novel ketika mendengar beberapa gadis muda bicara tentang novel teenlit terbaru. Dia mengakui bahwa teenlit memang populer dengan bahasa yang mudah ditangkap. Tapi, pikirnya, membaca buku-buku seperti itu hanya membuang-buang waktu. Terlebih buku lokal. Gaya penulisannya payah, nama-nama tokohnya tidak masuk akal, alurnya melompat-lompat dengan dialog yang buruk. Untungnya dia tumbuh sebagai laki-laki. Untungnya dia bisa menentukan sendiri pilihan bukunya sehingga tidak mudah terbawa oleh tren sesaat atau karena bujukan teman. Lagipula sudah banyak terbit novel bagus terjemahan meski ada beberapa terjemahan yang kurang pas.

Tidak jauh dari situ Sari mendapatkan sebuah buku panduan psikotes kerja yang temannya rekomendasikan. Dia akan mengikuti tes untuk seleksi karyawan tetap bulan depan. Dia jarang membeli buku kecuali jika memang benar-benar membutuhkan. Anggarannya ketat dan sebenarnya dia tidak punya dana banyak untuk beli buku. Dia mengambil buku itu tanpa pertimbangan karena temannya lulus tes setelah mempelajari buku itu. Dalam antrian yang panjang di kasir dia melihat sekeliling toko dan tiba-tiba saja memikirkan bahwa betapa menyenangkannya jika mengetahui banyak tentang buku.

Rudi menemukan sebuah novel terjemahan yang sudah dia baca edisi bahasa Inggrisnya. Shipping News sepertinya belum banyak terjual. Buku itu seharusnya menjadi buku laris di sini seperti di negara asalnya atau negara-negara lain. Tapi dia ingin tahu siapa saja yang akan membelinya. Beberapa orang yang berhenti di situ hanya sekedar melihat-lihat atau membaca sebentar ringkasannya di sampul belakang. Dia menyayangkan mereka melewatkan sebuah karya besar. Seorang perempuan datang, lalu membaca sebentar judul-judul buku di hadapannya tanpa menyentuhnya. Tampaknya dia sedang terpaku pada novel-novel terjemahan dengan komentar-komentar yang menggugah orang untuk membelinya: “Buku yang menakjubkan – Kirkus Review”, “Mendebarkan — NY Times,” “Belum pernah ada buku sehebat ini – Herald Tribune.” Dia tertarik dengan kata pulitzer di sampul Shipping News, sesuatu yang sering dia sering lihat tapi tidak tahu kemana harus menanyakan artinya. Dia mengambilnya, membaca ringkasannya di sampul belakang dan membuka beberapa halaman. Terlintas dalam pikirannya ketidaksanggupan membacanya.

Rudi menyampaikan pesan lewat pikirannya.

Itu buku bagus .. kau pasti suka .. itu buku bagus .. Pulitzer ..

Dan, terkadang telepati berfungsi baik. Perempuan itu berpaling ke arahnya dan bertanya dalam hati apa yang sedang laki-laki itu perhatikan darinya? Apakah ada yang salah dengan pakaiannya? Oh, bukan. Mungkin rambutnya? Tidak. Laki-laki itu sedang melihat buku yang dia pegang.

“Itu pulitzer. Buku bagus” Rudi meyakinkan. Tapi perempuan itu tidak jelas mendengarnya.

“Apa?” tanyanya. Rudi melangkah mendekatinya

“Itu buku bagus. Pulitzer” suara Rudi terdengar lebih jelas meski kata pulitzer masih belum dipahaminya

“O, ya. Ini” jawabnya , mengangkat sedikit bukunya dan menunjukkan kata pulitzer

Rudi tersenyum. “Sudah ada filmnya. Pemainnya Kevin Spacey?”

Dia mencoba mencari tahu, lalu mengangkat kedua bahunya.

“Pernah dengar American Beauty atau Usual Suspects?”

Perempuan itu tidak perlu berpikir lama. Dia tersenyum. Dia tidak kenal Kevin Spacey atau film-filmnya.

Rudi dan Sari berkenalan dengan cara biasa, tanpa jabat tangan, hanya pembicaraan ringan. Rudi memberikan dua kartu namanya; satu kartu nama kantor dan satu lagi pribadi dengan alamat rumahnya. Mereka sama-sama mengeluh tentang seputar suasana toko yang padat pengunjung hari ini hingga membuatnya berkeringat. Rudi menunjuk beberapa buku dengan terjemahan menyedihkan dan menyarankan agar Sari tidak membelinya, lalu bicara tentang Shipping News. Di akhir pertemuan, Sari tertarik dengan buku itu dan memutuskan (terpaksa) untuk membelinya tanpa memikirkan harganya yang cukup mahal baginya meski sebenarnya dia sedikit menyesal membelinya karena itu artinya dia tidak jadi membeli lipstik, bedak dan minyak wangi. Setidaknya untuk bulan ini. Dia mengucapkan terima kasih pada Rudi dan dengan bergurau dia berkata mudah-mudahan dapat menyelesaikannya.

