Home » Artikel, Sosial-Budaya » Tukang “ngenet”

Tukang “ngenet”

“Waduh…makanan di depan mata kok engga pada dimakan malah dicuekin asik pada “ngenet” ya??” tanyaku pada teman-teman di kantin pada saat jam makan siang.

“Nanggung lagi asik nich” jawab teman yang duduk disebelah kiriku.

“Apa pada engga kasian ama cacing di dalam perut yang udah menari-nari kelaparan minta makan. Stop dulu “ngenet“-nya dilanjutin sehabis makan dan sholat. Tuh waktu istirahat tinggal 20 menit lagi.”

Karena terbatasnya waktu istirahat makan siang, teman-teman pada ngebut menghabiskan makan siangnya dan dilanjutkan sholat, itu pun kadang-kadang masih juga sambil asik ngenet. Fenomena “gila ngenet” sekarang ini semakin menjamur di semua kalangan masyarakat. Mulai dari anak-anak, tua-muda, miskin-kaya, janda-duda dan banci atau waria. Akses internet sekarang yang mudah, murah dan terjangkau menjadi pilihan semua kalangan masyarakat untuk menjelajahi dunia maya, apalagi sekarang bisa diakses mulai telepon selular.

Mulai dari si Otong yang suka nulis status dan kasih jempol di jejaring sosial seperti Facebook, belum lagi jejaring sosial lainnya seperti Twitter, Plurk, Koprol dan lain sebagainya. Ada juga Santi yang tiap hari “poskamlink” (posting, komentar dan tukeran link) di blog diarynya. Tak kalah lagi tua-tua keladi Pak Asep yang chatting wara-wiri kemana aja, asalkan dapat kenalan baru hati senang.

Boleh-boleh saja semua tergila-gila yang namanya “ngenet“, terserah saja sampai pulsa habis atau sampai batere handphone meledak sekalian. Dunia maya memang bisa membuat kita berselancar jauh dan bahkan bisa sangat jauh mengalahkan peselancar-peselancar profesional sekalipun. Walaupun sangat bebas dalam mengakses internet, usahakan kita memahami kekurangan dan kelebihan dalam melakukan kegiatan di dunia maya. Pahami segala resiko dan bahaya-bahaya yang terjadi, usahakan mematuhi etika-etika dalam berinternet. Seperti dalam peribahasa ini : “Buang sampah tinggal intinya“, yang artinya yang baik kita pakai (tiru) dan yang buruk kita buang (tinggalkan).

“Mari kita budayakan berinternet sehat, hargai hak cipta sumber tulisan/karya, boleh tiru tapi bukan jiplak.”

salam,

hernawan

(bukan koruptor, bukan penjahat dan bukan pencopet)

Print Artikel Ini Print Artikel Ini
Posted by herw chokichim on May 3 2010. Filed under Artikel, Sosial-Budaya. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

1 Comment for “Tukang “ngenet””

  1. Tweets that mention Bloggerbekasi.Com] Tukang “ngenet”: “Waduh…makanan di depan mata kok engga pada dimakan malah dicuekin asik pada... -- Topsy.com

    [...] This post was mentioned on Twitter by bloggerbekasi, bloggerbekasi. bloggerbekasi said: [Bloggerbekasi.Com] Tukang “ngenet”: “Waduh…makanan di depan mata kok engga pada dimakan malah dicuekin asik pada… http://bit.ly/aS8oXe [...]

Leave a Reply

Amprokan Blogger | Temu Blogger Nusantara


Amprokan Blogger

Sponsor

images-1

---

Member Be-Blog

Sudahkah Anda menjadi bagian dari Be-Blog?

Siapa saja yang sudah terdaftar?

Login

Login Anggota
Lost Password?

Shoutbox


Loading

WP Shoutbox
Name
Website
Message
Smile
:mrgreen::neutral::twisted::arrow::shock::smile::???::cool::evil::grin::idea::oops::razz::roll::wink::cry::eek::lol::mad::sad:8-)8-O:-(:-):-?:-D:-P:-o:-x:-|;-)8)8O:(:):?:D:P:o:x:|;):!::?:



Gabung di Milis Blogger Bekasi

Powered by Yahoo Groups

© 2010 Komunitas Blogger Bekasi. All Rights Reserved. Log in

Switch to our mobile site

- Designed by Gabfire Themes