Puisi : Menyibak Bayangmu Di Tepian Musi

 

Kaki-kaki Jembatan Ampera yang kokoh menghunjam

pada dasar batang sungai anggun mengalir, seakan bertutur

tentang kisah-kisah yang berlalu dari musim ke musim,

tentang cinta, harapan, impian, juga kehilangan

Dan di tepian Musi, mengenangmu bersama senja yang jatuh perlahan

Bagai menyibak garis-garis samar bayangmu pada riak air dan

pantulan muram cahaya petang matahari diatasnya

Ketika menemukanmu kembali adalah kemustahilan semata,

dan segala ihwal tentangmu hanya menyisakan misteri yang menguap bersama kabut

serta jejak-jejak tak terpindai

Maka akan kularutkan segala kata dan rindu padamu lewat deras alir sungai,

kerlip lampu menara jembatan dan perahu yang melintas

bersama derai gerimis yang jatuh membasahi bumi Sriwijaya

juga segala kenangan tentang kita yang luruh tak terlerai

Palembang, 04062011

YouTube video

2 comments on this post.
  1. Aris Heru Utomo:

    Ditangan Daeng Amril, jembatan Amperayang kusam dan sarat beban memunculkan kerinduan akan masa jaya jembatan ini ketika pertama kali dibangun. Saat itu, terdengar desah nafas lembut ketika kapal tongkang melintas diselangkangan jembatan Ampera. Kini tidak ada lagi desah nafas itu karena saya pun tak tahu apakah masih ada nafas disana.

    [Reply]

  2. web design idea:

    wah artikel yg menarik mas,,,
    saya suka sekali,,,

    [Reply]

Leave a comment