Rumah Baca Mutiara Mandiri dan Spirit “Laskar Pelangi”Masa Kini
Kegiatan Be-Blog Thursday, September 2nd, 2010 381 views
Print Artikel Ini
Begitu sederhana ruang belajar itu. Namun saya merasakan “aura” semangat menyala-nyala didalamnya.
Ruang seluas 4 x 3 meter tiba-tiba mengingatkan saya pada kamar kontrakan di Pulogadung dulu, 14 tahun silam ketika masih menjadi karyawan PT Kadera Ar Indonesia. Sempit dan pengap. Pada dindingnya yang kusam dipasang poster perkalian dan pembagian serta gambar Upin dan Ipin sedang tertawa gembira. Di lantai tergeletak sebuah tikar lusuh berwarna biru dan di samping pintu sebuah kipas angin berputar pelan. Di bagian belakang, terdapat kamar mandi kecil bagi guru dan siswa. Di pojok belakang ada sebuah dispenser dengan air galon isi ulang berisi setengah.
Disitulah harapan anak-anak disemaikan dan ditumbuhkan.
Pada tiga ruang “kelas” berukuran 4 x 3 meter yang ketika dibuka pintunya langsung berhadapan dengan sebuah tembok tinggi nan kokoh. Inilah Rumah Baca Mutiara Mandiri yang digagas pertama kali oleh Pak Tony dan istrinya ibu Omah, 3 tahun silam.
Saya berkesempatan mengunjungi rumah baca ini bersama kawan-kawan komunitas Blogger Bekasi yang dipimpin oleh Ketuanya Mas Aris Heru Utomo seusai menyelenggarakan Buka Bersama BeBlog di depan kantor Dusun 1 Desa Jatimulya Kecamatan Tambun Selatan Kabupaten Bekasi. Letak rumah baca Mutiara Mandiri dapat dijangkau dengan berjalan kaki sekitar 15 menit dari lokasi acara buka puasa, melewati pemukiman padat penduduk dan kolam pemancingan ikan. Sekitar 25 orang panitia acara serta anggota BeBlog mengunjungi rumah baca tersebut beramai-ramai.
Anak-anak pengamen, buruh pabrik, supir angkot, tukang ojek bahkan pengangguran menjadi peserta didik di Rumah Baca Mutiara Mandiri yang menempati 3 “kamar petak” yang dimiliki oleh ayah Pak Toni tersebut. Anak-anak usia pra sekolah itu diajarkan membaca dan menulis secara bergiliran 10-14 anak tiap satu jam di masing-masing 3 “ruang kelas”.
“Total ada 186 orang anak yang kami didik disini, dimulai pukul 07.00 pagi sampai jam 17.00 sore, setiap hari. Bahkan kadang sampai malam hingga pukul 20.00,” ujar ibu Yani, salah satu dari 4 orang guru disana.
“Syukurlah,” lanjut Bu Yani lagi,”setelah tahun ketiga ada sedikit peningkatan. Bila dulunya belajar sambil duduk lesehan di lantai, sekarang para murid kami sudah duduk di kursi. Juga ada tambahan buku-buku dari donatur serta kipas angin”.
Saya mengangguk-angguk mafhum.
“Lantas, berapa orang tua murid harus bayar bu untuk biaya sekolah disini?”, tanya saya penasaran.
“Seikhlasnya, pak”, sahut bu Yani sambil tersenyum.
“Seikhlasnya?, Maksudnya apa bu?”. Saya mendadak bingung.
Lagi-lagi bu Yani tersenyum.
“Kita menyesuaikan dengan kemampuan mereka pak. Tidak dipaksakan harus dibayar dalam jumlah tertentu. Pokoknya berapapun yang mereka mampu bayar, kita terima. Bahkan ada diantaranya tidak bisa membayar biaya sekolah karena ketidakmampuan ekonomi , tapi kita tetap mempersilahkan sang anak belajar bersama kami disini, tanpa ada pengecualian”.
Saya berdecak kagum. Sungguh besar dedikasi guru-guru disini untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan.
“Tempat kami ini semacam bimbingan belajar, pak. Semula kita siapkan untuk anak-anak usia Taman Kanak-Kanak buat belajar membaca dan berhitung. Belakangan kita menyiapkan pula untuk kelas SD bagi yang tidak mampu melanjutkan ke sekolah itu. Hasilnya bagus. “Jebolan” Rumah Baca kami bisa melewati tahap test masuk SD malah ada salah satu guru SD yang heran, anak-anak didik kami sudah pintar membaca dan berhitung, dengan kemampuan jauh diatas anak sebayanya. Malah ada lho pak sekolah SD yang menitipkan anak didiknya belajar disini agar bisa cepat membaca,” ucap Ibu Yani lagi dengan wajah sumringah.
Luar biasa.
Dengan fasilitas yang serba sederhana, Rumah Baca ini telah mampu meraih hal-hal yang mungkin saja musykil dalam fikiran sementara orang. Ibu Yani juga menambahkan berkat bantuan gerakan SeBuai (Sejuta Buku untuk Anak Indonesia) akan disiapkan perpustakaan mini buat anak-anak didik disana yang rencananya menggunakan ruang kelas No.3. Diruang kelas yang terletak paling ujung ini, juga merupakan rumah tinggal bagi keluarga Pak Toni dan Bu Omah. Ketika pagi tiba, kasur pun digulung dan ruangan ini “disulap” menjadi ruang belajar tambahan buat anak-anak kurang mampu ini.
“Hanya saja,” kata bu Yani lagi dengan mimik sedih,”Kami takut kalau-kalau rumah petak tempat Rumah Baca Mandiri ini dijual oleh orang tua Pak Toni dan Bu Omah karena mereka rencana pindah ke Cirebon. Bila itu terjadi, dimana lagi anak-anak kami mesti belajar?”.
