Home » Artikel, Politik-Hukum-Keamanan » Jangan Ganggu Mbah Priok

Jangan Ganggu Mbah Priok

“Enak ya berkantor di seputaran Cawang”, kata mbakyu cantik yang duduk di sampingku dalam angkot A-59 jurusan Cikarang.

“Kenapa mbak?”

“Aku tadi dari Priok kena macet panjang dan baru nyampai Cawang saat udah hampir maghrib”

“Biasanya kan memang Priok macet kan mbak?”

“Kali ini luar biasa mas. Gara-gara peristiwa pagi tadi sih”

“Oooo….”, aku sebenarnya kurang dengar dan kurang paham apa yang disebutnya sebagai “peristiwa pagi tadi”, sehingga mbak cantik itu kembali menambahkan ceritanya.

“Yang ribut-ribut itu lho pak. Satpol sama masyarakat”

“Sampai macet ya mbak?”, kataku mencoba menyambungkan pembicaraan, karena aku memang tidak tahu apa yang terjadi.

“Iya macet banget tuh. Untung bisa nyampai ke sini dengan selamat”, mbak cantik itu mencoba bercerita sambil tersenyum dan akupun ikut tersenyum sebagai solidaritas senyum.

Memang senyum itu suka menular dan aku senang melihat orang yang tersenyum, karena bisa membuat aku tanpa sadar menarik bibirku dan ikut tersenyum bersama mereka yang tersenyum.

“Kalau aku mau pulang cepat nih mbak, Cikarang banjir besar dan air sudah naik ke jalan di Puspa”, kataku sambil menyodorkan hapeku yang memuat berita tentang kondisi jembatan dan muka air sungai di Cikarang.

“Lho memang Cikarang hujan pak?”

“Nggak sih, tapi muka air di sungai terus meninggi tuh”, kataku sambil menunjukkan berita tentang Cikarang yang tidak hujan tapi muka air sungai terus naik.

Saat mobil mulai bergerak, maka akupun sudah terlibat dengan kegiatan rutin di angkot. Mulai menarik ongkos sampai baca-baca pesan yang masuk ke hape.

Sampai di rumahpun aku langsung sholat dan melakukan kegiatan rutin di rumah sampai akhirnya tergeletak tak berdaya di ranjang. Capek banget rasanya hari itu, sehingga begitu kepala menyentuh bantal maka kesadaranku sudah sampai di awang-awang.

Pagi-pagi sehabis subuh baru aku terpaku di depan TiVi. Rupanya peristiwa yang diceritakan di angkot 59 kemarin sungguh mengerikan. Dimana para polisi saat kerusuhan begitu bebas berlangsung di Koja?

Apakah polisi ingin menunjukkan bahwa tanpa mereka maka kerusuhan seperti sesuatu yang tidak bisa dihentikan?

Aku benar-benar tidak habis pikir dengan tayangan audio visual yang muncul di layar kaca RCTI. Bagaimana kejadian separah itu tidak segera ditangani oleh polisi?

Sampai di kantor aku baru ngeh dengan kejadian rusuh yang ada di Koja. Akupun langsung search kronologis kejadian di Koja itu.

Benar-benar sesuatu hal yang seharusnya tidak perlu terjadi bila semua pihak mau menahan diri dan mau sedikit memakai akal bukan memakai otot. Akhirnya yang rugi adalah rakyat kecil juga. Satpol PP adalah rakyat kecil juga yang dibungkus dengan baju seragam. Mereka adalah pion-pion yang tidak bisa berpikir lagi selain mengikuti perintah “arogan” dari tuan-tuan mereka.

Dengan gaji yang serba terbatas, mampukah para Satpol PP itu bertindak berlawanan dengan perintah majikannya? Kayaknya suatu hal yang tidak mungkin.

Mereka sudah jadi robot patuh yang kadang jadi bertindak tak terkontrol karena mereka sehari-hari sudah berada di dalam tekanan yang mendapatkan jalan keluar ketika berhadapan dengan sesama rakyat kecil yang seharusnya menjadi teman-teman mereka.

