Awakening the Giant
Sosial-Budaya Thursday, January 21st, 2010 964 views
Print Artikel Ini
HARI Rabu tanggal 20/01/2010, pukul 10.00 WIB merupakan hari yang sangat special bagi saya. Bukan karena paduan angka 20.01.2010.10.00, yang konon menurut feng shui merupakan paduan angka yang hokie. Tapi, karena saya diundang untuk menghadiri sebuah diskusi inspiratif yang diselenggarakan oleh Jababeka Multi Cultural Center (JMCC) dan Indonesia Movieland di Kawasan Industri Jababeka.
Diskusi ini digagas oleh Kang Moon untuk membahas sebuah cita-cita besar mengangkat brand Bekasi ke kancah peradaban budaya yang lebih luas. Idealisme besar itu adalah mengejawantahkan ide kreatif dalam novel ke bentuk audio visual (film). Kalau Bangka Belitung punya “Laskar Pelangi”, kenapa tidak, Bekasi pun punya karya yang bisa mengangkat harkat dan martabat komunitas yang ada di dalamnya.
Diskusi terbatas ini semakin menarik dengan kehadiran seorang budayawan ternama, Eka Budianta, yang banyak memberikan provokasi gagasan yang inspiratif untuk lebih mengelaborasi berbagai issue yang sensitive sekalipun. Diskusi semakin hangat dengan kehadiran seorang wanita bernama Clara Shinta. Cara bicara dan bahasa tubuhnya mengambarkan sosok perempuan yang mandiri, cerdas dan juga penuh percaya diri. Clara adalah putri almarhum Rendra, sekaligus juga berprofesi sebagai Public Relation Indonesia Movieland. Sosok wanita modern yang sangat bertolak belakang dengan tokoh utama dalam novel yang dibahas hari itu.
Mahligai Cinta dan Cita
Focus of interest lebih banyak membahas bagaimana menterjemaahkan novel “Mahligai Cinta Firdaus” ke dalam versi film. Novel yang ditulis oleh Moon el-Faqir (nama lain dari Munawar Fuad), bercerita tentang setting sosial Bekasi tahun 1970 an sampai kini, di mana industrialisasi mulai mengubah eksistensi masyarakat tradisional bertemu dengan sebuah tatanan masyarakat baru yang dikenal dengan masyarakat urban.
Novel setebal 342 halaman ini, berkisah tentang seorang gadis lugu dari Kampung Babakan Cibarusah yang bercita-cita menjadi seorang guru, bernama Noor Najmy Laila. Cibarusah adalah sebuah desa miskin (entah sekarang) yang berada di ujung Kabupaten Bekasi, berbatasan dengan daerah Jonggol, Kabupaten Bogor.
Dalam usia yang sangat muda, Najmy dinikahkan dengan seorang ustadz. Pernikahan yang sangat lazim di kampung bila ada gadis yang mulai berangkat remaja. Bagi penduduk miskin umumnya, pernikahan diharapkan menjadi jalan keluar dari kepapaan. Najmy pun berharap pernikahannya ini menjadi jembatan untuk menggapai cita-citanya sebagai guru. Tidak lah mudah bagi seorang perempuan desa mempunyai cita-cita di tengah dominasi ”kelelakian” dan jerat kemiskinan. Sekedar bercita-cita menjadi guru adalah sebuah khayalan yang teramat mahal bagi Najmy saat itu.
Najmy pun kemudian berjuang mewujudkan cita-citanya. Wal hasil berbagai cobaan tak henti-hentinya mengikis kesabaran dan ketegarannya. Hanya satu yang membuat dia bertahan yaitu mimpinya bertemu dengan Sang Rosul yang mampu membakar spirit untuk tetap istiqomah dengan cita-cita mulianya.
Jadilah Najmy menjalani takdirnya dengan kepasrahan dan hati yang selalu tersenyum. Jalinan kisah pergulatan Najmy kemudian bertaut dengan kondisi kekinian Bekasi. Ketika industrialisasi mulai mengusik eksistensi masyarakat pribumi (penduduk awal). Konsep megapolitan, meleburnya identitas, bertemunya manusia lintas kultur dan bahasa, teknologisasi atas tubuh serta gaya hidup, itu semua merupakan titik kulminasi dari perjuangan Najmy menggapai cita-citanya sebagai guru.
Inilah kisah nyata keteguhan seorang gadis lugu dari Kampung Cibarusah, yang harus menghadapi penetrasi budaya patriakhal dan situasi sosial politik yang intimidatif, seperti pemaksaan program KB. Bahkan Najmy berani mengatakan dengan lantang ”haram hukumnya bila saya mati masih ada spiral tertinggal di rahimku”. Mungkin kalimat yang tidak terlalu heroik saat ini, tapi di era Orde Baru yang otoritarian bisa dikategorikan ”pembangkangan besar” yang bisa menyulitkan, bahkan masuk penjara.