Rudi adalah seorang perfeksionis minimalis. Maksudnya, seseorang yang menjaga penampilan dengan perlengkapan seminimal atau semurah mungkin. Tidak perlu minyak wangi mahal jika orang-orang disekitarnya merasa nyaman dekat dengannya. Dia tidak ingin dipusingkan oleh benda-benda yang kalau tidak ada akan membuatnya pusing. Cukuplah pakaian yang bersih serasi dengan warna dasi dan celana, sepatu mengkilap dan tidak berlebihan dalam segalanya. Jagalah senyum dan bersikap ramah maka orang-orang akan bersikap sama padanya. Dia bekerja di bagian penting perusahaan sebagai analis risiko yang mempunyai wewenang menerima atau menolak bisnis. Meski tanggung jawabnya tidak sebanding dengan gajinya namun dia menyukai pekerjaannya yang membutuhkan pengetahuan dan perhitungan teliti. Dia menyenangkan dirinya dengan membaca novel, memotivasi dirinya sendiri dengan membaca biografi orang terkenal, membuka wawasan dengan berbagai buku lain, berpikir dan mencari tahu mengapa seseorang dapat menghasilkan sebuah karya besar. Dia pergi ke perpustakaan di hari sabtu dan menulis cerpen sepulang dari kantor. Dia senang merekomendasikan buku-buku, pemikiran-pemikiran orang-orang besar atau pemikiran-pemikirannya dan tulisan-tulisannya pada teman-teman kantornya, teman-teman di rumahnya atau siapa pun yang datang padanya. Mereka senang dengan sarannya tapi mereka tidak ada waktu untuk hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaan atau sesuatu yang menguntungkan mereka.

Sari tinggal bersama dua keluarga di rumah orang tuanya. Satu keluarga terdiri dari dirinya, ibu bapaknya dan dua adiknya. Keluarga lainnya adalah keluarga kakak perempuannya yang belum punya anak. Sari satu-satunya yang bekerja di rumah itu. Pendidikannya hanya sampai SMEA dan dia beruntung tidak mendapatkan waktu menganggur terlalu lama. Pekerjaannya kontrak putus. Pernah bekerja di pabrik tekstil dan kasir di supermarket. Sekarang dia bekerja sebagai pramuniaga di sebuah toko baju. Statusnya masih karyawan percobaan. Entah dicoba sampai berapa lama. Dia hanya menginginkan statusnya meningkat menjadi karyawan tetap. Dia kerap bertengkar dengan kakak perempuannya yang selalu menginginkan dan merebut barang-barang miliknya. Orang tua mereka memang memihak Sari, tapi mereka menyayangi keduanya. Kakak perempuannya dan suaminya sering pula bertengkar. Apa saja dipertengkarkan dan membuat keadaan rumah jauh lebih buruk. Pernah ibunya berkata padanya mungkin rumah ini lebih tenang jika kakaknya pergi. Tapi lagi-lagi Sari yang harus mengalah dan akhirnya memilih tinggal di rumah kos.

***

Dia merasa pesimis dapat menyelesaikan Shipping News. Tapi Rudi selalu ada dipikirannya. Laki-laki itu terlihat tampan dan cerdas. Dia merasa bodoh karena ketidaktahuannya tentang buku-buku. Pastilah laki-laki macam Rudi menyukai wanita pintar. Buku ini sepertinya terlalu berat untuk diselesaikan. Pekerjaannya bertambah dan beberapa hari belakangan ini dia harus lembur. Baru beberapa menit saja membacanya dia kerap mengulang kalimat-kalimat yang terlewat karena lupa nama tokohnya atau dialognya. Ini bacaan novel terjemahan pertamanya. Kalau bukan karena Rudi maka dia tidak akan membelinya.

Mereka bertemu kembali di toko buku yang sama. Sari sengaja datang ke toko buku untuk memastikan bisa melihat Rudi lagi. Setelah satu jam dia baru bisa menemukan Rudi yang sedang melangkah masuk ke toko buku. Rudi berbeda dengan penampilan sebelumnya. Rambutnya dipotong di tepian dengan gaya spike. Beberapa pramuniaga menatapnya seperti melihat seorang bintang film, Sari bisa mendengar kata ganteng dan keren untuk Rudi dari beberapa perempuan di dekatnya. Tapi, di toko ini, dia kenal Rudi lebih dulu dan merasa lebih bisa mengenal lebih lanjut jika dia bisa mengalahkan rasa malu untuk menyapanya lagi. Matanya mengikuti langkah Rudi yang saat itu Rudi sedang tertarik pada buku-buku politik. Sari hanya tahu sedikit tentang politik dari headline koran yang dijual di pinggir jalan tanpa pernah membelinya kecuali hanya beberapa kali untuk keperluan mencari kerja.

