Cerita Lain Anak Jalanan dari Bekasi
Sosial-Budaya Wednesday, December 9th, 2009 1,166 views
Print Artikel Ini
Di saat banyak anak mendapat limpahan kasih sayang orang tua, masih banyak anak-anak harus menghadapi kerasnya jalanan
Saya terinspirasi untuk menulis sisi lain dari anak jalanan setelah membaca posting-an Bang Komar, seorang sahabat yang banyak memberikan pencerahan kepada saya, terutama mengenai seluk beluk kehidupan Bekasi.
Setiap pulang kantor, saya selalu melewati segerombolan anak-anak. Mereka biasa disebut anak jalanan. Itu yang dikatakan orang yang biasa mangkal di dekat mereka, seperti tukang ojek, supir angkot dan penjaga warung. Saya penasaran dengan istilah ini. Setelah tiba di rumah, saya buka buku dan beberapa situs mencari definisi anak jalanan (biar kelihatan agak ilmiah. Kalo nulis katanya harus pake refrerensi). Definisi umum mengatakan bahwa anak jalanan mengacu pada anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan.
Ada dua kategori anak jalanan, yaitu children on the street dan children of the street. Namun, seiring dengan perkembangan kota, muncul penambahan kategori, yaitu children in the street atau sering disebut juga children from families of the street (wah…gaya banget pake istilah asing segala. Nulis anak jalanan aja pake istilah londo. Mimpi jadi pakar kale, maksudnya apa-apa dibikin sukar. Tapi biarlah, Tuhan itu maha pemaaf).
Lupakanlah istilah asing itu. Lanjutkan dengan menulis seperti apa yang dikatakan hati dan pikiran yang bebas (inilah hebatnya menulis di blog. Tidak harus pake latar belakang, kerangka teoritis dll yang bikin pusing saja. Mau nulis…just do it).
Karena setiap hari ketemu, akhirnya mendorong saya untuk berkenalan lebih dekat dengan mereka. Persis seperti tulisan Bang Komar (gimana nih caranya agar bisa link ke tulisannya Bang Komar. Kayaknya perlu kursus lagi di BCP sama Mas Aris, Om Jay ’n Mas Yul). Tangan mereka memang kasar, kulitnya legam terbakar matahari, sebagian badannya dihiasi tato dan rambut mereka, kelihatan jelas anti sisir. Itu lah gambaran awal performance fisik mereka yang bisa membuat kita yang beradab (konon) mundur seribu langkah.
Ternyata, ngobrol dengan mereka sangat mengasyikkan. Pengalaman bergaul intens dengan anak-anak jalanan menimbulkan inspirasi bagi saya tentang bagaimana bertahan hidup dari kondisi sejelek apapun dan pantang mengeluh. Mau harga indeks saham anjlok, silahkan. Century di-bail out, sabodo. Mau film 2010 dilarang, emang gue pikirin. Sepanjang jalanan masih mampu memberikan makan, mereka tetap optimis untuk survive. Itu lah pelajaran berharga dari mereka (hanya satu yang mereka takutkan, yaitu Satpol PP. Kata mereka lebih menakutkan dari Kapolri yang jenderal sekalipun—ah….sok lebay).
Apa dan Bagaimana Mereka ?
Sebagian besar, umur mereka masih di bawah 20 tahunan. Bahkan ada yang sejak orok sudah hidup di jalanan. Sedangkan di belahan bumi yang lain, termasuk di rumah-rumah kita, anak-anak mendapatkan limpahan kasih sayang dan perlindungan super dari orang tuanya. Berbeda dengan anak-anak jalanan yang sudah harus merasakan kerasnya hidup. Bukan hanya karena polusi udara dan risiko tertabrak angkot saja, tapi jalanan mempunyai aturan sendiri yang sangat keras. Bagi kita, mungkin sangat tidak manusiawi. Tapi….itulah jalanan.
Banyak alasan, mengapa mereka memilih jalanan. Kehidupan yang keras di rumah bersama orang tua (sebagian karena alasan ayah/ibu tiri yang kejam….kayak film anak tiri yang terkenal pada tahun 70-an), broken home, kemiskinan yang akut, kehidupan yang jauh dari tuhan, merupakan sekian alasan yang mendorong mereka memilih bertualang di jalanan.
