Wujudkan Transformasi Kota Bekasi Menuju The Most Liveable City
Artikel, Bekasi-Ku Saturday, February 6th, 2010 987 views
Print Artikel Ini
Bekasi yang merupakan salah satu kota satelit dari DKI Jakarta yang berfungsi sebagai kota penyangga Kota Jakarta telah mengalami urbanisasi yang cukup signifikan seiring dengan perkembangan Kota Jakarta. Lahan Kota Jakarta yang kian padat terbangun menyebabkan banyak penduduk Kota Jakarta maupun dari luar Kota Jakarta yang bekerja di Jakarta menjadikan Bekasi sebagai salah satu alternatif wilayah tempat tinggal. Salah satu dampaknya adalah meningkatnya jumlah penduduk Kota Bekasi saat ini hingga mencapai 2,2 juta jiwa. Padahal jumlah penduduk ketika Kota Bekasi mulai berdiri sebagai kota mandiri sekitar 13 tahun silam belum mencapai satu juta jiwa. Hal ini tentunya berdampak pada meningkatnya luas guna lahan permukiman di Kota Bekasi. Tidak heran jika saat ini lahan-lahan kosong di Kota Bekasi menjadi sasaran pengembang property untuk membangun perumahan-perumahan mulai perumahan sederhana hingga mewah dengan berbagai fasilitas penunjang, baik fasilitas umum maupun sosial.
Rencana pembangunan beberapa ruas jalan baru di Kota Bekasi juga akan berpotensi untuk mempercepat proses urbanisasi. Salah satu rencana tersebut yaitu pembangunan busway koridor Bekasi-Jakarta sepanjang 12 kilometer yang diperkirakan selesai pada tahun 2011; dan Jalan Tol Becakayu (Bekasi, Cawang, Kampung Melayu). Ruas jalan akan dibuat dua arah, yang berada di sisi selatan Kali Malang. Halte busway atau tempat pemberhentian akan dibangun di sekitar 22 lokasi, tersebar mulai dari Jalan Joyo Martono, Bekasi Timur, Metropolitan Mall, Taman Galaxi, Sumber Arta, sampai Cawang, Jakarta Timur. Pemerintah Daerah sudah menganggarkan Rp 19 miliar untuk busway pada tahun 2010. Total dana daerah yang dialokasikan secara bertahap beberapa tahun kedepan yaitu sebesar Rp 43 miliar. Selain pembiayaan dari Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah, Kota Bekasi juga mengusulkan bantuan pembiayaan ke Departemen Pekerjaan Umum dan Provinsi DKI Jakarta untuk jalur yang masuk wilayah Jakarta Timur.
Ruang terbuka publik pun kini semakin berkurang proporsinya dan bahkan sudah melampaui batas yang ditetapkan dalam UU Penataan Ruang No.26/2007 pasal 29 yaitu sebesar 30% Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang terdiri dari 20% RTH publik dan 10% RTH privat. Sementara luas lahan terbangun Kota Bekasi saat ini mencapai 74% atau sekitar 155.400 hektare dari total luas lahan 210 ribu hektare. Sisa lahan terbuka hijau hanya 12% atau 31 ribu hektare saja yang seharusnya 63 ribu hektare atau 30% dari total luas lahan Kota Bekasi. Selain itu, volume lalu lintas juga turut meningkat terutama di jalan-jalan yang mengarah ke Kota Jakarta ataupun jalan-jalan akses menuju Jalan Tol Jakarta Cikampek yang akhirnya menyebabkan kemacetan lalu lintas setiap harinya. Misalnya kemacetan rutin yang terjadi di gerbang tol Bekasi Barat dan jalan dari arah selatan (Pekayon) menuju akses Jalan Tol Jakarta Cikampek atau ke pusat Kota Bekasi dan juga pada beberapa ruas Jalan Ir. H. Juanda ke arah Terminal Induk Kota Bekasi. Berdasarkan data Dinas Perhubungan Kota Bekasi, rasio volume kendaraan dan kapasitas ruas jalan di Kota Bekasi tidak sebanding. Pada 2007, tercatat 810 bus dan 3.446 truk yang lalu lalang dengan jumlah penumpang 9.385 orang. Adapun total panjang jalan Kota Bekasi 1.213,58 kilometer, terdiri atas 20,07 kilometer jalan negara, 28,75 kilometer jalan provinsi, dan 501,50 kilometer jalan kota.