Rudi selalu pergi ke toko buku ini tiap minggunya, untuk sekedar melihat-lihat atau cuci mata. Namun pertemuannya dengan Sari untuk kedua kalinya membuat suasana menjadi berbeda. Dia yang pertama menyapa ketika Sari berpura-pura tidak melihatnya, lalu menanyakan sudah berapa halaman membaca Shipping News. Sari menjawab dengan senyum dan menyebut halaman dua puluh lima. Rudi mengajaknya ke tempat lain dan menunjukkan padanya buku-buku yang pernah dibacanya. Kebanyakan buku fiksi dan Sari berusaha mengingat judul-judul buku yang disebutkannya. Sari hanya menangkap dua judul karena sampul depannya yang keren. Jika dia membeli keduanya, itu artinya bulan depan dia tidak akan membeli kaos dalam, celana dalam dan BH.

Rudi mengajaknya makan siang, dan meminta Sari memilih tempatnya. Sebut saja ini sebagai sebuah pendekatan personal, agar lebih berkesan dan bisa bebas menonjolkan diri. Sari memilih McDonald, satu-satunya tempat makan selain warteg yang pernah dia kunjungi agar tidak terlihat kampungan. Mereka memilih menu yang sama. Rudi yang mengantri, Sari mencari tempat. Tempat kosong sulit didapat hari itu dan membuat Sari terpaksa menunggu sepasang pria dan wanita yang sedari tadi ngobrol padahal makanan mereka sudah lama habis.

Mereka duduk berhadapan, sesekali saling memerhatikan ketika salah satu tidak melihatnya. Rudi punya cara sendiri menilai perempuan. Pertama, kecantikannya lalu bentuk tubuhnya dan kemudian kecerdasannya. Sari memang tidak begitu cantik. Manis adalah kata yang paling pas. Perempuan itu bertubuh mungil dan kecerdasannya tidak lebih baik dari Rita, teman sekantornya. Meski demikian Sari memiliki senyum menawan dan keingintahuan yang besar. Sedangkan bagi Sari, ini kali pertama seorang laki-laki mengajaknya makan. Dan Rudi seperti sebuah lompatan jauh; tampan, baik dan pintar.

Sari meniup nasinya yang mengepul. Rudi menyarankan pada Sari agar tidak meniupnya karena karbondioksida akan menempel di nasi. Sari setuju dengannya, lalu membiarkan nasinya beberapa menit. Dia melihat Rudi tidak ada masalah dengan nasi yang panas. Rudi menceritakan pekerjaannya, pendidikannya di universitas dan masa depannya. Dia berkata bahwa dia tidak menginginkan seumur hidupnya menjadi pekerja. Seseorang harus menjadi sesuatu, menciptakan sebuah karya besar dengan cara menuliskan pemikiran-pemikirannya, demikian katanya. Rutinitas membuat seseorang tidak mempelajari pemikiran para pemikir hebat. Dia menyebut nama Ali Shariati, Kang Jalal dan Ziaudin Zardar lalu memberi gambaran tentang pemikiran mereka. Walau Sari mendengar penuh perhatian, namun pikirannya berputar-putar mengingat kata-kata asing yang diucapkan rudi. “Hegemoni, trasenden, sintesis ….

Sari tidak bicara mengenai pendidikannya atau pekerjaannya. Dia memuji Shipping News, dan menanyakan apakah ada buku Annie Proux yang lain. Rudi menyebut Brokeback Mountain, salah satu cerita dalam buku Close Range, Wyoming Stories. Sari pernah mendengar kisahnya dari temannya namun yang dia tahu Brokeback Mountain adalah judul sebuah film. Dan kalau ceritanya sama seperti filmnya, dia berpikir tidak akan membacanya bukunya.

***

Di rumah kosnya hanya Sari yang tidak berasal dari luar kota. Sebagian besar penghuninya berasal dari daerah Jawa Tengah. Semuanya belum menikah, hidup dengan penghasilan yang pas-pasan dan mendapatkan uang lembur setelah melewati satu bulan yang melelahkan. Mereka tidak terlalu pelit membelanjakan uangnya. Mereka saling metraktir makanan atau meminjamkan uang, karena satu sama lain sudah seperti keluarga. Sama-sama tahu kebutuhan masing-masing, sama-sama berbagi bahagia, sama-sama berbagi kesedihan. Tidak ada yang perlu disembunyikan.

Kamar Sari terletak di lantai dua. Terasnya berada di sebelah kiri rumah menghadap ke atap-atap rumah tetangganya, tempat biasa ngobrol hingga larut malam. Hampir tiap malam selama seminggu ini mereka bicara tentang dokter ganteng yang baru buka praktik tidak jauh dari rumah mereka. Informasi itu pertama kali didapat dari salah satu penghuni kost yang berobat minggu kemarin dan kemudian penghuni kost lainnya pura-pura sakit untuk melihat dokter ganteng itu.

