Home » Pendidikan » Bahasa asing: kenapa tidak?

Bahasa asing: kenapa tidak?

Adalah wajar apabila kita (orang tua) menginginkan putra-putri kita pintar dan pandai. Adalah wajar pula bila kita menginginkan putra-puti kita selalu mengalami peningkatan prestasi (meskipun tidak signifikan) dalam setiap hal yang diambil. Dapat dipastikan bahwa tiap orang tidak menghendaki yang sebaliknya, stagnasi, atau malah kemunduran, termasuk prestasi putra putri dalam hal  belajar Bahasa Inggris.

Tujuan belajar, apapun itu, memang terjadinya perubahan positif. Tidak ada tujuan negatif apapun. Contoh saja, kita mengkursuskan putra-putri kita Taek Won Do, tentu kita berharap mereka akan mampu menghadapi tantangan yang datang, terutama bersifat fisik (kejahatan) dengan ketrampilan yang didapatkan dari belajar itu. Atau, apabila kita mengkursuskan putra-putri kita Matematika, kita pasti menghendaki mereka bisa lulus ujian atau bisa memecahkan soal matematis, dalam segala situasi. Tentu menjadi kebahagiaan kita, apabila target-target yang kita tentukan dapat tercapai dengan baik, apapun itu.

Sebagai flashback, mungkin masih segar dalam ingatan kita, dulu ketika kita belajar di bangku sekolah dasar kita terkadang begitu susahnya menemukan cara belajar yang baik. Kita masih mencari-cari, bagaimana cara memahami pelajaran-pelajaran itu. Kita terkadang mendapatkan nilai baik (baca: antara 80-100). Tetapi pada lain waktu hanya mendapatkan nilai kecil yang tidak kita harapkan (antara 0 hingga 50). Kita yakin tahu mengapa hal itu terjadi. Padahal kita begitu yakin dengan jawaban kita atas soal-soal yang diberikan. Ternyata jawaban-jawaban tersebut meleset.

Itulah perjalanan masa lalu setiap orang. Kita dulu tidak dapat berpikir layaknya sekarang kita berpikir. Dan itulah dunia anak-anak, yang merupakan bagian perjalanan kita hingga saat ini. Mereka tidak bisa berpikir seperti orang tuanya berpikir.

Anak-anak kita yang saat ini masih belajar, mereka berfikir sesuai dunianya. Dunia anak-anak. Sehingga dalam memaknai apapun memiliki caranya sendiri. Demikian juga terkait dengan pembelajaran, termasuk dalam mempelajari bahasa asing (baca Inggris).

Berkaitan dengan hal ini, mari mencoba berpikir ke belakang, sudah berapa tahunkah belajar Bahasa Inggris. Misalnya, kita mengenal bahasa inggris sejak kelas 1 SMP, berarti hingga lulus SMA sudah 6 tahun belajar. Belum lagi sebagian dari kita sempat kuliah, tentunya berbeda lagi. Kala itu, kita kenal “This is a table.”, “This is a chair.”, “This is a desk.” dan sebagainya. Mungkin saja saat tamat SMA tidak merasa ada hal yang dapat kita implementasikan dalam konteks percakapan. Atau mungkin ketika menyelesaikan pendidikan formal yang lebih tinggi, tidak ada jaminan bisa melakukan percakapan dengan menggunakan bahasa target (Inggris).

Itulah bahasa!

Berbeda dengan Matematika, misalnya. Apabila sudah dijelaskan tentang materi tertentu, ambil contoh; penjumlahan, pengurangan, persamaan, atau deferensial, dan telah memahaminya maka akan lebih mudah dalam pemecahan masalah dengan model soal yang sama.

