PUNCAK DERITA DAN SENGSARANYA RAKYAT BEKASI
Bekasi-Ku Wednesday, February 6th, 2013 722 views
Print Artikel Ini
PEMISKINAN DI KABUPATEN BEKASI MENGGANAS
Tidak Ada Biaya, Pasien Miskin di Muaragembong Terpaksa Jual Rumah Buat Bayar Rumah Sakit
MUARAGEMBONG
Sungguh malang nasib yang dialami oleh keluarga Nurlindah (21) warga Kampung Begedor RT 02 RW 01, Desa Pantai Harapan Jaya, Kecamatan Muaragembong ini.
Pascamelahirkan melalui operasi cesar di salah satu rumah sakit swasta di Kota Bekasi (10/1) lalu, keluarga miskin ini harus kehilangan tanah dan rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, untuk membayar biaya rumah sakit.
Bahkan, bukan hanya itu, keluarga miskin ini masih menanggung hutang sebesar Rp 22 juta. Lantaran biaya rumah sakit mencapai hampir Rp 50 juta. Sedangkan dari hasil pinjaman dan penjualan tanah serta rumahnya hanya Rp 28 Juta.
“Untuk biaya rumah sakit kami sudah membayar Rp 14 juta dan untuk membeli obat sekitar Rp 10 jutaan. Saat ini kami masih punya hutang sebesar Rp 22 jutaan terhadap Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Bella di Kota Bekasi,” ujar Maryanih (50) ibu kandung dari Nurlindah kepada Cikarang Ekspres saat ditemui di rumahnya.
Dengan kondisi saat ini, pihak keluarga merasa kesulitan untuk membayar. Pasalnya tanah dan rumah yang menjadi harta satu-satunya pun telah habis. Sedangkan jatuh tempo untuk pembayaran di beri waktu selama tiga bulan oleh pihak rumah sakit. Kini pihak keluarga hanya bisa pasrah.
“Kami hanya bisa pasrah saja, terserah saja kami sudah tidak punya apa-apa lagi buat membayarnya,” ungkapnya sedih.
Menurut Maryanih, pihak keluarga bukan tidak berupaya untuk mengajukan Jaminan Kesehatan Daerah dari Pemerintah Kabupaten Bekasi. Setelah pasien masuk rumah sakit pihak keluarga langsung mengurus persyaratannya melalui pegawai desa setempat. Namun, pihak rumah sakit menolaknya dengan alasan tidak ada kuota kerjasama antara Pemkab Bekasi dan RSIA Bella.
“Kami sudah berusaha mengurusnya tapi ditolak, katanya tidak ada kerjasama antara pemkab sama pihak rumah sakit,” cetusnya.
Ia menjelaskan perihal pihak keluarga yang memilih berobat ke rumah sakit di Kota Bekasi ketimbang RSUD Kabupaten Bekasi. Ia beralasan jarak rumah sakit di wilayah kota lebih dekat ketimbang kabupaten. Ia menerangkan kondisi pasien saat di bawa kerumah sakit sudah kritis karena mengalami gejala keracunan kehamilan. Sebelum di rawat di RSIA Bella, Nurlindah sempat di bawa ke RS Tiara dan RSU Kota Bekasi namun ditolak dengan alasan tidak ada ruangan.
“Jarak RS di Kabupaten sangat jauh dari sini, karena saat dibawa kondisinya sudah kejang-kejang. Kami langsung bawa ke RS Tiara karena jaraknya lebih dekat. Di sana ga ada peralatannya, kemudian kami bawa ke RSU Kota Bekasi kamipun ditolak disitu katanya tidak ada ruangannya. Karena kondisinya semakin menghawatirkan kami larikan ke RSIA Bella untuk mendapat pertolongan,” jelasnya.
Setali tiga uang pasca dioperasi caesar kondisi kesehatan Nurlindah terus menurun. Menurut Rosadi suami dari Nurlinda, saat ini kondisi istrinya seperti hilang ingatan, banyak bengong dan tidak mengenal keluarga. Kondisi badannya pun semakin kurus karena tidak mau makan. Padahal menurut Rosadi, saat massa kehamilan istrinya selalu rutin memeriksa kandungannya.
“Kondisi kesehatannya semakin turun, dia seperti tidak mengenal keluarganya. Seperti kosong pikirannya,” jelasnya.
Rosadi menjelaskan, saat di rumah sakit istrinya menjalani perawatan selama 16 hari. 13 hari diantaranya berada di ruang ICU. Menurutnya selama di ruang ICU Nurlindah tidak sadar hampir seminggu setelah dioperasi.
“Dalam operasi itu anak saya selamat dan di beri nama Nurcholifah. Namun ibunya sempat koma selama satu minggu dan kami sangat menghawatirkannya,” tuturnya.
Ia mengaku pasrah dengan kondisi istrinya saat ini, pasalnya untuk biaya berobat lagi, pihak keluarga sudah tidak memiliki biaya. Apalagi saat ini pihaknya masih mempunyai hutang biaya rumah sakit sebesar Rp22juta.
“jangankan buat biaya berobat, buat ngelunasin hutang saja kami tidak bisa,” tandasnya.