Suara-suara mereka kerap kali mengganggu tetangga sebelah. Meski demikian belum pernah ada yang datang mengeluh pada mereka. Sari mendapatkan kesempatan menceritakan perkenalannya dengan Rudi, bagaimana pria itu membawanya pada dunia ilmu pengetahuan, sesuatu yang selama ini tidak pernah dibicarakannya.

“Ada yang tahu artinya hegemoni?” tanyanya, melihat satu per satu pada lima temannya.

“Kalau Sintesis?”

Tidak ada yang menjawab

“Kalau anti tesis?” … “Transenden?” … “Ontologis?”

“Sar, cari di kamus aja!”

***

Rudi untuk pertama kali menelponnya saat dia hampir tertidur karena capek setelah pulang kerja. Dia tidak perlu kata maaf Rudi yang merasa mengganggu waktu istirahatnya. Dia mencoba untuk tidak terdengar baru bangun tidur. Rudi mengajaknya untuk bertemu di Starbucks. Sari tidak bisa mengeja kata Starbucks, tapi dia sering melewatinya dan terkadang melihat orang bule ngopi di tempat itu. Owh, Oh, sesekali bolehlah nongkrong di sana.

Rudi memakai kaos putih, celana panjang jeans, tas ransel kecil dan topi hitam polos, menunggunya di pintu masuk. Sari datang tidak lama kemudian, mengenakan celana panjang hitam dan baju terusan warna putih yang panjangnya selutut dengan pita tali ungu di pinggang. Sekilas Rudi menyayangkan penampilan Sari yang agak mencolok

Tempat itu begitu tenang dan bersih. Foto-foto hitam putih di dinding, tulisan-tulisan dan gambar-gambar tentang kopi dunia, pegawai yang berpakaian rapih, beberapa pelanggan menggunakan laptop di mejanya, pembicaraan dengan istilah-istilah asing dan bahkan ada beberapa orang bule membuat Sari merasa kikuk dan menjadi satu-satunya yang kikuk. Dia tidak mengerti macam menunya dan terkejut dengan harga yang lumayan mahal untuk secangkir kopi. Mereka duduk di dekat jendela kaca dimana Rudi duduk menghadap ke arah luar, tempat pengunjung mal lalu-lalang.

Belakangan ini Rudi menulis cerpen. Dia lebih suka memasukkan buah pikirannya ke dalam tulisan fiksi ketimbang tulisan non fiksi yang cenderung serius. Tiga tulisan nonfiksinya pernah terbit di surat kabar nasional. Tapi fiksinya tidak seberuntung nonfiksinya. Dia beberapa kali mengirimkan cerpennya ke koran nasional dan sebanyak itu pula cerpen-cerpennya ditolak. Hari itu dia ingin menunjukkannya pada Sari salah satu cerpennya.

Sari membacanya dengan serius, sementara Rudi memandang ke arah gadis-gadis yang sedang melihat-lihat pakaian. Muda, cantik dan menggoda. Gadis-gadis lain yang berjalan melintas di depan Rudi menarik perhatiannya. Tiga gadis SPG di sebuah stan mobil dengan senyum-senyum manis, berkulit putih dan kaki indah membuatnya hampir melupakan Sari yang telah selesai membaca cerpennya.

“Gimana cerpen saya?” tanyanya, meletakkan dua tangannya di atas meja dan mendekatkan wajahnya ke Sari. Matanya sesekali melirik ke arah para SPG itu lalu kembali pada wajah Sari. Sari menyukai ceritanya meski belum bisa memberikan komentar banyak.

***

Di bulan Agustus Sari mengikuti tes seleksi penerimaan karyawan tetap. Dia minta saran pada Rudi kiat-kiat menghadapi ujian psikotes satu hari sebelumnya. Rudi mencari jawaban yang pas karena dirinya baru dua kali mengikuti psikotes sepanjang hidupnya. Yang pertama ketika di SMP dan terakhir pada saat pertengahan kuliahnya. Dia mencoba memberitahu jawaban normal bahwa yang utama dalam mengerjakannya adalah ketelitian dan kesabaran. Mengerjakan dengan terburu-buru hanya mendatangkan masalah. Dia berjanji akan mendo’akannya supaya lulus.

Sari berterima kasih namun tidak terlalu optimis karena selalu menganggap dirinya bodoh. Di hari ujian, dia mengerjakan soal-soal itu dengan perasaan rendah diri dan kurang meyakinkan. Tiga hari berikutnya dia mendapatkan hasilnya. Dia tidak lulus.

Rudi ingin merasakan apa yang Sari rasakan, itulah yang dia coba ungkapkan. Dia memilih saat-saat dia gagal untuk kemudian membagi pengalamannya dengan Sari.

“Kamu tahu, gagal psikotes itu sama dengan ketika cinta kita ditolak seseorang. Tapi tahu gak kamu kalau banyak orang lain yang menunggu cinta kita. Sekarang kamu tenang saja karena masih banyak kesempatan atau pekerjaan lain. Tugas kamu adalah belajar.”