Kondisi ini tentunya berdampak pada meningkatnya kadar pencemaran udara di Kota Bekasi yang berdasarkan penelitian Tim Laboratorium Terpadu Institut Pertanian Bogor (IPB), yang melakukan uji kualitas udara pada 25 ruas jalan selama periode Agustus-Oktober 2008, kadar debu mencapai 945,20 12 mikrogram per nanometer kubik (ug/Nm3), yaitu tiga kali lipat lebih banyak daripada kandungan yang diperbolehkan (230 ug/Nm3) sesuai PP Nomor 41/1999 tentang pengendalian pencemaran udara. Uji laboratorium kualitas debu yang menggunakan sistem Non-Air Quality Monitoring System (AQMS) tersebut menggunakan sampel udara yang diambil dari Jalan Raya Pasar Rebo Jatiasih, jalan di Perumahan Titian Kencana, perempatan Bulak Kapal, di depan Pasar Pondok Gede, Jalan Jatibening, Jalan KH Noer Ali/Kalimalang, simpang tiga tol timur, di depan Terminal Bekasi, di simpang Galaxi, di daerah Bulan-bulan, serta Jalan KH Agus Salim.
Selain itu, minimnya luas RTH juga merupakan salah satu penyebab rutinnya bencana banjir yang melanda sebagian besar wilayah Kota Bekasi terutama di beberapa kecamatan yang rawan banjir yaitu Kecamatan Bekasi Selatan, Jati Asih, Bintara, Bekasi Barat dan Bekasi Timur; di samping penyebab lainnya seperti endapan di sejumlah kali di Kota Bekasi yang semakin memprihatinkan, yaitu hingga mencapai satu meter baik karena endapan lumpur maupun limbah rumah tangga yang dibuang masyarakat, dan aliran sungai yang tersendat yang disebabkan penyempitan garis sempadan sungai akibat banyaknya bangunan yang berdiri di sepanjang aliran sungai tersebut seperti di daerah Jembatan Kali Bojong Menteng, Kecamatan Rawa Lumbu hingga ke Kali Bekasi. Walaupun tanpa hal-hal tersebut, sebenarnya Kota Bekasi memang memiliki potensi banjir karena kondisi topografi kota yang memiliki kemiringan relatif datar, yaitu nol hingga setengah persen. Tetapi setidaknya banjir yang mungkin terjadi mungkin tidak akan separah banjir yang disebabkan oleh menurunnya daya dukung lingkungan akibat ulah manusia.
Menghadapi kenyataan tersebut, Pemerintah Kota Bekasi tidak tinggal diam dengan merencanakan untuk memasang pompa air dan tempat tandon air atau folder air untuk menampung air hujan yang akan menelan biaya sekitar Rp.148 milliar. Dengan bantuan dana sebesar Rp 6,2 miliar dari Provinsi Jawa Barat (dialokasikan dari Anggaran Biaya Tambahan (ABT) bantuan Provinsi Jabar), pemerintah berencana untuk membeli pompa air yang berkapasitas 3.000 liter per detik yang akan dipasang di pintu air Kali Bekasi di Jalan Kartini Kota Bekasi. Melalui langkah-langkah tersebut diharapkan banjir akan dapat ditanggulangi. Kondisi jalan serta drainase dan trotoar yang memadai juga menjadi perhatian pemerintah pada saat ini karena drainase di beberapa ruas jalan masih belum dapat menampung air hujan dengan baik sehingga menimbulkan genangan air di jalan yang dapat berpotensi untuk mempercepat proses perusakan kondisi jalan, diantaranya jalan menjadi berlubang. Selain fungsi tersebut, drainase dan trotoar yang memadai juga dapat memperindah pemandangan kota dan juga membuat pejalan kaki merasa lebih nyaman.
Dalam rangka mengurangi polusi udara akibat emisi kendaraan bermotor dan juga sebagai ajang interaksi warga Kota Bekasi, Pemerintah Kota Bekasi juga telah menyelenggarakan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau car free day di Jalan Ahmad Yani, Kota Bekasi pada Minggu , 24 Januari 2010. Ruas Jalan Ahmad Yani, mulai persimpangan Kayuringin sampai depan kompleks Kantor Wali Kota Bekasi ditutup bagi seluruh kendaraan bermotor selama tiga jam mulai pukul 06.00 WIB. Kendaraan bermotor dari arah Gerbang Tol Bekasi Barat menuju Kranji dialihkan melewati jalan Kompleks Perumnas II Kayuringinjaya, sedangkan tujuan Jalan Ir H Juanda Stasiun Bekasi dialihkan melewati Jalan Rawa Tembaga, atau belakang Kantor Wali Kota. Pengalihan ruas lalu lintas di ruas Jalan Ahmad Yani itu berlangsung sampai pukul 09.00 WIB. Kegiatan HBKB di ruas Jalan Ahmad Yani diisi dengan beragam aktivitas hiburan dan olahraga.
