Pertanian Organik, Paling Indonesia
Artikel Friday, May 20th, 2011 396 views
Print Artikel Ini
Organik, Paling Indonesia….!
Kembali ke alam. Kembali ke masa lalu. Mencecap kearifan lokal. Yang ada di seputar kita. Dalam diri kita. Dalam diri nenek moyang kita. Dalam tradisi kita. Dan, salah satunya adalah Tanaman Organik. Dan, organik itu paling Indonesia.
Pupuk kimia.
Kadang saya mikir, jangan-jangan ini memang disengaja. Diproduksi memang ditujukan untuk menghancurkan petani dan alam Republik ini. Terbukti kemudian pemakaian pupuk kimia dapat menglumatkan kesuburan tanah. Tak hanya itu, perlahan tapi pasti, bahan kimia itu terbawa ke produk pertanian dan dikonsumsi. Yang ujung-ujungnya, manusia pun terkena dampak pupuk kimia. Dari yang kita makan, bisa jadi ada kandungan kimia yang terlahap sampai ke usus dan lambung. Bisa jadi karena inilah kemudian macam-macam penyakit hinggap pada manusia.
Menurut sebuah sumber, pupuk kimia dapat menyebabkan unsur nitrogen menjadi tinggi. Zat tersebut akan terserap ke dalam tanah dalam bentuk nitrit. Dan, dalam kondisi tertentu akan diubah menjadi nitrat. Dan, bila tubuh melahap buah atau sayur yang mengandung nitrat, maka tubuh akan mencerna menjadi nitrosamine yang pada gilirannya akan menjadi pencetus kanker lambung atau kanker lainnya.
Pertanian organik berbeda. Haram hukumnya menggunakan pupuk kimia dalam pertanian organik. Metode ini mengandalkan bahan-bahan alami. Bukan pupuk kimia. Pertanian organik lebih sehat bagi manusia dan lebih ramah terhadap lingkungan.
Kementrian Pertanian mencatat pertanian organik hanya baru mencapai 5-7% dari total produksi yang diperdagangkan di dunia internasional. Sebagian besar disuplai oleh negara-negara maju : Australia-Amerika dan Eropa. Di Asia didominasi oleh Jepang, Taiwan dan Korea.
Hampir semua hortikultura dapat ditanam dengan metode pertanian organik ini. Mulai dari sayuran-buah-tanaman obat dan lain-lain. Di sebuah balai pengobatan autis di Bandung, mereka diwajibkan mengonsumsi makanan organik.
Bekerjasama dengan beberapa teman di Kelompok Tani Agribisnis dan Pupuk Organik, saya bermimpi suatu ketika bisa membangun perkampungan organik. Bekerjasama dengan Pesantren Pertanian At Taufik, Sukakerta-Sukawangi, Kab. Bekasi dan SMK Pertanian At Taufik, Poktan akan bersinergri untuk membangun agro industri organik. Dan, pertanian organik paling Indonesia. (kim)
Print Artikel Ini





budayakan produk2 indonesia,,,
memang sngad bgus menggunakan pupuk organik,,
[Reply]
Sehat itu mahal atau sakit itu mahal ya !! , selain sayuran air yang kita minum juga kurang sehat , kalo sayurannya organik minumannya air murni yang bebas cemaran insya Allah makin sehat ya ..
[Reply]
moga-moga aja makin maju
[Reply]
MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA DATANG PANEN
Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia.
NPK yang terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita.
Produk ini dikenalkan oleh pemerintah saat itu sejak tahun 1969 karena berdasarkan penelitin bahwa tanah kita yang sangat subur ini ternyata kekurangan unsur hara makro (NPK).
Setelah +/- 5 tahun dikenalkan dan terlihat peningkatan hasilnya, maka barulah para petani mengikuti cara tanam yang dianjurkan pemerintah tersebut.
Produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1985-1990-an pada saat Indonesia mencapai swasembada beras.
Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia.
Mereka para petani juga lupa, bahwa penggunaan pupuk dan pengendali hama kimia yang tidak terkendali, sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur, semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.
Data statistik menunjukkan bahwa sejak swasembada beras 1985-1990-an hingga sekarang, ternyata produktifitas sawah-sawah kita mengalami penurunan produksi yanmg sangat significan, sejalan dengan menurunnya kualitas tanah sawah2 kita.
Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.
System of Rice Intensification (SRI) yang telah dicanangkan oleh SBY sejak tahun 2005 adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas hasil juga lebih baik.
Tetapi sampai kini masih juga belum mendapat respon positif dari para petani kita.
Karena pada umumnya mereka para petani kita beranggapan bahwa walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam proses budidayanya.
Selain itu petani kita karena sudah terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dan serba instan dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, dan umumnya sangat berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.
Atau mungkin solusi yang lebih praktis ini dapat diterima oleh para petani kita, yaitu:
BERTANI DENGAN POLA GABUNGAN SISTEM SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK LENGKAP “AVRON”.
Cara gabungan ini hasilnya tetap PADI ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki pada pola SRI, tetapi cara pengolahan lahan/tanah sawahnya lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.
Karena AVRON merupakan pupuk organik lengkap yang memenuhi kebutuhan unsur hara makro dan mikro tanah yang penggunaannya sangat mudah, dan yang paling penting adalah relative lebih murah.
Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.
AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI!!!!
SIAPA YANG AKAN MEMULAI?
KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI?
KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?
Terimakasih,
[email protected]
[Reply]