Musim Semi di Shenzhen
Sosial-Budaya Friday, March 18th, 2011 1,312 views
Print Artikel Ini
Musim semi sedang memeluk kota Shenzhen di bulan Februari 2011. Udara dingin sekitar 10-150C begitu terasa di jemari ketika kami memasuki perbatasan Hongkong dan Shenzhen di sore hari. Di kantor imigrasi kami mengantri keluar dari imigrasi Hongkong langsung menuju pemeriksaan Shenzhen di ujung bangunan yang sama. Hongkong dan Shenzhen hanya dipisahkan sebuah teluk yang dihubungkan sebuah jembatan beberapa kilometer. Ketika keluar dari gedung imigrasi bis kami sudah menunggu dan siap memasuki kota industri di Cina. Tak lama ,kami memasuki kota yang penuh dengan bangunan gedung dan apartemen kota Shenzhen. Tak terlihat sebuah rumahpun yang menyendiri di atas tanah seperti umumnya di Indonesia. Kabarnya,hanya orang-orang kaya yang sanggup membeli rumah sendiri di luar apartemen.
Gelap telah mulai melingkupi kota saat kami tiba di hotel Century di pusat Shenzhen.Setelah menaruh barang-barang di kamar,kami segera berangkat ke restoran tak jauh dari hotel. Berjalan kaki di sini ternyata sangat menyenangkan. Trotoar 1-2 mtr tersedia bagi pejalan kaki tanpa khawatir diserobot motor atau kepentok pedagang kaki lima yang memenuhi trotoar seperti di Jakarta. Sejauh yang kami jumpai hanya ada 1 toko kecil pedagang Koran di trotoar yang cukup lebar sehingga tidak terlalu mengganggu. Di restoran yang berada di sebuah gedung perbelanjaan kami menikmati makan malam bersama. Terkadang ada kesulitan juga karena pelayannya ternyata tidak bahasa Inggeris,sementara teman kami yang etnik Chinese pun tidak bisa berbahasa setempat.
Selesai makan ,rombongan kami diajak belanja ke pasar murah bernama Louhu Market. Harga-harga di sini sebenarnya tak selalu murah. Pembeli harus pintar menawar barang. Seorang teman membeli koper dengan harga Rmb100 (sekitar Rp 110.000,-) dari harga yang semula ditawarkan Rmb 400. Seorrang teman yang bangga membeli sebuah dompet seharga 60 RMb dari harga semula ditawarkan 100 Rmb kecele setelah tahu di tempat lain dijual 5 bh untuk 100 Rmb. Suasananya mirip pasar Mangga Dua sebenarnya. Sebagian pedagang juga bisa berbahasa Indonesia sedikit-sedikit. Entahlah apakah mereka keturunan Indonesia atau mengerti sedikit bahasa Indonesia karena sering berjumpa pembeli dari Indonesia. Sekali waktu kami berpapasan dengan pembeli dari Bandung.”Periksa hiji-hiji”,katanya ke temannya. Setelah berkeliling,kami kembali ke Hotel di tengah cuaca yang semakin dingin.
Esok paginya sebelum sarapan, cuaca cukup sejuk saya manfaatkan untuk berkeliling seputar hotel bersama seorang teman. Hari minggu pagi itu kenderaan tidak terlalu banyak lalu lalang. Bus umum di sini tidak banyak seperti di Jakarta. Hanya ada bus panjang dan bis tingkat serta taxi. Bus umum berhenti di halte-hal yang ditentukan. Tak ada bis yang berhenti di sembarang tempat. Haltenya pun sederhana.hanya sekedar penutup untuk berlindung tanpa bangku. Saya terpesona dengan kebersihan kota ini. Jalanan terlihat selalu bersih tanpa serakan sampah. Pagi itu kami melihat petugas yang menyapu jalanan dan melap tong sampah dengan air sehingga terlihat bersih kembali.
Yang lebih mengagetkan ternyata tidak ada motor Jepang sama sekali di China,khususnya Shenzhen. Hanya ada motor listrik buatan Cina tanpa suara dan polusi.Jumlahnya pun tidak banyak. Barangkali jumlah motor karyawan di pabrik perusahaan kami lebih banyak dari motor yang kami temui di jalanan kota Shenchen saat itu. Untuk mobil,memang ada juga mobil-mobil Jepang seperti Toyota Camri, maupun mobil Korea dan Eropa. Tapi mobil merk Cina juga banyak berseliweran.