Lalu, apakah masyarakat awam yang ikut melakukan aksi bakar-bakar tanpa tanggung jawab itu yang salah?

Tidak juga, mereka juga dalam kehidupan sehari-hari selalu berada dalam tekanan ekonomi yang selalu menantang adrenalin mereka dan saat ada sepercik api yang membakar, maka merekapun akan dengan mudah berbuat lebih tak terkontrol lagi.

Malamnya aku terkesan dengan ucapan seseorang di TiVi, “mohon semuanya dapat menahan diri, jangan sebarkan berita ini kemana-mana, malu kita….. mari kita sebarkan berita yang menenteramkan, jangan biarkan kasus ini memanas lagi…..”

Ucapan yang penuh dengan keprihatinan, sehingga membuatku sedikit tercenung. “Apakah besok tidak akan muncul berita yang heboh ya?”

“Kelihatannya masyarakat lebih suka dengan berita yang bombastis daripada berita yang sejuk-sejuk”, begitu kataku dalam hati.

Kenyataan di masyarakat memang kadang-kadang sulit dipahami. Mereka tidak ingin ada kerusuhan lagi di Koja, tetapi mereka mengejar semua berita tentang Koja dan bener yang kuduga.

Besok paginya banyak media yang menyiarkan berita kekisruhan Koja dengan gaya yang berbeda-beda, tetapi kebanyakan memperlihatkan betapa kisruhnya kondisi Koja saat kerusuhan itu berlangsung. Hanya sedikit yang memuat berita positip tentang kasus ini.

Alhamdulillah, meskipun cuma sedikit dan fotonya terlihat agak serem, Kompas memuat berita yang meyejukkan hati. Kesepakatan Koja tercapai, begitu tulis Kompas.

Semoga ini adalah kasus berdarah yang tidak disusul oleh kasus-kasus lain. Sudah terlalu banyak kisah sinetron di TiVi maupun di dunia nyata, jangan sampai menjadi sinetron berdarah-darah. Cukup Sinetron SD saja yang terlanjur terbongkar, jangan tambahi lagi dengan sinetron yang lain.

Yuk kita jaga saja makam Mbah Priok dengan Damai.

+++
Penulis adalah Wakil Ketua BeBlog yang aktif juga di Komunitas Blogger Cikarang, blog pribadinya ada di "Kehangatan Blog Eshape".

Selain itu aktif juga dalam kegiatan Bisnis Kuliner Nasi Goreng maupun Mie Ayam SEHATI

Nick namenya Eko Eshape Print Artikel Ini Print Artikel Ini
Posted by eko sutrisno hp on Apr 16 2010. Filed under Artikel, Politik-Hukum-Keamanan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

21 Comments for “Jangan Ganggu Mbah Priok”

  1. Tweets that mention Jangan Ganggu Mbah Priok | Komunitas Blogger Bekasi -- Topsy.com

    [...] This post was mentioned on Twitter by bloggerbekasi. bloggerbekasi said: [Bloggerbekasi.Com] Jangan Ganggu Mbah Priok: “Enak ya berkantor di seputaran Cawang”, kata mbakyu cantik yang dud… http://bit.ly/acMnQd [...]

  2. Damai negeriku… jangan biarkan amarah dan murka menghilangkan akal sehat. Kita adalah anak negri yang sama-sama berjuang mencari rizki dan hidup merdeka di bumi Pertiwi…

    [Reply]

    eko eshape Reply:

    @David Usman,
    semoga doa kita didengar Allah swt
    Amin

    Salam

    [Reply]

  3. sejak terjadinya kasus Tanjung Priok yang terkait pula dengan Makam Mbah Priok, maka kini umat berduyun-duyun memeriahkan, memakmurkan Makam Mbah Prok tersebut, kemudian yang menjadi pertanyaan bagi hati saya, apakah ada sepotong ayat dalam al Quran yang ‘memerintah’ kita untuk mendirikan, membangun atau memelihara atau meramaikan atau memakmurkan atau memuliakan sebuah ‘kuburan’ apalagi jika kuburan tersebut dianggap keramat?

