On The Spot Trans7 Program Bajakan?
Artikel Saturday, May 21st, 2011 177 views
Print Artikel Ini
Sudah lama saya geram menyaksikan program tv On The Spot yang tayang di Trans7 saban Senin-Jum’at jam 18.30 WIB. Tangan sudah gatal mau bikin postingan mengenai hal ini setelah lihat Linimasa di twitter banyak tweeps yang mengecam acara ini.
Buat yang belum pernah nonton, acara ini semula adalah kumpulan video klip yang diramu dengan sedikit informasi bombastis yang aneh tapi nyata. Dulunya program ini menghadirkan dua orang host, kalau tak salah salah satunya artis cilik Umay atau Amel.
Putar lagu mungkin sudah biasa dan banyak kita temukan di stasiun tv lain di negeri ini. Makanya Trans7 memberinya bobot lain dengan menyampurkan informasi kedalam deretan lagu-lagu populer.
Sayangnya konsep ini jadi keliatan aneh, kalau mau putar lagu ya putar lagu saja. Tapi kalau mau buat program informasi ya pisahkan dari lagu-lagu tadi.
Akhirnya seperti yang sekarang bisa kita lihat. Konsepnya jadi lebih sederhana, hanya menampilkan informasi sensasional tanpa memutar musik sama sekali. Bahkan kehadiran host pun kemudian dihilangkan.
Informasi yang tampil pasti diembel-embeli dengan yang serba 7 sesuai dengan nama stasiun tvnya. Entah itu 7 peristiwa alam teraneh, 7 pelangi terindah, atau 7 tsunami yang mengguncang dunia.
Tidak hanya yang sensasional, kadang mereka juga menampilkan tema sesuai headline berita surat kabar atau TV. Misalnya saat demam pernikahan Kate-william, mereka munculkan 7 pernikahan termahal. Pokoknya, dikait-kaitkan dengan situasi terkini.
Gambarnya? Ya dari youtube. Jika stok gambar tak memadai mereka akan ulang-ulang gambar yang minim demi durasi. Benar-benar program low budget. Tinggal bikin script, gambar sudah bercerita sendiri.
Selesai dan sesimpel itukah? Tidak.
Justru konten acara inilah yang menuai kritik banyak kalangan. Sepanjang acara Trans7 dengan sadar menggunakan footage untuk melengkapi narasi full dari Youtube, situs video sharing milik Google.
Lucu aja melihat video yang diunggah pembuatnya melalui Youtube sekedar untuk berbagi atau sharing, kemudian digunakan sebuah stasiun tv komersial. Bukan hanya satu dua video, tapi sepanjang acara selama setengah jam, video yang ditampilkan murni unduhan dari Youtube.
Apakah etis? Saya rasa tidak. Karena pastinya ada hak kekayaan intelektual yang dilecehkan. Bukan hanya Youtube atau Google, namun yang paling penting adalah para pengunggah video itu sendiri. Enak banget sumber dari Youtube digunakan untuk menjaring iklan, di program prime time pula.
Kalau saya representasi Youtube atau Google, akan saya gugat penggunaan semua bahan Youtube sebagai pengail iklan di acara tersebut. TV-nya kaya raya, sementara Youtube dan pengunggahnya tak mendapat apa-apa.
Adakah hal semacam ini bisa dikategorikan sebagai pencurian? Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mesti bicara soal ini. Ini menginjak-injak HAKI.
Memang tidak ada unsur pornografi atau konten yang meresahkan masyarakat, namun justru pengambilan sumber footage itulah yang jadi permasalahan.
Saya kira tak cukup etis rasanya mengambil milik orang lain dan hanya ditulisi “courtesy of Youtube”. Terlalu simpel. Menggampangkan.
Saya tidak begitu yakin ada perjanjian (agreement) antara Trans7 dengan Youtube dalam hal ini. Apa kata dunia jika melihat program macam ini. TV seharusnya adalah ladangnya kreativitas, bukan ladang pembajakan hasil karya orang lain.
Belakangan, kesuksesan On The Spot kemudian diikuti program sejenis bernama Hot Spot. Bedanya ini ditayangkan Global TV di siang hari. Ini biasa dalam industri tv yang sangat kejam kompetisinya. Sebuah program bakal ditiru habis oleh pesaingnya. Kadang kalau beruntung bisa mencuri rating-share. Tapi jika apes, capcai deh….
Print Artikel Ini





On the spot memang tidak layak tayang, misal penyebutan jumlah penduduk kota New York dalam 7 kota terpadat di dunia, enam ribu juta, harusnya enam juta. Penyebutan yang salah seharusnya tidak terjadi karena bukan pitu rogram live.
Kira-kira sebulan lalu ada tayangan di on the spot yaitu 7 video porno di Indonesia yang menghebohkan. Wah, wah, mau jadi apa ni Trans 7.
[Reply]
syaifuddin Reply:
May 23rd, 2011 at 9:44 PM
@alireza, sebenarnya maksud program ini bagus, memberi tayangan informasi yang menghibur. kalau saja mereka menggunakan gambar hasil liputan sendiri sy dan juga banyak pemirsa akan salut. tp berhubung ada nama youtube disitu jadi aneh, karena tampil di sepanjang acara. knp gak namanya Youtube on tv sekalian.
[Reply]
wah ternyata g2 ea mas,,,
tpy acaranya emank bagus untuk di llihat,,
[Reply]
syaifuddin Reply:
May 23rd, 2011 at 9:46 PM
@web design idea, kenapa bagus dilihat karena sudah melalui editing. tapi gambar di youtube sendiri kan memang pilihan, jadi sudah siap memanjakan mata pemirsa. sy tak tahu apa reaksi Google jika tau youtube digunakan sebagai bahan program seperti ini.
[Reply]
Memang terkadang sisi advertising harus bertolak belakang dengan sisi kode etis, mungkin apa yang dilakukan Trans7 tersebut hampir sama dengan yang dilakukan oleh blogger-blogger kita yang membuat blog portal dimana semua tulisannya ASLI merupakan hasil copy paste dari sumber lain. Dan karena trafik pengunjungnya sangat rame sekali maka ada beberapa produsen yang rela membayar sekian juta hanya untuk memasang bannernya diblog tersebut. Sungguh miris memang, tapi itulah kenyataannya. Menurut saya sih selama dari TOS YouTube tidak ada mengatur kebijakan mengenai penggunaan sumber video mereka itu bukanlah sebuah masalah, toh sumber video tersebut tetap ditampilkan dalam bentuk tulisan Courtesy of YouTube. Yang saya tahu sih hanya sebatas itu saja, mungkin diantara teman-teman ada yang lebih paham bisa saling share disini. Trims…
[Reply]
Mas dalam pembuatan acara itu susah.jadi hargai jerih payah mereka,
saya kasih tau mas ini program hiburan jadi klo mas merasa ga terhibur ga usah di tonton aja,kan cenel tv swasta indonesia masih banyak,
kata almarhum gusdur gitu aja kok repot.
tapi klo sekedar ngasih info saya ucapkan terimakasih.
[Reply]
Mas, ya menghargai dikit la sama trans 7 kan dia udah berusaha menyampaikan hal yang menarik untuk pemirsa.dan kan itu malah menaikkan pamor orang yang ditampilkan jika tayangannya berupa oran orang yang unik
[Reply]