Barangkali bila Indonesia bisa seperti Shenzhen, kita tidak perlu bersesak dalam kemacetan di jalan raya.Namun persoalannya mungkin tidak mudah karena menyangkut kebijakan pemerintah masing-masing. Pemerintah Cina kabarnya memiliki kebijakan untuk membatasi masukknya produk Jepang karena menyangkut nasionalisme untuk tidak mau kalah dari Jepang. Sementara pemerintah kita bangga bila investor Jepang masuk ke Indonesia dan puas Indonesia sekedar tempat perakitan dan pasar produk Jepang selama puluhan tahun.
henzhen tidak hanya menawarkan keindahan kota bagi para wisatawan. Mereka juga menyediakan tempat hiburan yang cukup mengagumkan. Salah satunya adalah Window of the World. Di tempat hiburan ini, orang bisa melihat tempat-tempat keajaiban di dunia, dalam bentuk miniatur, seperti Candi Borobudur, Gunung Himalaya, Air terjun Niagara. Menara Pisa. Hanya satu dalam ukuran besar yang mirip aslinya yaitu Menara Eiffel dengan tinggi sekitar 100 mtr.
Splendid China adalah tempat hiburan lain yang menyuguhkan budaya Cina. Kami sempat menyaksikan Horse War, semacam perang berkuda yang melibatkan puluhan pemeran. Setelah itu ada pertunjukan tarian yang sangat menarik di Impression Theather, yang dikemas dengan musik,tata lampu dan permainan panggung menggunakan hidrolik. Panggung bisa berubah dalam sekejab tanpa jeda.
Di salah satu panggung outdoor ,pemainnya hampir 500 orang. Penampilan kolosal yang spaktakuler sangat mempesona para penonton. Permainan panggung hidrolik yang bisa naik turun dan maju mundur, lampu megah warna-warni, , kawat baja, sinar lasser, binatang seperti kuda,domba,gajah betul-betul mengagumkan. Ketika kita masih terfokus pada satu adegan ternyata panggung sudah berubah dengan adegan lain. Penggunaan spotlight juga dipergunakan untuk mengalihkan perhatian penonton ketika ada perubahan adegan.Pelajaran yang bisa dipetik dari sini adalah bila melakukan suatu acara, kemaslah secara kolosal, melibatkan tekonologi dan permainan musik dan lampu yang megah.Sehingga hasilnya adalah decak kagum dan seruan Wooooow….
Ungkapan Belajarlah hingga ke negeri Cina memang bukan sekedar basa-basi. Hanya dalam 30 tahun, Shenzhen sudah berhasil membangun kotanya menjadi sebuah kota modern, tertata rapi, bersih dan bebas dari kemacetan sebagaimana kota-kota besar lain. Kemanapun kami pergi sepanjang perjalanan 3 hari di kota ini, serasa terus berada di wilayah Sudirman,Thamrin dan Gatot Subroto, Semua itu tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang pro pada pembangunan yang terencana dengan baik dan juga kepatuhan warganya pada kebijakan yang sudah diambil. Saya mendesahkan harap semoga pemerintah daerah Jakarta dan kota-kota lain mau berkunjung dan belajar dari kota ini. Barangkali di tengah dinginnya musim semi dan udara yang bersih, kita bisa berefleksi dengan jernih untuk membangun kota-kota di sini dengan lebih baik.Semoga.
Print Artikel Ini



Wah seru nich om kayaknya..
[Reply]
Rihat Hutagalung Reply:
April 16th, 2011 at 1:45 AM
@Ide bagus, Seru dan menyenangkan pak bagus.Trims sudah berkunjung
[Reply]
Indonesia rela menjadi wadah produk2 Jepang dan Cina karena memang pemerintahnya haus pajak dan masyarakat kita juga sangat konsumtif, padahal kalo mau kita bisa untuk mandiri sprti Shenzen..
‘Cina’ilah ploduk-ploduk Indonesia heee..
[Reply]
Rihat Hutagalung Reply:
April 16th, 2011 at 1:48 AM
@Sutan, Yang patut kita hargai adalah nasionalisme mereka untuk menggunakan produk sendiri,bayangkan tidak ada satupun motor Jepang di sana pak,hanya motor buatan Cina.Beda dengan di sini, mungkin tak ada satupun motor buatan Indonesia.Tapi kembali itu harus dimulai dari kebijakan pemerintah,thanks
[Reply]