Filly
Cerita Pendek Tuesday, November 9th, 2010 255 views
Print Artikel Ini
Filly, putriku, satu-satunya yang kurindukan sejak meninggalkan rumah. Satu-satunya yang membuatku bertahan hingga kini. Tuhan selalu memberi yang terbaik bagiku, dan Filly adalah yang terbaik.
Jakarta, aku tidak menyukai kata itu jika tidak terpaksa bekerja di sana atau setidaknya jika tidak ada hutang pada bank yang sebentar lagi akan menyita rumah kami. Suamiku tidak meninggalkan apa-apa kecuali pelajaran bertahan. Sangat manis, tapi tidak membantu untuk membayar hutang-hutangnya.
Sore itu, aku masih mengingatnya, pulang kerja dengan keraguan. Filly biasa menungguku di depan mini market, kemudian aku biasanya membawanya ke dalam dan membiarkannya memilih jajanannya. Filly tersenyum padaku sampai terlihat barisan giginya yang ompong, lalu ia beberapa kali mencium pipiku saat aku menggendongnya. “Mama besok beliin Filly boneka Barbie ya?” Filly selalu mengatakan itu sedangkan aku tidak bisa menolaknya. Filly sangat menyukai Barbie yang sudah ia siapkan namanya. Ia ingin barbienya sama dengan namanya. “Iya, Filly, nanti mama beliin.”
Bis yang membawaku berjalan lambat meski hari itu tidak terlalu macet. Angin mengalir lembut dirambutku, udara terasa dingin dan mendung. Sementara itu bunyi klakson membangunkanku dari lamunan, mungkin sekedar mengingatkanku untuk melihat deretan toko-toko di pinggir jalan dimana salah satunya menjual boneka Barbie.
Filly sudah bisa bicara banyak, bernyanyi dan menari. Ia selalu menunjukkannya padaku. Aku bertepuk tangan untuknya sambil berkata dalam hati bahwa putriku sangat berbakat. Aku menangis karena ketidakmampuanku membelikannya baju baru di hari lebaran kemarin. Tapi bukankah aku seharusnya bersyukur karena dengan uang itu aku bisa memperpanjang nafas kehidupan kami.
Bis berhenti di halte tidak jauh dari rumahku tapi kakiku masih ragu untuk melangkah menuju Filly. Aku berjalan melewati beberapa tetangga yang menyapaku. Mereka adalah sebagian ibu-ibu yang tidak perlu mencari nafkah. Anak-anak mereka juga bermain dengan Filly, dan dari situlah Filly mengenal Barbie.
Aku melihat Filly dari kejauhan, seorang anak tetangga sedang bermain bersamanya. Ia melihatku dan menunjuk ke arahku. “Mama” aku mendengar sayup-sayup suaranya.
Filly tidak seperti biasanya berlari mendatangiku dan menggandengan tanganku. Ia mendorong pintu mini market, berjalan masuk dan memilih-milih es krim kesukaannya. Penjaga toko sudah tahu kesenangan Filly dan ia membantu memilihkannya. Filly mengambil es krim strwaberry lalu menunjukkannya padaku.
Di luar gerimis mulai turun. Aku menarik tangan Filly, menatap dua matanya dan mengambil es krimnya dengan selembut mungkin. “Filly jangan makan es krim dulu ya. Sekarang lagi hujan, nanti Filly sakit,” begitulah aku berkata.Filly melepaskan es krimnya dan memberikannya padaku. Aku berharap Filly tidak menganggantinya dengan jajanan lain karena uang terakhirku sudah kupakai untuk ongkos bis. Tidak ada lagi gaji tersisa buat bulan ini dan aku memastikan membuat hutang baru atau menjual kalung emas pemberian suamiku. Aku mengembalikan es krim itu ke tempatnya semula.
Mata Filly berkaca-kaca seperti mengatakan kalau aku bisa menggantinya dengan jajanan lain seperti biasanya. Filly menurunkan tangannya. Ia tersenyum padaku tapi tidak sampai terlihat giginya yang ompong. Ia berkata, “Ma, Filly-kan sudah besar. Filly gak usah jajan lagi. Mendingan uangnya ditabung buat Filly sekolah nanti.”
Aku menyembunyikan tangisanku dengan memeluk Filly tanpa memedulikan para penjaga toko yang memerhatikan kami. Aku menggandeng tangan Filly dan berjalan keluar. (Nop’2010)
Print Artikel Ini





Penggambaran yg luar biasa. Kita tidak hanya dapat membayangkannya saja, tetapi sekaligus seolah-olah menjadi orang tuanya Filly secara langsung…
[Reply]