Dengan target piala adipura pada tahun 2010 ini, tentunya langkah-langkah kebijakan pemerintah tersebut masih harus didukung oleh tindakan-tindakan nyata lainnya baik oleh pemerintah, masyarakat, maupun kerja sama keduanya. Salah satu hal kecil yang dapat kita lakukan adalah dengan berusaha untuk tidak membuang sampah sembarangan apalagi ke kali/sungai, karena hal ini merupakan salah satu penyebab bencana banjir yang akan merugikan kita semua. Bukan hanya untuk daerah yang rawan banjir, tetapi juga dengan tercemarnya dan tersendatnya aliran sungai akan berpotensi terhadap timbulnya bibit-bibit penyakit yang dapat menyerang siapa saja, merusak ekosistem, mengurangi daya dukung lingkungan yang berarti menghambat keberlanjutan lingkungan kota, dan juga mengurangi keindahan kota.
Selain itu, polusi udara juga merupakan suatu masalah yang patut mendapat perhatian karena dapat menimbulkan berbagai penyakit pernafasan yang dapat menghambat aktivitas masyarakat dan pada second round effect nya berpotensi mengganggu stabilitas perekonomian kota. Oleh karena itu, penghijauan merupakan salah satu hal penting yang harus dilakukan oleh segenap warga Kota Bekasi yang dapat dilakukan dengan menanam pohon di pinggiran jalan sepanjang tepi trotoar dan juga di halaman-halaman rumah. Dari sisi kebijakan pemerintah, ruang terbuka hijau publik harus dapat dilindungi, minimal 30% dari luas lahan kota demi terwujudnya lingkungan Kota Bekasi yang berkelanjutan.
Sebagai salah satu Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan kawasan andalan pada sektor industri pengolahan, pariwisata, perkebunan, pertanian tanaman pangan, perikanan darat, peternakan, dan bisnis kelautan yang berdaya saing tinggi dan berorientasi ekspor; Kota Bekasi memiliki tantangan untuk tetap dapat mempertahankan kelestarian dan keberlanjutan lingkungannya untuk kehidupan warganya yang lebih baik baik saat ini maupun di masa yang akan datang. Fungsinya sebagai PKN juga akan menarik perhatian para turis yang selanjutnya berpotensi terhadap peningkatan perekonomian kota. Oleh karena itu, peningkatan kualitas lingkungan juga berpotensi sebagai salah satu strategi city marketing yang efektif.
Peran serta seluruh warga Kota Bekasi dan pemerintah sangat diperlukan untuk melakukan langkah-langkah transformasi tersebut mulai dari hal-hal yang kecil tadi, seperti membuang sampah pada tempatnya dan mulai menanam pohon, karena rencana kota yang seideal apapun akan menjadi tidak berguna jika tidak dilaksanakan dengan penuh komitmen oleh seluruh warganya, baik masyarakat maupun aparatur pemerintah. Oleh karena itu, mari bersama-sama kita mulai melangkah untuk mewujudkan transformasi Kota Bekasi menuju The Most Liveable City karena kita semua cinta Bekasi.
If Planning is Everything, May be it’s Nothing. (Aaron Wildavsky)
artikel ini dapat dilihat juga di blog saya di:
http://ik20688.blogspot.com/2010/02/wujudkan-transformasi-kota-bekasi_06.html
Referensi:
UU Penataan Ruang No.26/2007
http://www.bkprn.org/v2/subpage.php?id=211
http://www.tempointeraktif.com/hg/tata_kota/2010/01/26/brk,20100126-221493,id.html
http://www.penataanruang.net/taru/Makalah/060309.pdf
http://pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=54270
http://122.200.145.230/index.php?mib=news.detail&id=110856
http://ohle.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=98061
http://www.koranindonesia.com/2007/11/20/bkt-solusi-terbaik-atasi-banjir-di-jakarta-dan-bekasi/
http://memobisnis.tempointeraktif.com/hg/layanan_publik/2010/01/21/brk,20100121-220581,id.html
http://megapolitan.kompas.com/read/2009/11/28/01244621/tahun.depan.kota.bekasi.perbaiki.drainase..
http://www.bakorwilpwk.jabarprov.go.id/index.php?mod=detilBerita&idMenuKiri=334&idBerita=42
Image:
http://www.penataanruang.net/taru/Makalah/060309.pdf
http://weburbanist.com/2007/08/21/urban-ecological-subversion-the-art-of-guerilla-gardening-in-public-spaces/
http://greenroofs.wordpress.com/2008/01/05/109/
http://www.gardenvisit.com/blog/2009/05/
http://curbed.com/tags/vornado-realty-trust
http://www.kotabekasi.go.id/read/103/kota-bekasi-saat-ini
http://www.kaskus.us/showthread.php?p=126765864
http://cityroom.blogs.nytimes.com/2007/09/18/changes-are-afoot-at-lincoln-plaza/
Print Artikel Ini




