Bersyukur Adalah Awal dari Kedamaian
Agama Tuesday, April 12th, 2011 114 views
Print Artikel Ini
Oleh. H. Shalih Mangara S. SH, MH.
(Sekretaris Kongres Umat Islam Bekasi)
Kondisi yang kian sarat dengan perilaku destruktif saat ini, memaksa kita untuk memburu ketenangan dan kedamaian. Beragam cara dilakukan untuk memperoleh ketenangan dan kedamaian hidup. Mulai dari perilaku positip sampai dengan perilaku negatif. Mulai dari memperbanyak ritual ibadah sampai dengan mengkonsumsi Narkoba. Semuanya bertujuan memburu kondisi yang menenangkan dan mendamaikan. Padahal bagi orang-orang yang berfikir, ia menyadari bahwa ketenangan itu tidak akan didapatkan sebelum benar–benar menikmati hidup ini. Merasakan bahwa hidup ini pasti ada arti dan makna. Rasakanlah bahwa hidup ini adalah Anugrah yang mencerminkan Kasih Sayang Allah.
Permasalahan-permasalahan hidup yang dihadapi di dalam dunia ini hanyalah sebagai tahapan–tahapan dari penampakan wujud Tuhan. Ibarat seorang pembuat keris, ia akan membakar dan menempa besi kemudian di bentuk untuk menjadi sebuah keris yang indah. Begitu pula halnya manusia, ujian–ujian dan cobaan adalah merupakan tempaan–tempaan dari Allah Swt sebagai tanda Cinta Kasih-Nya. Kalau sudah begitu kenyataannya, mengapa kita tidak menerimanya dengan lapang dada?.
Allah SWT berfirman : “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS, Ibrahim : 7)
Sering kita beranggapan bahwa bersyukur atas nikmat Allah itu adalah sebatas apa saja yang didapatkannya diluar diri kita. Padahal lebih utama dan untuk pertama kalinya kita harus bersyukur diri kita sendiri, bahwa apa–apa yang ada pada diri kita, baik zahir dan batin adalah karunia dan nikmat Allah terbesar yang sudah sepantasnya tidak boleh kita lupakan begitu saja. Wajar, jika Allah memberikan ujian dan cobaan kepada kita untuk senantiasa mengingatkan hambanya bahwa Allah sangat dekat dan sangat nyata, sehingga nikmat Allah pada diri kita pada hakikatnya meliputi diri kita yang zahir maupun yang batin.
Kesadaran kita bahwa segala apa–apa yang ada pada diri kita adalah nikmat Allah. Nafas adalah nikmat Allah, penglihatan nikmat Allah, pendengaran nikmat Allah, penciuman nikmat Allah begitu pula darah yang selalu mengalir disekujur tubuh kita, jantung yang selalu memompanya juga nikmat Allah dan segala apa saja organ–organ tubuh yang bekerja semuanya adalah nikmat Allah, milik Allah, karena Allah dan dengan izin Allah semata.
Siapapun yang berusaha mensyukurinya dengan keyakinan bahwa semua yang ada pada dirinya adalah karunia dan nikmat Allah terbesar sebagai landasan cinta kasih Allah kepadanya, maka sebagai penghargaan dari Allah kita akan menambahkan nikmat-Nya yang lain (yaitu karunia Allah yang datang dari luar dirinya, seperti rezeki, jodoh, kedudukan dll). Akan tetapi barang siapa yang lupa akan nikmat karunia Allah yang ada pada dirinya berarti sama halnya ia lupa akan Allah yang memberikan nikmat itu sebagai I’tibar (cerminan) adanya Allah dekat dan meliputi akan dirinya. Lalu bagi siapa yang lupa akan Allah, maka Allah akan menurunkan berbagai macam ujian dan cobaan kepadanya agar mereka bisa sadar dan kembali kepada kebenaran (Allah SWT). Kalau sudah begitu berarti ujian dan cobaan itupun termasuk nikmat Allah, karena datangnya ujian tersebut untuk mengingatkan hambanya agar hambanya menyadari bahwa Allah sayang kepadanya.
Allah SWT mengingatkan kita sampai 31 kali di dalam Firman Nya yang disebutkan di dalam surah Ar–Rahman : “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”. (QS, Arrahman:13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77)
Dan di dalam surah yang lain Allah berfirman : “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS, An – Nahl : 18).
Sungguh sangat banyaknya nikmat karunia Allah yang sudah diberikan Nya kepada kita, sampai–sampai kita tidak akan sanggup untuk menghitungnya. Karena itu Allah memerintahkan kita untuk membaca surah Al–Fatihah berulang kali di setiap kita Shalat dan termasuk salah satu Rukun Shalat yang apabila tidak membaca surah Al – Fatihah maka batal lah Shalatnya. “Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin”. (Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam). Adalah suatu ungkapan yang menjelaskan bahwa apa saja yang ada di seluruh Jagad Raya ini dan apa saja yang ada pada diri kita hendaklah kita sadari semuanya itu adalah nikmat Allah SWT.
Demikian salah satu Rahasia keagungan dan Kebesaran Allah tentang di balik ujian dan cobaan. Karena itu syukurilah semua kejadian, dengan harapan agar kita senantiasa dimantapkan ke-Iman-an kita serta dibukakan ketentraman dan ketenangan Jiwa. Hidup ini akan nampak indah jika kita mau menerimanya dengan lapang dada apa saja yang datang pada diri kita, dan hal ini adalah bukti Kasih Sayang Allah SWT. Wallahu ‘Alam Bis Shawwab.
Print Artikel Ini





thanks gan Info nya sangat menyentuh hati saya benar gan kita haru mensyukuri segala nIkmat yg di berkan Oleh Allah Swt…
tmapa se Izin allah swt kita tak bisa Hidup dan merasakan kebahagian Hidup di dunia…dan harus bersabar dalam menghadapi hidup yg penuh dengan rintangan dan menuju ke sukses…salam kenal gan good luck
[Reply]