Dia sendirian menghadapi badai ujian itu. Hanya satu kata LAWAN, kira-kira begitulah Najmy berkata-kata, seperti layaknya para mahasiswa yang gemar berdemo.
Awakening the Giant
Membaca dari halaman awal sampai akhir novel made in orang Bekasi asli ini dan membahasnya dengan para tokoh terkemuka lintas bidang ilmu dan profesi merupakan peristiwa yang sangat langka bagi saya. Sebagai orang yang jarang bersentuhan dan kering dengan nilai-nilai sastra, diskusi di JMCC menjadi sebuah petualangan intelektual yang tidak akan pernah terlupakan. Mungkin ini lah misteri di balik angka 20-01-2010-10, yang akhirnya mempertemukan saya dengan Clara budayawan Eka Budianta yang saya kagumi.
Jam 1 tepat, diskusi ditutup dengan sebuah kesimpulan bahwa Bekasi harus punya kebanggaan dengan melahirkan sebuah karya sineas yang unggul, seperti film ”Ayat-ayat Cinta” yang banyak bicara soal Mesir, film ”King” dan film ”Garuda di Dadaku”, dll. Semua film tersebut telah melahirkan kebanggaan terhadap lokasi di mana film tersebut dibuat. Berbagai langkah telah disepakati untuk mewujudkan idealisme besar ini berwujud dalam balutan realisme.
Semoga dari Indonesia Movieland Jababeka lahir karya sineas unggulan, bukan sinetron bergaya punjabisme yang miskin nilai, miskin inovasi dan miskin moral sekaligus miskin panutan
Namun terbersit sebuah bayang-bayang yang akan menghadang obsesi ini persis seperti kisah Najmy dalam novelnya Kang Moon. Gurita kapitalisme dalam bidang perfilman Indonesia jauh lebih dahsyat dibandingkan guritanya Goerge Aditjondro. Sebenarnya, ide kapitalisme membuka ruang muculnya berbagai alternatif dengan melandaskan pada kebebasan individu.
Tapi kapitalisme melayu justru melahirkan monopoli karena dominasi suatu kelompok tertentu dan menutup akses pihak lain. Dominasi terhadap resourcess ekonomi, bahkan politik hanya dikendalikan satu kelompok yang dekat dengan kekuasaan. Raksasa yang tengah lelap tidur ini harus dibangunkan untuk melawan kapitalisme monolitik ala Melayu atau dalam bahasa Inggrisnya ”Awakening the Giant”, seperti judul buku yang sedang saya baca.
Apa itu ”the giant” ? Saya mendefinisikan sendiri sebagai idealisme (dengan nilai-nilai besar) sebagai sebuah entitas budaya, politik dan ekonomi yang bercirikan nasionalisme yang kental. Semoga idealisme ini mampu mendobrak berbagai kesulitan yang akan menghadang, seperti kisah Najmy yang berhasil meraih cita-citanya sebagai guru. (21/01/2010)
Semoga, Doa dan Ihktiar senantiasa menjadi sahabat dalam berjuang
Salam BeBlog
Artikel ini juga diposting disini
Print Artikel Ini





[...] This post was mentioned on Twitter by bloggerbekasi, bloggerbekasi. bloggerbekasi said: [Bloggerbekasi.Com] Awakening the Giant: HARI Rabu tanggal 20/01/2010, pukul 10.00 WIB merupakan hari yang sangat … http://bit.ly/4yt8hk [...]
Setuju dengan kesimpulan bahwa Bekasi harus punya kebanggaan. Mudah-mudahan blogger Bekasi bisa mendorong munculnya kebanggaan-kebanggaan itu.
Next time ajak2 donk kalau ada acara2 diskusi kayak ginian.
[Reply]
ok pa ketua…..kapan2 kalau ada lagi saya kontak….kemaren itu konfirm baru jam 8 an. jadi agak terburu-buru menyiapkan bahan, gak sempat calling-callingan
[Reply]
mantaf kang Harun…..karya, ide dan kreativitas menjadi hal penting agar sebagai manusia kita bisa menjadi yang terbaik…
salam buat Kang Munawar Fuad ya…..
[Reply]
Menarik sekali jalan ceritanya, apalagi mengangkat orang bekasi asli:-) kapan muncul dilayar lebar mas??….BEBLOG mesti nonton bareng kayaknya:-)
Thanks atas sinopsisnya ya mas!
[Reply]