Puisi : Menyibak Bayangmu Di Tepian Musi
Kaki-kaki Jembatan Ampera yang kokoh menghunjam
pada dasar batang sungai anggun mengalir, seakan bertutur
tentang kisah-kisah yang berlalu dari musim ke musim,
tentang cinta, harapan, impian, juga kehilangan
Dan di tepian Musi, mengenangmu bersama senja yang jatuh perlahan
Bagai menyibak garis-garis samar bayangmu pada riak air dan
pantulan muram cahaya petang matahari diatasnya
Ketika menemukanmu kembali adalah kemustahilan semata,
dan segala ihwal tentangmu hanya menyisakan misteri yang menguap bersama kabut
serta jejak-jejak tak terpindai
Maka akan kularutkan segala kata dan rindu padamu lewat deras alir sungai,
kerlip lampu menara jembatan dan perahu yang melintas
bersama derai gerimis yang jatuh membasahi bumi Sriwijaya
juga segala kenangan tentang kita yang luruh tak terlerai
Palembang, 04062011
YouTube video
Aris Heru Utomo:
June 18th, 2011 at 1:09 AM
Ditangan Daeng Amril, jembatan Amperayang kusam dan sarat beban memunculkan kerinduan akan masa jaya jembatan ini ketika pertama kali dibangun. Saat itu, terdengar desah nafas lembut ketika kapal tongkang melintas diselangkangan jembatan Ampera. Kini tidak ada lagi desah nafas itu karena saya pun tak tahu apakah masih ada nafas disana.
[Reply]
web design idea:
June 20th, 2011 at 6:35 PM
wah artikel yg menarik mas,,,
saya suka sekali,,,
[Reply]