Sari mencoba memahami kaitan antara percintaan dengan hasil psikotes. Tapi dia hanya seorang perempuan. Lagipula dia belum pernah menyatakan cintanya pada seorang pria. Apalagi ditolak.

Di suatu Sabtu Rudi mengajak Sari ke perpustakaan kota. Ini pertama kali dia membawa Sari dengan mobilnya. Musik jazz ringan membuat Sari merasa jadi bagian dari orang kaya. Mereka melewati jalan tol yang lengang di Sabtu pagi dan sedikit padat di pintu tol keluar. Rudi menikmati setiap hari liburnya, lepas dari rutinitas dan berharap bisa lepas dari rutinitas pekerjaannya selamanya. Dia tersenyum dalam hati melihat Sari yang sedang menatap setiap kata-kata iklan menarik di bentangan spanduk dan papan iklan pinggir jalan. Sari tersenyum sendiri dan menyebut kata-kata iklan. Perempuan itu juga terkagum-kagum dengan layar TV raksasa yang hanya menayangkan iklan rokok dan sesekali menunjuk gedung-gedung pencakar langit.

“Kantorku di lantai 24, di gedung itu”

Sari tidak bisa membayangkan rasanya kerja di lantai 24 kecuali rasa takut jika terjadi gempa bumi.

Mereka tiba di pintu masuk gedung perpustakaan, seorang satpam menyapa Rudi. Mereka sudah saling kenal sejak Rudi masih kuliah.

“Dunia ini terlalu luas kalau kita hidup hanya mengetahui yang sedikit” Rudi berkata. Mereka berjalan menjelajah perpustakaan. Sari kagum dengan jumlah buku yang banyak, ruangan yang nyaman dan orang-orang yang membaca di dalamnya. Sebagian besar buku itu berbahasa Inggris. Ruangannya dingin, orang-orang yang datang kelihatan cerdas dan berpikir kapan dia bisa membaca tulisan berbahasa Inggris. Rudi mengajarkannya menjelajah internet, membuatkannya alamat email, membuat akun di facebook dan mengajarkan cara menggunakan google.

“Ini deretan buku-buku sains.” Rudi menunjuk ke rak buku-buku sains “Angka ini kodenya. Kalau ini tiga huruf pertama nama terakhir penulisnya.” Dia mengambil salah satu buku dan menunjuk kode bukunya.

Rudi mengambil Shipping News di bagian fiksi dan menunjukkannya pada Sari.

“Ini buku yang kamu baca” ucap Rudi

Sari merebut Shipping News dari Rudi dan mulai membacanya. Dia tidak paham bahasa Inggris tapi dia senang melihat versi asli buku itu. Rudi membiarkan Sari melihat-lihat dan mengagumi buku-buku sementara dirinya memerhatikan seorang gadis cantik sedang membaca buku di bagian hukum, dia berfikir untuk mengajaknya makan siang.

***

Di akhir Agustus, Sari membawa Rudi ke tempat kost-annya, memperkenalkannya kepada teman-temannya. Rudi hanya perlu melihat sekilas untuk memastikan bahwa Sari-lah yang paling cantik diantara mereka. Sari meminta Rudi menceritakan sebuah cerita pendek klasik karya O. Henry yang pernah diceritakan padanya.

A Gift of The Magi, sebuah cerita menarik kehidupan pasangan muda yang kekurangan uang dan sama-sama memiliki keinginan untuk saling memberi hadiah di hari Natal. Siapa pun yang menceritakannya dan dengan gaya bercerita apa pun akan tetap menarik. Rudi sering menceritakannya pada perempuan-perempuan yang baru dia kenal.

“Coba tebak apa yang dia bawa untuk istrinya?” tanya Rudi ketika mendekati akhir cerita. Tidak ada yang menjawab. “Jim membelikan Della sebuah sisir indah mahal yang Della impikan” lanjutnya.

Teman-teman Sari merasakan kesedihan karena sisir itu tidak bisa dipakai karena Della menjual rambutnya untuk membelikan Jim hadiah natal.

“Della mencoba menghibur Jim. Dia bilang pada suaminya kalau rambutnya itu nanti akan cepat tumbuh” Rudi melanjutkan kisahnya. “Tapi ceritanya nggak berhenti sampai disitu karena Della memberi kejutan buat Jim sebuah hadiah natal. Coba tebak apa yang Della beli?”

Tidak ada yang menjawab. Rudi melihat Sari tersenyum seperti menunggunya menceritakan akhir cerita.

“Della membeli sebuah rantai jam yang indah untuk Jim.” Rudi berkata, bersiap-siap untuk sebuah kejutan akhir. “Tapi melihat hadiah itu membuat Jim bertambah sedih karena untuk mendapatkan sisir itu Jim menjual jamnya”

Cerita yang menyentuh.

