Sehabis Hujan,,
Sosial-Budaya Monday, February 8th, 2010 409 views
Print Artikel Ini
Sehabis hujan, aku menatap indah dunia
bukan karena suasananya, tapi karena sebuah nirwana
Sehabis hujan, aku meratap kepada dunia
bukan karena ia malaikat ku,
tapi karena ia adalah candu untuk langkah ku
Bulir-bulir hujan terus menuruni tubuh ku
membuat dingin dan menggigil semuanya
Engkau datang kepada tubuh ku dengan tubuh mu
merapatkan dadamu untuk menghangatkan ku
Lonceng berdetak 6 kali,
lonceng terus berdetak sampai 6 kali
Hujan merampas semua kesadaran ini,
terbujur diam dalam dekapan surgawi
Sehabis hujan, aku menyeringai pahit
ketika merengkuh mu adalah harapan kosongku
Sehabis hujan, aku tetap berdiri tegar
bahwa apa yang ku pinta adalah untuk hidupku
Berbaris-baris kepala menengadah,
Mengacuhkan ku,
Mencibir ku,
Merendahkan ku,
Meskipun ada juga yang tersenyum kepadaku
memberikan kepingan-kepingan candu kepadaku
Hampir setiap saat selalu terangkat tangan ini
untuk mendapatkan sedikit karunia-Nya
Pijakan-pijakan langkah yang selalu sama
entah sudah berapa banyak aku lewati
Sehabis hujan, aku tersenyum
bukan karena aku menatap pelangi
tetapi karena Engkau mencium kedua pipi ku
dan berkata “ayo kesana lagi…”
Sehabis hujan, aku kembali melangkah
bukan untuk merengkuh mu dunia
tetapi hanya untuk meminta-minta kepada mu dunia
“Bekasi, sehabis hujan didepan kamar & teringat gadis kecil di perempatan lampu merah”
© ~r4~ *20100206*
Print Artikel Ini





Sepertinya saya mengenali gambar itu, tapi lupa dimana … sebentar, saya cari-cari dulu ..
[Reply]
Dan saya sepertinya kenal dengan komentator pertama.. Sebentar, saya ke Pabriknya dulu
[Reply]