Sekilas, jalanan menjadi sebuah altenatif pembebasan bagi mereka dari belenggu kehidupan. Sekolah dan kehidupan normal ditinggalkan untuk menikmati alam kebebasan yang minim rambu-rambu larangan. Jalanan seakan fatamorgana yang sangat menjanjikan bagi pembebasan diri. Itu lah bayangan awal mereka tentang fenomena kehidupan jalanan, yang kadang dibumbui cerita heroik dari beberapa tokohnya.
Ternyata, bayangan indah tentang jalanan sangat bertolak belakang dengan realitas yang sebenarnya. Jalanan memiliki aturan hidup yang jauh lebih keras dibandingkan kehidupan di rumah. Bahkan untuk menjadi anggota komunitas ada aturan main yang tidak tertulis, yaitu harus melalui perploncoan terlebih dahulu sebagai ujian awal keberanian, yang sangat jelas bertentangan dengan norma-norma kehidupan masyarakat yang normal (kayak mahasiswa baru aja pake OSPEK segala).
Beberapa materi Ospek antara lain Nga-aibon (menghirup bau lem aibon yang konon bisa membuat fly), Ngoyen (makan makanan sisa yang dibuang orang di tempat sampah). Kalau dianggap lulus, baru masuk pada level yang lebih tinggi seperti Nguping (mencabut kaca spion mobil yang diparkir), Ngebola (mencuri di atas kendaraan umum dengan cara saling lempar barang curian di antara mereka) dan beberapa materi lain yang saya sendiri tidak tega untuk menulisnya. Yang membuat bulu kuduk saya berdiri, mereka menganggap apa yang dilakukannya sesuatu yang lazim dan normal saja (Mungkin mereka banyak belajar dari para koruptor yang menganggap korupsi adalah bagian dari iman jabatan).
Itu lah sekelumit kecil cerita dari jalanan. Mungkin anda akan mengerutkan dahi…kok bisa ada orang yang memilih hidup seperti itu. Apa yang bisa kita lakukan ?
Saya ketemu dengan beberapa orang yang mendedikasikan hidupnya untuk membina anak jalanan. Seperti Bang Min dan Bang Ane serta Remon yang menjadi Ketua Kelompok Pengamen Jalanan (KPJ). Upaya untuk mengurangi dampak negatif jalanan telah dilakukan walaupun dengan segala keterbatasan.
Nongkrong di pinggir jalan ternyata membuat saya ketar ketir. Bis dan angkot tiba-tiba bisa ada di depan mata. Gimana cara mereka memeproleh sim ?
Beberapa kegiatan untuk membantu sedikit meluruskan hidup mereka seperti latihan memainkan alat musik (agar ngamen tidak asal), art therapy (terutama bagi anak-anak yang menderita masalah sosial yang akut), menggalang tabungan harapan (mereka buka rekening di Bukopin dengan cara menyisihkan sedikit uang untuk ditabung), ketrampilan membuat kerajinan dari limbah. Semua mereka kerjakan sendiri dengan apa yang saat ini mereka miliki dengan segala keterbatasannya. Sangat jelas mereka sangat membutuhkan sentuhan yang lebih bermakna. Adakah yang berminat untuk berpartisipasi ?
Menurut Bang Min dan Ane, dalam waktu dekat mereka berencana merekam hasil karya musik anak-anak jalanan dalam bentuk indie label. Mudah-mudahan apa yang mereka rencanakan bisa diwujudkan.
Sepanjang kawan-kawan pembaca berminat, saya coba untuk mewartakan apa saja gawe yang telah dilakukan komunitas jalanan dalam tulisan berikutnya (kalau istilah akademiknya action program…gitu dech).
Salam Jalanan
Print Artikel Ini





salam jalanan
[Reply]
bukan anak jalanan, musisis jalan !
[Reply]
Memang sangat memilukan kehidupan “anak jalanan” ini. Ketidak seimbangan ekonomi di negeri kita, tetap menjadi sebuah jurang yang sulit untuk mempersatukan kita bersama.
Semoga negara kita lebih maju dan bisa mengatasi kehidupan seperti ini..
[Reply]
Mantaf Bang Harun….ini baru elmuwan!
punya landasan teori dan empirik……
apa kabar bang Ane?
kalo ketemu salam dari Komar ya…..
[Reply]
Salam juga dari saya untuk kalian semua…
[Reply]