Di bulan Oktober Sari mendapat kabar bahwa kakak iparnya mendapat pekerjaan di pabrik. Kakaknya akan pindah bulan Nopember untuk alasan lebih dekat dengan tempat jemputan bis kerja suaminya. Ibunya memintanya kembali tinggal bersamanya secepatnya.

Tiga bulan sudah dia mengenal Rudi tanpa pernah memikirkan status hubungan mereka. Ulang tahun Rudi tinggal seminggu lagi sedangkan dia selalu mengingatnya. Kini, sejak kepindahan kakaknya, dia bisa lebih menghemat uangnya. Sebagian tabungannya akan digunakan untuk biaya kuliahnya, dan gajinya bisa disisihkan untuk membeli buku. Dia baru saja menyelesaikan The Remains of The Day. Terkadang Stevens mengingatkannya pada Rudi. Dia bekerja keras untuk mengetahui segala hal, setidaknya mengetahui apa yang Rudi rekomendasikan. Awalnya dia melakukannya untuk Rudi. Tapi sekarang dia juga melakukannya untuk dirinya sendiri. Dengan banyak membaca berarti menambah kepercayaan dirinya. Rudi mengajarkannya bahasa Inggris dan komputer, dan itu memudahkannya dalam mempelajari sesuatu. Kini dia bisa pergi ke warnet tanpa Rudi, untuk mencari informasi yang dia butuhkan. Dia juga bisa memilih buku untuknya tanpa merasa ragu kapan selesai membacanya. Dia membaca To Kill A Mockingbird karena tertarik dengan pulitzer-nya. Dia meluangkan waktu menonton film sekelas Oscar dan mulai menyukai lagu-lagunya Lionel Richie dan James Ingram. Dia juga tahu arti hegemoni, antitesis ataupun onkologi, bahkan dia lebih tahu dari itu.

Mereka bertemu kembali di toko buku yang sama. Kunjungannya ke sana seperti sebuah napak tilas saat pertemuan pertama mereka. Sari membawanya menuju deretan buku-buku laris. Dia mengambil satu buku peraih penghargaan Man Booker, lalu mengatakan kalau dia sudah membacanya. Rudi pernah membaca Life of Pi. Dia menceritakan ringkasan bukunya dan memberitahunya bahwa buku itu sedang dibuat filmya dan akan keluar tahun 2011. Dia hapal nama-nama calon sutradaranya termasuk M. Night Shyamalan yang pernah Rudi ceritakan padanya. Dia menyayangkan mengapa bukan Shyamalan yang menjadi sutradaranya padahal dia seorang keturunan India. Hari itu ulang tahun Rudi. Sari memberikan sebuah CD album Bread padanya.

Di bulan Desember Sari diangkat menjadi karyawan tetap dan mendapat kenaikan gaji. Dia berencana mengambil kuliah malam dan kursus bahasa Inggris di akhir pekan. Dia mengatakan maksudnya pada ibunya, meminta ibunya tidak perlu khawatir karena dia mendapat gaji yang lebih tinggi. Dia juga memberitahu Rudi dan Rudi mengucapkan selamat untuknya.

“Terima kasih. Ini semua karena kamu” balas Sari

Ini semua karena kamu. Kalimat itu membuat Rudi merasa tersanjung. Dia hanya melakukan apa yang dia lakukan. Sari adalah perempuan yang istimewa. Dia menyukainya tapi tidak mencintainya.

Rudi berbaring di ranjang memandang langit-langit, dua tangannya diletakkan di bawah kepalanya. Dia tersenyum mengingat pertemuan pertamanya dengan Sari. Sari begitu lugu dan tidak tahu banyak. Sekarang gadis itu lebih cerdas dan menyenangkan. Sari seorang gadis manis dengan rambut sebahu membuat lelaki penasaran ingin berkenalan dengannya.

Belakangan ini dia kerap menghabiskan waktunya dengan Sari, padahal dia banyak berkenalan dengan gadis-gadis yang lebih cantik dari Sari. Seperti Nina, gadis kenalannya di perpustakaan. Mereka menghadiri seminar yang sama di Jakarta. Nina menyelesaikan pasca sarjananya dua bulan lalu. Minggu depan dia akan diwisuda. Dia teringat pada Ani, teman kuliahnya yang sekarang menjadi dosen. Dia belum menjawab SMS-nya yang dikirim tadi sore. Ani menantikan jawaban apakah dia dapat menemuinya untuk makan malam dengannya. Dia ada waktu minggu-minggu ini karena sedang cuti mengajar. Sebenarnya, Ani sedang merindukan kebersamaan mereka. Rudi mengambil selulernya dan menjawab pesan Ani, mengatakan bahwa dia tidak bisa menemuinya dengan alasan sibuk. Kemudian dia kembali berbaring, kembali memikirkan gadis-gadis lain. Tapi Sari selalu muncul di pikirannya.

Tidak bukan Sari. Jangan Sari. Mengapa Sari.