    [Reply]

    eko sutrisno hp Reply:

    @elfan,
    sebaiknya yang dimakmurkan memang masjid saja (rumah Allah), bukan tempat lain yang tidak jelas aturannya

    Salam

    [Reply]

  4. betul, memang aneh masyarakat kita. masjid kok bisa kalah rame ama kuburan!? padahal yg diperintah untuk dimakmurkan adalah masjid bukan kuburan. lebih parah lagi waktu berdoa lebih khusyu’ di makam daripada di masjid…

    [Reply]

    eshape Reply:

    @hafidz,
    hahaha….
    lebih takut pada hantu daripada Tuhan

    dunia yang kebalik-balik ya….

    [Reply]

  5. berarti kini telah roboh pondasi keimanan kita, wajar jika kita slalu dirundung malang, sang pemimpin umatpun ikut roboh imannya, mereke lebih senang mengejar kepopuleran daripada memelihara umatnya. di kampung sudah terasa, untuk mencari seorang imam mushala atau masjid kini sudah sangat sulit

    [Reply]

    eshape Reply:

    @elfan,
    semoga kita semua mampu memperbaiki kehidupan masyarakat kita
    amin

    salam

    [Reply]

  6. YA MARI KITA BERSAMA BERUSAHA UNTUK ITU, TERIMA KASIH PAK

    [Reply]

    eshape Reply:

    @elfan,
    oke
    sip !

    [Reply]

  7. Sejarah Mbah Priok ternyata HOAX
    Posted on May 3 2010 by Teddy Sunardi - Detikcom

    Dirangkum dari wawancara Metro TV dan Alwi Shahab (ahli sejarah Betawi) dan Ridwan Saidi (Budayawan Senior Betawi) pada acara Metro Pagi.

    1.Sejarah penamaan Tanjung Priok yang berasal dari Priok yang menyelamatkan Habib Al-Haadad dari tenggelamnya kapal lalu kemudian prioknya ditanam disamping makam, lalu di atas priok itu tumbuh pohon, adalah hoax

    Penjelasan : Sebenarnya, nama Tanjung Priok berasal dari abad 1 Masehi, ketika itu masyarakat pribumi yang masih primitif dan belum mengenal Perahu layar yang besar menyebut perahu Bangsa China dan Arab dengan nama Sampan Priok, yang artinya Periuk raksasa. Perahu-perahu itu bersandar di pantai yang luas, sehingga disebut Tunjung Periok, artinya Tanah Tempat Periuk Besar. Pada abad-abad selanjutnya, secara kebetulan pula perdagangan meningkat, masyarakat setempat yang banyak pengrajin Periuk menimbun barang dagangan mereka di atas rakit-rakit bambu di pantai.

    2. Habib Al-Haadad lahir pada 1727 dan wafat pada 1756 adalah hoax

    Penjelasan : Habib Al-Haadad adalah keturunan ketiga (cicit) dari Sultan Hamid dari Palembang. Sultan Hamid sendiri wafat pada 1820 dalam usia 70 tahun (lahir 1750), bagaimana mungkin cicit duluan lahir daripada kakek buyut?

    3. Habib Al-Haadad adalah salah satu penyiar agama di Jawa adalah hoax

    Penjelasan : Habib Al-Haadad memang berniat untuk melakukan syiar agama di Pulau Jawa. Dia mendengar kisah Faletehan dan Para Wali, sehingga merasa terpanggil untuk datang ke Jawa.Pada usia yang sangat muda ia berangkat ke Nusa Kelapa (Jakarta). Tapi di tengah perjalanan kapalnya karam, dan diapun selamat karena tertolong periuk yang dipakainya buat menopang samapai ke pantai. Setibanya di Pantai, dia ditolong masyarakat. Diapun mengakui bahwa dia keturunan Sultan Palembang yang ingin melakukan syiar di Jawa. Mendengar hal itu masyarakat setempat menjadi senang, karena kebetulan mereka membutuhkan seorang habib untuk mendampingi Para Habib di Priok.Dia sendiri tidak pernah melakukan syiar agama kemana-mana, dia hanya menjadi penceramah agama di daerah Tanjung Priok sampai meinggal setahun setelah selamat dari tenggelam itu.