Tetapi dalam konteks belajar bahasa asing (Inggris) kita tidak serta merta dapat melakukannya seperti dalam hal Matematika. Walaupun keduanya terkait dengan kepiawaian berlogika, karena bahasa dan matematika adalah rumpun logika. Tahapan-tahapan pemerolehan bahasa, misalnya ketrampilan berbahasa (language skill) pertama secara alamiah, adalah seperti pada saat kita dilahirkan, bisa menyimak, berbicara, membaca (pemahaman) kemudian menulis. Keempat ketrampilan itu tidak dapat saling ditukar. Misalnya, anak yang lahir langsung menulis, lalu membaca dan seterusnya. Belum pernah ada temuan akan hal itu. Banyak aspek yang terkait dalam setiap ketrampilan bahasa.

Dari aspek pembelajaran bahasa tampak lebih complicated. Setelah anak mendapatkan kosa kata, ia akan berpikir tentang cara pengucapan (artikulasi) kata tersebut, paling tidak yang paling mendekati native-nya, lalu mencoba memaknainya. Setelah itu, bagaimana merekonstruksi kosa kata tersebut menjadi kalimat yang tidak jauh dari aturan tata bahasa untuk mengungkapkan ide. Selain itu, bagaimana kalimat-kalimat itu dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Belum lagi kita harus merespon pembicaraan orang secara tiba-tiba, karena ide orang tidak dapat diperkirakan, kemudian harus disesuaikan dengan budaya, konteks yang dibicarakan.

Nah, dalam aspek bahasa sebagai alat komunikasi akan berbeda. Dalam berkomunikasi kita akan berkaitan dengan sosial dan psikologi sehingga ucapan-ucapan yang kita gunakan dapat diterima oleh lawan bicara kita.

Inilah hal penting yang harus kita ketahui sebagai orang yang secara langsung maupun tidak langsung bersentuhan dengan bahasa asing. Oleh karena itu belajar bahasa bukanlah kegiatan belajar yang instant (langsung terlihat hasilnya), tetapi aktifitas yang berkelanjutan, berkesinambungan dan memerlukan habituasi (pembiasaan).

Tidak mengapa kita menghendaki putra-putri kita yang barangkali sudah berbulan-bulan, atau bahkan telah melewati hitungan tahun belajar/ kursus namun belum optimal hasilnya, nilai sekolah bagus dan bisa ngobrol lagi. Tentu ini adalah kemauan kita semua. Tetapi fakta kompleksitas system pembelajaran bahasa asing patut menjadi pertimbangan agar kita selalu berupaya memberi dukungan penuh sekaligus memotivasi mereka agar terus dapat belajar dan membiasakan menggunakannya di mana pun. Karena belajar bahasa, terutama bahasa asing,  memiliki karakter tersendiri dan tidak bisa dibandingkan dengan proses pembelajaran ilmu-ilmu lain.

 

Print Artikel Ini Print Artikel Ini
Posted by on Jul 1 2011. Filed under Pendidikan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

1 Comment for “Bahasa asing: kenapa tidak?”

  1. […] Tidak mengapa kita menghendaki putra-putri kita yang barangkali sudah berbulan-bulan, atau bahkan telah melewati hitungan tahun belajar/ kursus namun belum optimal hasilnya, nilai sekolah bagus dan bisa ngobrol lagi. Tentu ini adalah kemauan kita semua. Tetapi fakta kompleksitas systempembelajaran bahasa asing patut menjadi pertimbangan agar kita selalu berupaya memberi dukungan penuh sekaligus memotivasi mereka agar terus dapat belajar dan membiasakan menggunakannya di mana pun. Karena belajar bahasa, terutama bahasa asing,  memiliki karakter tersendiri dan tidak bisa dibandingkan dengan proses pembelajaran ilmu-ilmu lain. […]

Leave a Reply


+ 7 = 8

Login

Login Anggota
Lost Password?

Amprokan Blogger | Temu Blogger Nusantara

Banner Komunitas

Komunitas Blogger Bekasi

Copykan Kode dibawah ini ke Blog/Website Anda!

© 2014 Komunitas Blogger Bekasi. All Rights Reserved. Log in - Designed by Gabfire Themes