Pagi, Jati makmur - Pondok Gede - Kali Malang- Rawamangun. Sore, Rawamangun -Kali Malang - Pondok Gede - Jati Makmur. Ya, itulah rute keseharianku, melintas di antara dua propinsi Jawa Barat dan Jakarta. Yang juga berarti sekaligus melintas di antara dua kota, Bekasi dan Jakarta. Sebuah rutinasitas yang bisa jadi, merupakan kebiasaan sebagian besar masyarakat kota Bekasi.
Ya, tak terpungkiri itulah realita yang terjadi. Perhatikan saja setiap harinya, bagaimana di pagi buta ruas-ruas jalan dari daerah Bekasi menuju arah Jakarta dipadati berbagai macam kendaraan yang melintas. Bukan hanya untuk urusan kerja sepertinya, tapi juga untuk urusan pendidikan. Hal itu bisa diperhatikan dari banyaknya pelintas yang mengenakan seragam sekolah.
Kenapa? Di satu sisi, jelas hal ini berhubungan dengan posisi Bekasi sebagai penyangga kota Jakarta. Namun tidakkah di sisi lain, hal ini menunjukkan ketergantungan Bekasi yang cukup besar terhadap Jakarta. Bekasi belum mampu menyediakan lapangan pekerjaan serta sarana pendidikan yang layak bagi warganya.
Berposisi sebagai kota penyangga, mau tak mau Bekasi memang harus berhadapan dengan hal semacam ini. Menjadi bayang-bayang sang kota sentral. Baik dalam hal pembangunan maupun jati diri. Tapi tentu saja, hal ini bukan berarti membuat Bekasi harus menjadi “ketergantungan” dan kehilangan jati dirinya.
Satu hal kecil, mengacu pada sisi sejarah Bekasi memiliki latar belakang karakteristik yang cukup kuat. Bukankah nama Bekasi sendiri bila diurai memiliki kandungan nilai historis yang cukup dalam? Lalu, tidakkah predikat posisi sebagai ibu kota kerajaan Taruma Negara (358-669) dahulu seharusnya menjadi modal cukup kuat bagi Bekasi untuk membangun sebuah kota yang berkarakteristik?
Posisi Bekasi pada masa itu memegang peran cukup sentral. Bekasi menjadi daerah penghubung jalur perdagangan antara kerajaan dengan Pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta.
Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri, itulah sebutan Bekasi tempo dulu sebagai ibu kota Kerajaan Tarumanagara, tempat asal-usul Maharaja Tarusbawa (669-723 M) sang pendiri Kerajaan Sunda yang seterusnya menurunkan raja-raja Sunda sampai generasi ke-40 yaitu Ratu Ragumulya (1567-1579 M) Raja Kerajaan Sunda- disebut pula Kerajaan Pajajaran- yang terakhir.
Catatan sejarah membuktikan, kalau Bekasi seharusnya tidak sekedar menjadi kota penyangga yang kehilangan jati diri terlindas bayang-bayang kota yang disangga. Bekasi mampu menjelma menjadi sebuah kota yang berkarakter kuat bila ditelusur berdasar perjalanan sejarahnya.
Dalam berbagai era perjalan sejarah di Nusantara, Bekasi selalu memegang peran cukup penting sebagai sebuah kota. Baik itu di masa kerajaan, kolonialisme, perebutan kemerdekaan, dan pasca-kemerdekaan. Berdasar hal itu, seharusnya masyarakat Bekasi bangga akan kota tempat tinggalnya. Ironisnya, sepertinya hal itu tak terjadi.
30 Juli 1980 seorang bayi terlahir di daerah Pondok Gede, Bekasi. Masa kecil hingga masa remaja dihabiskannya di Bekasi. Ia hidup di tanah Bekasi, menghirup napas di Bekasi namun setiap kali ia keluar kota dan ditanya asalnya dari mana ia akan lebih nyaman menjawab: “Jakarta”.
Ia malu menjawab “Bekasi”. Ia tak bangga menjadi orang Bekasi. Namun disuatu hari ia menyadari, bila ingin Bekasi menjadi kota yang “kuat” dan berkarakteristik maka warganya harus mulai menumbuhkan kebanggaan terhadap kota tempat tinggalnya. Kebanggan akan menumbuhkan rasa memliki, rasa memiliki akan menumbuhkan rasa kebersamaan untuk membangun kota tempat tinggalnya, Bekasi.
Orang itu adalah saya. Seseorang yang berjanji bila ada yang menanyakan dari mana asalnya nanti, akan menjawab dengan bangga, “aku orang Bekasi”.