    4. Tanah Makam adalah milik Habib Al-Haadad adalah hoax

    Jalan menuju Makam Luar Batang

    Penjelasan : Habib Al-Haadad adalah Habib ke 11 yang dimakamkan disana. Habib pertama yang dikubur disana adalah Habib Abdullah bin ALatas, seorang Habib dari Kebun Jeruk yang meninggal pada 1760, selanjutnya masih ada 9 Habib lainnya sebelum terakhir adalah Mbah Priok. Yang paling terkenal dari 11 itu adalah Habib Luar Batang yang hidup pada masa bersamaan dengan Habib Al-Haadad. Habib Luar Batang sangat dihormati oleh orang Betawi, bahkan nara sumber (Ridwan Saidi) diberi nama Ridwan oleh Habib Luar Batang ini pada awal abad 19.

    Keturunan 10 Habib sudah pernah menyerahkan tanah makam tersebut kepada Pemerintah Belanda dan Indonesia karena makam tersebut sudah bercampur baur dengan makam masyarakat. Kecuali (orang yang mengaku) sebagai Ahli Waris Habib Al-Haadad, justru mengajukan Surat Hak Evigendoom.

    5. Habib Al-Haadad punya keturunan adalah hoax,

    Penjelasan : Habib Al-Haadad sampai saat wafatnya belum pernah menikah, apalagi sampai punya keturunan, sehingga dipertanyakan, siapa sebenarnya orang-orang yang mengaku Ahli Warisnya?

    6. TPU Semper sudah memiliki 11 Makam Habib sejak 1997, sehingga dipertanyakan, kalau memang jasad Mbah Priok masih di Koja, lalu siapakah yang dipindah dan dimakamkan di Semper?

    Pada akhir wawancara, Alwi Shahab meminta agar masalah Makam Mbah Priok jangan dikait-kaitkan dengan sejarah yang justru menjadi pengaburan sejarah.Bila ada yang merasa sebagai ahli waris dan menganggap memiliki tanah tersebut, silahkan ditempuh jalur hukum, dan jangan mengaitkannya dengan sejarah, karena mereka tahu persis bahwa banyak sejarah yang dilencengkan pada kasus Makam Mbah Priok ini.

    Nah, sobat-sobat, bagaimana menurut pendapat sobat?( forum.detik.com)

    [Reply]

    eshape Reply:

    @elfan,
    makasih pencerahannya

    salam

    [Reply]

  8. benarlah Al Quran, sama sekali tidak membicarakan bagaimana mengurus kuburan, tapi yang ada manusia kan bangkit dari kuburan untuk dimintai pertanggungjawabannya dihadapan Allah SWT

    [Reply]

    eshape Reply:

    @elfan,
    sip !
    mari kita sering mbaca Quran biar rumah kita gak sepi kayak kuburan

    gitu ya?

    [Reply]

  9. kl kita baca sejarah, maka terhadap Saidina Ali bin Abi Thalib jarang kita dengar ‘nasab’ keturunannya, misalnya tatkala kita menyebut Al Hasan dan Al Husein, maka ujungnya pasti yg disebut ‘cucu Nabi Muhammad SAW’ bukan bin Ali bin Abi Thalib. Jadi dimana dan kemana nasabnya Saidina Ali bin Abi Thalib?