Saya menghela nafas panjang. Keprihatinan ikut melanda hati saya.
“Mudah-mudahan itu tak terjadi ya bu,” kata saya bersimpati.
“Terkadang Pak Toni, menyisihkan sebagian rezekinya dari hasil mengamen untuk perbaikan rumah baca ini belum lagi ibu Omah yang rela mengorbankan waktunya dari pagi hingga malam untuk mengajar anak-anak, bahkan ketika saya sendiri sudah pulang kembali kerumah,” ujar Bu Yani seperti menahan sesak haru didadanya.
Ah, saya jadi ikut terhanyut pula dalam sensasi keharuan serupa.
Tiba-tiba saya teringat apa yang dikatakan tokoh Ikal dalam novel populer “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata dihalaman 472 (adegan ketika Ikal akhirnya bertemu dengan sahabat sebangkunya Lintang, dua belas tahun kemudian dan sahabatnya yang cerdas itu mencari nafkah sebagai supir truk pasir di Belitung) :
`Dan kata-kata itu semakin menghancurkan hatiku, maka sekarang aku marah, aku kecewa pada kenyataan begitu banyak anak pintar yang harus berhenti sekolah karena alasan ekonomi. Aku mengutuki orang-orang bodoh sok pintar yang menyombongkan diri, dan anak-anak orang kaya yang menyia-nyiakan kesempatan pendidikan.‘
Rumah Baca Mutiara Mandiri yang sederhana ini berusaha menyambung mimpi anak-anak yang kurang mampu secara ekonomi dengan menyediakan pendidikan memadai, atas inisiatif sendiri, secara swadaya dengan segala keterbatasannya. Pak Toni, seorang pengamen jalanan, memang tak memiliki angan-angan muluk menjadikan rumah baca Mutiara Mandiri yang dikelolanya bersama istri tercinta, ibu Omah, menjadi sebuah lembaga pendidikan bertujuan komersil. “Kami semua ingin anak-anak yang kami didik, menjadi anak-anak yang pintar dan berakhlak baik”, demikian harapan ibu Yani saat saya dan kawan-kawan akan pamit pulang.
Ibu Yani, dan mungkin sebagian besar dari kita, mempunyai mimpi bersahaja : menjadikan generasi pelanjut bangsa ini sebagai generasi yang cerdas dan berintegritas dengan memperoleh pendidikan yang memadai tanpa harus terkendala oleh fasilitas atau masalah finansial lainnya. Apa yang telah dan sedang diperjuangkan Pak Toni, Ibu Omah, Ibu Yani, serta guru-guru sukarela di Rumah Baca Mutiara Mandiri menjadi inspirasi buat kita semua bahwa kepedulian mereka mengajar anak-anak kurang mampu dengan keterbatasan fasilitas adalah secercah harapan ditengah hiruk pikuk komersialisasi pendidikan saat ini.
“Terimakasih ya pak sudah datang menengok kami disini, kedatangannya membuat kami semua semakin bersemangat,” kata ibu Omah dengan mata berkaca-kaca saat saya menjabat tangannya.
Ada ketulusan terpancar dari mata guru yang gigih itu.
Sebuah spirit menyala dari “Laskar Pelangi” Masa kini
Print Artikel Ini






Spirit yang luar biasa dari pengelola rumah baca mutiara mandiri: Pak Tony, Bu Omah, mas Heri dan Mas Adit. Tanpa dibayar bahkan merogoh kocek sendiri (Pak Tony malah menyisihkan duitnya dari hasil mengamen), para “guru” tsb mencoba memberikan ilmunya kepada anak2 kurang mampu. Semoga semangat mereka dapat mendorong banyak orang untuk saling membantu.
Btw mas Amril, kalau ada blogger atau pihak2 yang ingin menyalurkan bantuannya, bisa disampaikan kemana ya?
Salam
[Reply]
amriltg Reply:
September 2nd, 2010 at 11:29 AM
@Aris Heru Utomo, Nah itu dia Mas, saya juga masih bingung. Bagaimana kalau lewat BeBlog atau SeBuai ?
[Reply]
makasih Pak Amril sudah menulis tentang ini,,,
Bener2 dahsyat Pak,,,
saya yang pertama kali kesana aja sampe ngga percaya kalau di bekasi masih ada tempat seperti ini,,,
mudah2an saya & temen2 bisa terus istiqomah
semoga makin banyak yg tergerak,,,,
dan semoga makin banyak ibu omah-ibu omah yg lain
[Reply]
Aris Heru Utomo Reply:
September 2nd, 2010 at 11:41 PM
@adyanti rahmarina, sepertinya kita mesti pikirkan pengembangan kedepannya agar lebih banyak lagi yang peduli. Good job Ady
[Reply]
Beliau-beliau sungguh the super teacher. Memberikan pengajaran hanya dengan tujuan untuk mencerdaskan anak-anak yang kurang mampu dari segi ekonomi, namun berpotensi besar dalam kecerdasan. Jangan sampai semangat mereka (para the super teacher dan murid2nya) padam ditengah jalan.
semoga perjuangan mereka dibayar oleh Alloh S.W.T dengan pahala yang sebesar-besarnya.
amien..
[Reply]
kita yang hidup “lebih layak” jangan mau kalah dengan mereka yang lebih banyak actionnya daripada sekedar teori, ternyata apa yang saya lakukan selama ini masih ada yang “mengalahkan”, saya jadi malu…..
Insya Allah buku-buku bacaan anak saya yang numpuk akan saya bagikan buat mereka yang saya percayakan kepada mbak ady “SEBUAI” yang cantik untuk membagikan.
[Reply]
saya juga ikutan sama mas rawi.
salam
Omjay
[Reply]