Bagi orang yang tinggal di Bekasi sebutan kota terkotor merupakan hal yang biasa saja bahkan mungkin mereka tidak terpengaruh dengan “gelar” tersebut.Banyak warga Bekasi yang memang boleh dikatakan sudah tidak peduli lagi dengan gelar kota Terbersih maupun kota Terkotor.
Sebagai salah satu warga Bekasi saya merasakan sendiri dalam kehidupan sehari - hari.Salah satu contoh yang paling konkret adalah ketika kita mengendarai kendaraan kita di jalan raya maupun di jalan - jalan sekitar kompleks perumahan di Bekasi.
Sangat terasa sekali kesemrawutan maupun kesumpekan.Para pengendara motor khususnya sudah tidak mempedulikan lagi rambu - rambu lalu lintas yang ada di jalan.Lampu merah sebagai tanda berhenti sudah tidak mereka pedulikan.
Tidak ada tenggang rasa dalam berkendara.Saling serobot sudah menjadi hal yang biasa, mengerikan rasanya melihat anak - anak sekolah yang sedang bersepeda.Saya khawatir sekali jika anak - anak tersebut akan terserempet oleh para pengendara yang ugal - ugalan.
Kesemrawutan itu terjadi karena Pemerintah kota Bekasi memang tidak pernah serius dalam menata kotanya.Saya menyesalkan banyaknya mini market yang tumbuh bertebaran di setiap sudut kota.Seharusnya Pemkot harus banyak menyediakan Ruang Terbuka Hijau.
Sebagai daerah penyangga Ibukota pertumbuhan kota Bekasi memang sangat cepat.Hal ini dapat dilihat dengan banyak berdirinya komplek perumahan baru setiap tahun.Dengan demikian pertumbuhan penduduk di kota Bekasi memang sangat cepat di banding kota - kota lain.
Walikota Bekasi Rahmat Efendi seharusnya dapat mencontoh kebijakan Walikota Solo Joko Widodo yang berani melarang berdirinya mini market - mini market baru di kota yang dipimpinnya.Jika kebijakan ini dapat diterapkan di Bekasi Insya ALLOH kemacetan dan kesemrawutan akan berkurang.
Mayoritas warga Bekasi adalah orang - orang yang bekerja di Jakarta sehingga banyak dari mereka adalah pendatang dari luar kota dan bagi mereka Bekasi adalah “tempat tidur” atau tempat “melepas rasa lelah” setelah seharian bergelut dengan kemacetan dan pekerjaan.
Saya juga menyoroti rendahnya mental aparat pemerintah kota Bekasi dalam menjalankan tugas dan kewajibannya.Hal ini dapat saya rasakan ketika saya berkunjung ke kantor - kantor pemerintahan kota Bekasi.Semoga Bekasi dapat naik tingkat menjadi Kota “Sedikit Bersih” di kemudian hari.Aamiin.
GIYAT YUNIANTO
www.giyatyunianto17.blogspot.com




Wah kritikannya sangat membangun nih, ayo terus laporkan kondisi update di Bekasi melalui beblog mas!
Semoga pemkot bekasi bisa lebih mendengarkan keluhan warga karena fakta dilapangan yang dilaporkan warganya sendiri…
Salam kenal mas,
yulyanto
[Reply]
Giyat Yunianto Reply:
August 8th, 2012 at 2:07 PM
@yulyanto, sama-sama mas…sebagai warga bekasi kita semua merindukan bekasi menjadi kota yang MANUSIAWI…
salam kenal mas…
giyat yunianto
[Reply]
Semoga Kota Bekasi menjadi lebih baik lagi
Semuanya dimulai dari diri kita masing-masing
[Reply]
Giyat Yunianto Reply:
August 15th, 2012 at 9:26 AM
@Ruang Musik Planners, Setuju Mas dan Pemkot Bekasi WAJIB memulainya t
[Reply]
Inilah akibat dari perubahan pemahaman dari Tata Ruang menjadi Tatar Uang. Rencana Tata Ruang yang sudah disusun oleh ahli perencana bakal diobrak-abrik sebelum di Perdakan, salah satunya karena kekuatan uang dari para investor yang membayar tinggi agar mereka mendapatkan keuntungan dari Perda tata ruang. Sungguh Ironis, ekonomi semakin maju, lingkungan semakin tidak sehat.
[Reply]
Giyat Yunianto Reply:
August 15th, 2012 at 9:31 AM
@Dokter Kota, Setuju Pak Dokter..seandainya saja Pemkot Bekasi mau mencontoh Pak Jokowi yang dengan tegas melarang atau membatasi berdirinya supermarket atau hypermarket dan perumahan baru ..insya ALLOH kota bekasi akan lebih sedikit manusiawi…salam kenal Pak dokter…..
[Reply]