    [Reply]

    eko eshape Reply:

    @elfan,
    kalau untuk pertanyaan ini, sebaiknya yang ahli saja yang menjawab
    takut salah

    salam

    [Reply]

  10. hameed assegaf

    Tujuan ziarah adalah untuk mengingatkan akan datangnya kematian,dengan kita mengunjungi makam orang sholih apalagi kemudian diperdengarkan riwayat hidup beliau yang penuh dengan amal sholih berarti kita sedang belajar dan semoga hidup kita kemudian akan berakhir seperti mereka….khusnul khotimah………
    dan dengan berziarah pula berarti kita menunjukkan rasa penghargaan kita kepada para pendahulu2 kita yang mewariskan agama yang indah ini yaitu agama islam…..kita tentunya tidak akan mau disebut keturunan yang tidak tahu berterima kasih….
    Nabi SAW membolehhkan kita untuk berziarah….bahkan menganjurkan…
    adapun para habib itu disebut keturunan Nabi,itu berkat Hadits Nabi “Setiap anak yang lahir dari seorang perempuan maka sabab dan nasabnya adalah kepada Bapaknya kecuali anak anak Fatimah maka sesungguhnya aku adalah sabab dan nasab mereka…..
    Ini adalah anugrah dari Allah,bahwa walaupun anak laki2 beliau semuanya meninggal,namun anak keturunannya diteruskan oleh anak cucu putri tercintanya Fatimah…(Baca surat Al Kautsar)
    Di situ Allah menerangkan bahwa Nabi tidak Abtar (putus keturunannya) sebagaimana anggapan orang2 kafir,
    Ketika Sayyidah Fatimah menikah dengan Sayyidina Ali maka Rasulullah mendokan mereka dengan sabdanya Ya Allah keluarkanlah dari keduanya Keturunan yang banyak dan baik…..
    Subhanallah doa tersebut diijabah oleh Allah….maka kini tidak kurang dari 2 juta habaib di dunia ini dan kebanyakan justru tinggal disekeliling kita di indonesia

    [Reply]

    eshape Reply:

    @hameed assegaf,
    terima kasih tambahan pencerahannya.

    Salam Sehati

    [Reply]

  11. permisi…. maaf mau tanya, kalo saya boleh tahu, siapa ya yang menulis berita tersebut di KOMPAS? Maksud saya jika anda mengetahui nama wartawannya, saya mohon informasinya. Saya ingin mengetahui. terima kasih

    [Reply]

    CiMarT Reply:

    @ilo, mohon maaf saya tidak tahu siapa penulisnya
    mungkin bisa dilacak dari tanggal koran itu terbit

    maaf dan salam sehati

    [Reply]

Leave a Reply

RSS Planet Aggregator

  • Scroll News Ticker Sederhana Menggunakan jQuery LI Scroller Pada WordPress
  • Ngopy Bareng Bersama Tifatul Sembiring, Menkominfo RI
  • Workshop Pembelajaran Berbasis Online For Super Teacher
  • Implementasi DomainKeys pada Zimbra & SLES 11 SP1 Menggunakan OpenDKIM
  • Selamat Hari Ibu, Jasamu Tiada Tara
  • Selamat Hari Ibu, Jasamu Tiada Tara

Amprokan Blogger | Temu Blogger Nusantara


Amprokan Blogger

Sponsor

images-1

---

Member Be-Blog

Sudahkah Anda menjadi bagian dari Be-Blog?

Siapa saja yang sudah terdaftar?

Login

Login Anggota
Lost Password?

Shoutbox


Loading

WP Shoutbox
Name
Website
Message
Smile
:mrgreen::neutral::twisted::arrow::shock::smile::???::cool::evil::grin::idea::oops::razz::roll::wink::cry::eek::lol::mad::sad:8-)8-O:-(:-):-?:-D:-P:-o:-x:-|;-)8)8O:(:):?:D:P:o:x:|;):!::?:



Gabung di Milis Blogger Bekasi

Powered by Yahoo Groups

© 2010 Komunitas Blogger Bekasi. All Rights Reserved. Log in

Switch to our mobile site

- Designed by Gabfire Themes