Keesokan hariya Sari menelponnya dan mengajaknya mengunjungi rumahnya. Dia juga mengatakan bahwa dia sudah memilih tempat kuliah yang dekat dengan tempat kerjanya dan dia akan mengambil jurusan akunting. Sari berkali-kali mengucapkan terima kasih padanya, tapi Rudi tidak berkata banyak.

***

Di bulan Januari Rudi berhenti dari pekerjaannya. Dia tidak mendapatkan peningkatan karir yang bagus. Pergantian bosnya membuat suasana kerja seperti sebuah tempat angker dan sepi. Perputaran karyawan di departemennya begitu cepat dan dia salah satu yang masih bertahan walau pada akhirnya mengundurkan diri. Keputusannya berhenti bukan tanpa perhitungan. Dia masih punya tabungan untuk bertahan beberapa bulan sebelum mendapat pekerjaan baru. Dia berpikir mungkin berhenti bekerja tidak terlalu jelek karena dia akan punya banyak waktu untuk menulis dan membaca. Dia pernah beberapa kali mendapat tawaran kerja dari perusahaan lain. Jadi mungkin tidak terlalu sulit baginya mendapat pekerjaan lain mengingat kualifikasinya yang baik.

Tapi mencari pekerjaan baru tidak semudah yang dibayangkan. Ttiga bulan menganggur dan dia masih belum mendapat pekerjaan. Lamaran yang dia kirim jarang mendapat jawaban. Sedangkan beberapa kali wawancaranya gagal karena terbentur masalah gaji. Situasi jaman sudah berubah. Kini banyak perusahaan menaikkan standar kualifikasi bagi calon karyawan. Keuangannya semakin menipis tapi dia tidak terlalu khawatir karena dia baru menyelesaikan kumpulan cerpen pertamanya dan mengirimkan naskahnya ke sebuah penerbit terkemuka di Jakarta. Dia juga tidak pernah lagi menghubungi Sari meski Sari sering menelponnya dan dia menjawabnya dengan malas. Pikirnya, menelpon seseorang tanpa keperluan hanya akan menghabiskan uang. Satu kali Sari menceritakan seputar kampusnya dan menyebut seorang nama lelaki teman kampusnya yang menurutnya pintar. Rudi mengatakan bahwa temannya itu tentunya tidak lebih pintar darinya. Dia hanya cemburu. Dia memang masih menaruh simpati pada Sari, tapi dia tidak mencintainya. Andai Sari sedikit lebih tinggi, cantik, berkulit putih dan cerdas tentu saja dia sudah menyatakan cintanya pertama kali mereka bertemu. Mungkin dia terlalu naif atau sombong. tapi bukankah tidak ada manusia yang sempurna. Tidak, dia hanya mencari yang lebih baik.

Dia menghubungi Nina untuk memberinya selamat atas wisudanya dan sedikit harapan gadis itu masih mencintainya. Nina berkata bahwa dia berencana akan mengajar selama dua tahun di kampusnya.

“Itu bagus” jawab Rudi, lalu mengajak Nina untuk bertemu.

Mereka bertemu seminggu kemudian. Rudi dengan uang pinjaman dari temannya mengajaknya makan siang.

Nina, gadis cantik yang selalu bepergian dengan sepeda motor dan membawa tas punggung lebih terlihat sebagai gadis ABG. Matanya menunjukkan kecerdasannya. Nada bicaranya terukur, cerdas dan selalu menghindari pembicaraan yang tidak perlu. Dia senang bicara tentang masyarakat yang merupakan bidang keahliannya. Tidak ada pembicaraan mengenai perasaan hari itu. Rudi hanya ingin mengulang kenangan beberapa tahun lalu bersamanya. Bicara tentang buku, film, politik, masyarakat, seniman atau penulis favorit. Dia begitu lepas menceritakan kondisinya pada Nina, memintanya membaca tulisannya dan berharap pendapatnya tentang tulisannya. Ketika masih berpacaran, Nina pernah membaca beberapa cerpennya dan memberikan komentar bagus. Dalam naskah yang dia berikan pada Nina hari itu terselip sebuah surat tentang perasaannya. Mungkin itu satu-satunya jalan untuk menarik Nina kembali menyukainya. Satu minggu kemudian Nina mengirim SMS padanya. Bukan untuk mengomentari naskahnya atau menjawab suratnya. Nina mengundangnya untuk menghadiri pernikahannya. Dalam perasaan yang bercampur rupa itu Rudi hanya tersenyum. Dia tidak membalas SMS-nya karena tidak punya pulsa.