Kini ia berharap Pemkab Bekasi melalui Dinas terkait bisa membantu, mengingat pihaknya sudah tidak mampu lagi untuk membayar. Saat ini pihak keluarga merasa khawatir jika dalam tempo tiga bulan tidak sanggup membayar, pihak
rumah sakit akan menuntutnya.
“Yang kami takutkan gimana kalau dalam tiga bulan ini tidak sanggup bayar, kami takut pihak rumah sakit menuntut kami,” tukasnya.
Sementara salah seorang dokter relawan PMI dr Ucu Surya J sewaktu menggelar pengobatan gratis diwilayah itu mengatakan, menurunnya kondisi Nurlinda karena disebabkan faktor psikis dan fisikologisnya. Menurutnya, pascamelahirkan kondisi fisiknya belum stabil sudah dihadapkan dengan persoalan hutang yang begitu besar.
“Saya menduga faktor psikisnya tertekan sehingga seperti itu, ini sangat berbahaya kalau terus dibiarkan. Dan itu harus dibantu,” pungkasnya. (mar).
Print Artikel Ini



Semoga saja kabar ini di dengar oleh Ibu Bupati yang terhormat dan masih punya hati nurani untuk menolong yang susah. Kekayaan berlimpah dan jabatan yang menjadi amanat semoga tidak membutakan. Yang tertimpa musibah semoga segera sembuh dan diberikan jalan terang, diberikan kesabaran. Benar2 miris mendengarnya.
[Reply]
inilah bekasi-ku…
orang miskin ga boleh sakit…
karena sehat itu mahal!!!
[Reply]
yang nulis siapa itu ya..kayaknya cocok jadi Bupati……*hmmm
[Reply]
tetap sabar n tabah, semoga segala kesulitan dimudahkan Tuhan YME
[Reply]
support buat orang bekasi
[Reply]
Pak Munawar, bagaimana kalau mulai digerakkan aksi “koin untuk bu Nurlinda” ?
[Reply]
thanks informasinya ghan ,,,, dan terus berkarya
[Reply]
salam sukses,, terimakasih ghan ,,infonya
[Reply]
terimakasih nih, langsung saya kunjungi deh gan
[Reply]
subhanallah ,,, semoga dapat berkah semuanya
[Reply]
berkah selalu buat saudara blogger semua
[Reply]
apapun itu yang penting hidup penuh cinta dan kedamaian
[Reply]
informasi dan artikelnya bagus banget
[Reply]
nice artikel ghan
[Reply]
nice pos ndannn
[Reply]
informasinya bantu ane banget ghan ,,
[Reply]
good artikel ndan,,,
[Reply]
semoga berkah melimpah buat kita semua ghan ,, thanks infonya unik
[Reply]
mantep nih artikelnya ndan
[Reply]
semoga berkah ghan,,, dan kemiskinan segera teratasi
[Reply]
payah juga ghan ,,, kayak
[Reply]
inilah bentuk kesejahtraan yang tidak merata ghan
[Reply]
Sedih membacanya…
Pejabat yang memalukan…
[Reply]
makasih infonya
[Reply]
Artikel yang sangat menarik serta bermakna gan.Terimakasih dan salam kenal. Semoga menjadi suatu informasi yang berkah.
[Reply]
Terimakasih banyak atas informasinya.
[Reply]
oh jadi begitu, lumayan juga tuh.
[Reply]
wh, kasihan bgt tuh, rakyat bekasi..?
iya moga moga, dibalik semua itu, mereka mendapat hikmah yang luar biasa amiien ;D
[Reply]
semoga dengan adanya tulisan ini, dapat meringankan baban yang sedang di hadapi dan menggugah perhatian PEMKAB untuk lebih memaksimalkan perhatiannya kepada masyarakat “kecil”…
[Reply]
Oh jadi begtiu.
[Reply]
Bukan hanya di Bekasi Kang MAs yang mengalami hal semisal ini,namun di Kota sayapun juga demikian,Memang kayaknya banyak kebijakan pemerintah yang kurang pro terhadap rakyat kecil,Semoga kedepan banyak pemimpin yang semakin memiliki care terhadap rakyat secara mendalam dengan hati nurani kepemimpinannnya
[Reply]
terimakasih banyak buat informasinya, ini sangat bermanfaat sekali.
[Reply]
Artikel yang sangat bermanfaat, dan memberikan pelajaran yang bagus.
[Reply]
boleh juga nih.
[Reply]
Bagus banget artikelnya.
[Reply]
Setuju banget kalo begitu.
[Reply]
bagus banget tuh, sangat bermanfaat untuk kita semua.
[Reply]
Mudah-mudahhan ad orng seperti dahlan iskan lagi yang bakal memakmurkan bekasi
[Reply]
makasih dah berbagi semoga sukses dengan blogenya,lam kenal….
[Reply]
Terimakasih atas informasinya ,sangat bermanfaat sekali dan semoga menjadi amal baik bagi anda dan orang lain
Sukses selalu …………..
[Reply]
Terimakasih atas informasinya ,sangat bermanfaat sekali dan semoga menjadi amal baik bagi anda dan orang lain
Sukses selalu
[Reply]
makasi informasinya…
[Reply]
info yang menarik gan , patut jadi sebuah pelajaran untuk kita semua
[Reply]
ngumpulin koinnya dimana pak?
[Reply]