***

Beberapa waktu lalu Sari memberitahu tentang pekerjaan barunya sebagai sekretaris di sebuah bank. Khawatir Rudi tidak membalasnya, dia mengirimkannya lewat SMS. Di tempat barunya dia bisa menggunakan internet kapan saja, melihat foto-foto Rudi di facebook dan mengirim pesan yang tidak pernah dibalas Rudi. Bosnya seorang eksekutif muda yang mengingatkannya pada Rudi dan sering memujinya atas ketrampilannya menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan rapih. Suatu kali bosnya menyatakan perasaannya padanya dan bersedia memutuskan hubungan dengan pacaranya demi dirinya. Dia menghormati bosnya dan senang dengan pekerjaannya. Tapi aku sudah memiliki tunangan, demikian ia menjawab. Namanya Rudi.

Di dompetnya masih tersimpan dua kartu nama Rudi. Dia mengeluarkannya meletakkan kartu nama yang satu dan menatap yang lainnya. Di bulan Juni dia memutuskan untuk datang ke rumah Rudi. Perjalanannya memakan waktu satu jam dari kantornya menggunakan taksi. Tidak terlalu sulit menemukan rumahnya. Dia memastikan rumah dengan cat kusam dan halaman kotor adalah tempat Rudi tinggal sambil berharap Rudi ada di dalamnya. Dengan suaranya yang lembut dia memberi salam. Setelah beberapa kali mengetuk pintu dia menduga jika rumah itu seperti tidak berpenghuni dan dia hampir pergi jika Rudi tidak memanggilnya dari balik pintu. Laki-laki yang teristimewa itu kini berpenampilan kacau dan kurus.

Rudi membuka tirai sehingga sinar matahari masuk masuk ke dalam ruangan dan terlihat betapa berantakan ruangan itu. Buku-buku yang tidak beraturan, gelas-gelas yang belum dicuci, koran-koran yang bertumpuk di atas kursi dan bertebaran di atas lantai. Dia buru-buru membereskan buku-bukunya dan membawa gelas-gelas kotor ke dapur.

Tidak ada yang memulai pembicaraan. Wangi parfum Sari menunjukkan kelasnya, Rudi tersenyum dalam pikirannya. Sari memandangnya. Rudi memandang ke arah luar, ke daerah kosong dalam pikirannya. Dia masih tidak percaya jika wanita yang duduk di hadapannya adalah Sari yang pernah dikenalnya beberapa waktu lalu. Sari mengenakan blazer hitam dan kemeja putih terang yang jika dihitung pasti mahal harganya. Jari-jarinya terlihat lebih panjang dan lentik, kulitnya lebih putih dan tidak terlihat seperti kebanyakan wanita kenalannya sewaktu kerja dulu. Dia berharap kedatangan Sari bukan untuk mengantar undangan pernikahannya.

“Kamu kelihatan beda” Rudi berkata

“Kamu juga”

“Ya. Tapi kamu jauh lebih baik”

Selanjutnya hanya pembicaraan tanya-jawab. Kedatangannya ke rumah Rudi bukanlah sekedar untuk bertemu atau melepas rindu. Dia masih menyukai Rudi sebagaimana pertama kali melihatnya. Tapi mereka sama-sama terdiam meski sesekali saling mencuri pandang sendangkan diantara itu mereka sama-sama tersenyum dalam hati. Masing-masing memendam perasaannya. Masing-masing ingin mengungkapkannya. Jika hati mereka bisa saling mengatakan, maka tidak perlulah mengungkapkannya lewat lisan.

Angin masuk melalui celah pintu, menggoyang tirai dan menerbangkan kertas-kertas di atas meja. Secarik kertas jatuh tidak jauh dari tempat Sari duduk. Sari mengambilnya, membacanya dan tersenyum. Senyumnya masuk ke dalam jiwa yang rapuh untuk menguatkannya. Puisi itu tentang dirinya dan kerinduan seorang pria. Dan di ujung bibir yang tipis itu Sari mengatakan dengan lembut, sebuah kalimat yang menjadi awal pertemuan kembali mereka, bahwa dia mencintainya.

Print Artikel Ini Print Artikel Ini
Posted by alireza on Dec 11 2010. Filed under Cerita Pendek. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

1 Comment for “Rudi Dan Sari”

  1. nice story ^.^

    [Reply]

Leave a Reply

Amprokan Blogger | Temu Blogger Nusantara


Amprokan Blogger

Sponsor

images-1

---

Member Be-Blog

Sudahkah Anda menjadi bagian dari Be-Blog?

Siapa saja yang sudah terdaftar?

Login

Login Anggota
Lost Password?

Shoutbox


Loading

WP Shoutbox
Name
Website
Message
Smile
:mrgreen::neutral::twisted::arrow::shock::smile::???::cool::evil::grin::idea::oops::razz::roll::wink::cry::eek::lol::mad::sad:8-)8-O:-(:-):-?:-D:-P:-o:-x:-|;-)8)8O:(:):?:D:P:o:x:|;):!::?:



Gabung di Milis Blogger Bekasi

Powered by Yahoo Groups

© 2010 Komunitas Blogger Bekasi. All Rights Reserved. Log in

Switch to our mobile site

- Designed by Gabfire Themes